Day 10 Harapan di akhir Ramadhan
Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.
Harapan di akhir Ramadhan…
Bagaimana jika aku menggantinya dengan sebuah pernyataan.
Jika ini Ramadhan terakhirku…. Boleh kaan?
Jika ini Ramadhan terakhirku,
aku akan menjalani setiap detiknya dengan perlahan.
Aku akan menyambutnya bukan hanya dengan jadwal ibadah yang rapi atau catatan target amalan.
Tapi dengan hati yang lebih tenang,
seolah setiap embusan angin subuh adalah bisikan terakhir dari langit yang menuntunku pulang.
Di setiap sujudku, aku akan menangis sedikit lebih lama.
Bukan karena takut, tapi karena aku akhirnya benar-benar menyadari betapa sering aku menjadikan dunia sebagai rumah abadi, padahal semuanya hanya sebuah persinggahan yang fana.
Selama ini aku terlalu mengejar banyak hal, mimpi, pekerjaan, bahkan pengakuan namun lupa,
bahwa waktu tak pernah kembali dan tergantikan perjalanannya.
Aku akan memeluk bapak ibu, juga anakku.
Akan ku katakan “Terima kasih sudah mencintai ku.”
Aku akan lebih banyak meminta maaf dan restu.
Pada saudara yang pernah tersinggung ucapan kecilku,
pada sahabat yang jarang kuhubungi, juga pada diriku sendiri karena terlalu keras, menghakimi, dan memaksa tanpa peduli saat sehatku.
Jika ini Ramadhan terakhirku,
aku ingin hati yang pergi tanpa beban dendam, dan tanpa luka yang dibiarkan pilu.
Pada malam-malam sunyi, aku akan mengulang doa yang dulu sempat tertahan: doa untuk ketenangan, ampunan, dan kemampuan memaafkan masa lalu.
Aku ingin merasakan Lailatul Qadar bukan hanya sebagai cerita, tapi sebagai keheningan yang menyentuh tulang, menggetarkan jiwa, dan membuatku mengerti bahwa malam yang paling sunyi pun mengandung cahaya yang menerangi jalanku.
Aku akan memohon ampunan padaNya atas permintaan yang beribu-ribu padahal sujudku terburu-buru.
Jika ini Ramadhan terakhirku,
aku akan berhenti berlomba dengan hal yang tidak penting dalam hidup sebagai manusia yang banyak dosa.
Aku tak ingin menjadi yang paling kaya, paling dipuji, atau paling sempurna.
Aku hanya ingin menjadi hamba yang pulang dengan hati yang bersih dan nama yang dicintai oleh langit dan para penghuni Surga.
Tapi siapa saya ?
Ketika adzan Maghrib di hari terakhir berkumandang,
aku ingin menatap langit yang memerah seperti hati yang sedang pulang.
Aku ingin tersenyum, bukan karena aku pasti disambut surga, tapi karena aku telah mencoba ikhlas menerima semua dengan hati yang lapang.
Aku telah belajar mencintai takdir hidup tanpa lupa bahwa dalam perjalanannya terkadang kelam.
Aku telah menanam doa di malam-malam sunyi dan membiarkan air mata menjadi saksi ketulusanku dalam sujud yang panjang.
Jika ini Ramadhan terakhirku,
aku ingin meninggalkan dunia dengan hati yang damai, dengan wajah yang bersujud, dan dengan nama yang disebut lembut dalam doa orang-orang yang kucinta.
Namun, jika Allah masih memberiku satu Ramadhan lagi, aku ingin menggunakannya sebaik hari-hari terakhir yang kubayangkan dengan bahagia.
Kulengkapi tulisanku kali ini dengan potongan lirik lagu Selamat Jalan Ramadhan dari DNA Adhitya.
……..
dihatiku, terpatri rindu yang belum terpenuhi
gundah gulana perpisahan,
mengadu padamu Ya Robbi jangan akhiri
di hatiku tak ingin ini ramadhan terakhirku
meronta jiwa penuh harap
menangis padamu Ya Robbi jangan akhiri
selamat jalan ramadhan tersayang
semoga jumpa lagi tahun depan
Ya Allah terima ibadahku di bulan suci
ramadhan
selamat jalan ramadhan
semoga jumpa lagi tahun depan
Ya Allah panjangkan usia untukku bertemu
dengan ramadhan
……….
Surakarta, 2 Maret 2026
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day10


Tidak ada komentar:
Posting Komentar