Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 6


Chapter FEBRUARI 

“Enak ya jadi kamu?” 

Kata seorang teman yang melihat kondisiku sekarang. Biasanya aku menanggapinya dengan tersenyum simpul.

“Yaa, kamu kan nggak perlu tahu cerita berdarah-darah yang kualami sebelum aku mendapatkan ini semua” imbuh batinku. 

Aku juga enggan menceritakan detailnya, cukup aku dan Allah saja yang tahu bagaimana perjuanganku hingga detik ini.

Nangis, marah, kesal dengan keadaan, bahkan menggugat Tuhan, sudah menjadi hobiku sehari-hari sebelum ku dapatkan ini semua. Astaghfirullah, ampuni hamba-Mu, Yaa Rabb.

Aku mempertanyakan mengapa harus aku yang mengalami masalah bertubi dalam hidup sepanjang tahun itu. Tahun 2018, kehilangan buah hati, mendapatkan fitnah yang keji, hingga aku harus berada di suatu tempat yang tak ingin lagi aku kunjungi, yaitu pengadilan agama. Yaa, aku adalah seorang janda yang cerai hidup dengan suaminya. Nanti jika memungkinkan, aku juga akan menceritakannya. Aku tidak pernah tahu, ternyata di balik semua peristiwa pahit itu, begitu mudahnya Allah membolak balikkan keadaan. Dari aku yang mengalami titik terendah dalam hidup, Allah memberiku kenikmatan luar biasa sekarang.

Mendapatkan pekerjaan yang mapan, dikelilingi orang-orang baik dan pengertian, serta hati yang bahagia dan tenang. Kini aku bisa kembali tersenyum melalui bilangan hari-hariku. Menikmati semuanya. Bersyukur dengan apa yang telah aku punya. Alhamdulillah,, terimakasih Yaa Allah,, Nggak lagi-lagi deh, marah kepada-Mu, aku takut sebelum aku memohon ampun, Engkau sudah mencabut nyawaku. Nauzubillah min dzalik.

Namun, hidup jika tidak ada yang julid rasanya kurang sempurna, ya. 😀

Apakah dengan kenikmatan yang kudapatkan sekarang, semua orang akan suka padaku ? tentu tidak, bukan mencari dosa dengan menceritakan “netizen julid” itu, aku hanya menceritakan dari sudut pandangku.

Aku adalah ibu pekerja yang “ngantor” di luar kota. Karena penempatan kerja bukan di homebase jadi sementara ini aku masih ngekos di sekitar kantor. Mengingat sesuatu tentang tempat kerja ada kaitannya dengan omongan tetangga. Eh, kenapa begitu yaa, hihii. Sebentar aku mau mengolah kata dulu supaya enak dibaca.

Bekerja di luar kota tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berjarak sekitar 80 kilometer dari rumah memaksaku menjadi pejuang PJKA alias Pulang Jum’at Kembali Ahad karena anak ikut Bapak Ibu di kampung. Aku belum bisa membawanya ke kota tempat aku bekerja karena banyak hal. Emm,, tapi ada gosip lucu sih mengenai kenapa aku bisa kerja di Solo. Ada yang bilang aku dibawa orang dalam. Karena Bapak adalah tokoh agama dan masyarakat di kampung jadi koneksinya banyak. Tapi, nggak sampai Solo juga kali. Aku ikut test murni loh, seleksi ketat dua kali. Semua tes sekarang computerized dan sulit ditemui kecurangan. Jadi, ya agak gimana gitu ketika aku mendengar kabar katanya aku masuk Solo karena punya kenalan. Nyesek tentunya.

Jadi, gini yaa, kalau memang aku mau dapat pekerjaan mapan dengan koneksi orang dalam ngapain aku jauh-jauh penempatan di Solo, mending di kampung halamanku saja. Kantor DPUPRnya hanya berjarak sepelemparan batu dari rumah. Kalau memang aku mau dan punya banyak uang untuk berbuat curang sekalian aku penempatan di kota sendiri, masih bisa disambi momong bocah, nggak LDR-an kaya sekarang.

Ah, tapi namanya netizen julid (eh…) kalau nggak suka ya tetap aja nyinyir keluar dari mulutnya. Suka menyangka yang tidak-tidak. Biarlah, aku digosipin kaya gimana, terserah. I don’t care anymore 😀 . Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita kaan. 

Jadi, Senyumin aja lah yaa. ^_^


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...