Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 4


Hari apes memang tidak pernah ada di kalender. Semua terjadi begitu saja tanpa ada yang menyangka dan menduga. Pagi itu, 5 Februari 2024, hari yang seharusnya aku gunakan untuk bekerja sebelum aku mengambil cuti tahunan di pekan berikutnya, berubah menjadi berita duka. Anak laki-lakiku menelepon sambil menangis tersedu. 

“Buk, banjir.” begitu katanya. 

Kubuka mata dan mendapati gambar bahwa keadaan rumah orang tuaku sudah porak poranda. Hari itu sebelum Subuh tiba, banjir bandang menerjang kampung halamanku, tempat dimana aku menghabiskan masa kecilku hingga berkeluarga.

Langsung aku menghubungi teman-teman kantorku untuk meng-handle pekerjaanku untuk sementara. Aku juga izin pulang saat itu juga tanpa menunggu waktu cuti tiba. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah segera sampai rumah, karena rumah orang tuaku berada di titik pusat bencana. Cemas, panik, bingung, tak tahu harus mulai darimana untuk melukiskan perasaanku saat itu. Aku hanya ingin pulang, itu saja. Banjir bandang yang masuk ke dalam rumah hingga 1 meter ini membuatku semakin bingung karena di rumah hanya ada orang tuaku yang sudah sepuh dan anakku yang duduk di kelas 5 semester 2. Aku tidak perduli dengan surat-surat berharga yang mungkin sudah tak tersisa. Bagiku, nyawa orang-orang tercinta itu yang utama.

Perjalanan pulang yang biasanya ku tempuh dengan waktu paling lama 3 jam jadi semakin lama karena akses menuju rumah ditutup. Allaahu akbar, Turun dari bus aku naik ojek online yang kuharap bisa mengantarku sampai setidaknya dekat dengan rumahku, ternyata tidak bisa. Aku nekat jalan kaki menerjang banjir yang kufikir saat itu sudah dekat ke rumah ternyata masih sekitar 10 km. Driver ojek online yang ku tumpangi ternyata masih menungguku. Si bapak memberhentikan mobil patroli polisi yang akan menuju titik bencana dan meminta izin agar aku bisa diangkut menuju rumahku. Terimakasih bapak ojol,, terima kasih para Bapak polisi. Lemah teles, Gusti Allah ingkang mbales.

Sampai rumah, aku disambut tangis bahagia anakku, aku pun tak kuasa menahan air mataku.

“Udah nggak apa-apa. Yang penting sehat selamat semua.”

Aku menenangkannya meskipun gemuruh tak juga usai dalam dadaku. Aku mulai mengecek surat-surat berharga yang masih bisa diselamatkan. Tak lupa aku membalas pesan yang terus mengalir ke ponselku. Aku tidak mau membuat teman dan kerabatku semakin khawatir dengan keadaan kami.

Februari yang katanya bulan penuh cinta, bagiku saat itu Februari adalah bulan duka. Aku menerima segala takdir-Mu, Ya Allah. Semoga setelah bencana ini kami lebih taat dan ikhlas akan ketetapan-Mu. Aamiin.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...