Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 25

Chapter SEPTEMBER

Part 1

“Ternyata temanmu itu-itu saja.” 

“Biarlah.” 

Itu yang selalu aku jawab ketika ada teman yang komen di foto story-ku akhir-akhir ini. Bukankah semakin tua, circle pertemanan kita semakin sedikit dan sempit? Tidak banyak yang harus tahu segala tentang pribadi kita, bukan?

“Nggak ada teman lain, ya?”

Ada sih. Aku, meskipun jenis manusia introvert, punya teman banyak. Namun, di tiap kondisi tentu teman yang membersamai kita juga beda, kan? Kalau mereka yang di foto ini kenapa sering ada di story-ku, ya karena saat ini merekalah rekan kerjaku, adik-adik yang menjadi teman dekatku sejak 2023. 

Bulan Februari 2019, ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di Solo, ya mereka inilah temanku. Teman seruangan, teman semeja makan, teman guyonan, dan teman karaokean.
Beberapa bulan lalu, tepatnya ketika covid-19 merajalela dan sedang naik-naiknya, kami merasakan sakit yang sama. Bapak, mentor, dan guru kami pergi menghadap-Nya. Kami bak kehilangan arah dan panutan. Mau apalagi, bagaimana setelah ini, bingung.

Lalu apa yang kami lakukan setelah itu?

Awalnya memang berat, namun kami saling memiliki dan saling menguatkan yang akhirnya membawa kami tetap kuat dan semangat mewujudkan mimpi almarhum atasan kami.

Sehat selalu adik-adikku. (karena memang saya setua itu, paling tua maksudnya). Al Fatihah untuk Pak Nunung. Insya Allah husnul khotimah. Aamiin.

Berteman dan saling menguatkan, namun tidak semua yang ada pada diriku harus mereka ketahui. Mereka tidak tahu ada banyak huru hara dalam hari-hariku. Ada banyak lika liku yang memperdalam lukaku. Aku selalu bersikap seolah tidak ada apa-apa di depan mereka. Bagiku adalah tetap personal branding namun tetap privasi. Bebas upload dan transfer data tapi orang lain tidak bisa menebak siapa kita. Tetap tertutup untuk urusan pribadi. Biarlah orang salah menebak dan berasumsi karena hanya orang tertentu yang tahu tentang kita, bahkan teman sekalipun tidak harus tahu kita seutuhnya. ^_^

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...