Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...

My Ramadhan Story -- Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan

  Day 8 Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Hai teman pembaca, kenalkan, namaku Jihan. Ini hari kedelapan ku mencoba konsisten menulis di blog. Bercerita mengenai amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan, aku ingin mengaitkannya dengan antologi ke-17 ku yang bertema “kenangan bersama kakek dan nenek”. Aku sebenarnya tidak punya banyak hal yang harus dibagi. Karena keempat nya telah pergi menghadap Ilahi beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, ada beberapa kebiasaan baik yang beliau-beliau ajarkan kepada sepasang cintaku, yaitu bapak ibuku, dan itu diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai ilmu. Bapak lahir dari keluarga dengan pondasi agama yang kuat. Kakek dari bapak adalah kyai masjid di kampung kami. Mbah kung adalah imam sekaligus guru mengaji bagi masyarakat sekitar. Sedangkan mbah yi adalah ibu rumah tangga yang sangat lembut tutur bahasanya. Tidak pernah kasar dalam menyikapi kelakuan “ajaib” putra putrinya. Ini adalah hal ke...

My Ramadhan Story -- Menu berbuka terfavorit keluarga

  Day 7 Menu berbuka terfavorit keluarga Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ada satu momen yang selalu terasa sakral saat Ramadhan , b eberapa menit menjelang adzan maghrib. Dapur yang sejak sore berdenyut pelan, aroma bawang putih yang ditumis, suara sendok beradu dengan panci, dan hati yang diam-diam sudah membayangkan suapan pertama. Bagiku, menu favorit berbuka bukanlah yang mewah atau rumit. Ia justru sederhana, hangat, dan lengkap , nasi putih mengepul, sayur berkuah yang menenangkan, lauk protein hewani dan nabati yang seimbang, sup buah yang segar, serta kolak ketela yang manisnya seperti pelukan. Nasi selalu menjadi pusat meja makan. Butirannya yang putih dan hangat seperti memberi rasa “pulang” setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Sebagai penderita batu empedu, aku menggantinya dengan nasi merah yang sedikit “tawar” rasanya. Ada rasa syukur yang anehnya selalu muncul saat melihat uap tipis naik dari sepiring nasi. Seolah ia berkata, “Tenang, hari ini kamu sudah sampai.” Se...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

Antologi kedelapan belas -- Diary Seorang ISFP

Dear diary, Hari ini aku memulai halaman baru dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pintu masuk ke diriku, apa MBTI-mu? Mungkin aku hanya ingin tahu apakah ada yang memandang dunia dari balik kabut yang sama. Kau tahu, diary? MBTI bagiku bukan sekadar tes kepribadian. Ia seperti cermin yang menjelaskan hal-hal yang tak pernah bisa kuucapkan. Mengapa aku cepat lelah ketika harus memperlihatkan senyuman? Mengapa suara orang lain kadang terdengar seperti gema yang terlalu keras dan memekakkan? Dan mengapa dunia terasa lebih aman ketika aku diam? Aku seorang ISFP, entah kenapa, empat huruf itu selalu terasa seperti empat dinding kecil yang menyelimutiku. Tempat aku bersembunyi dari suara-suara yang tidak bisa kuhentikan dan terus menderu. Yes, introvert, kata yang sering orang anggap ringan, romantic, bahkan mungkin lucu.  Padahal di baliknya ada ruang sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah duduk terlalu lama ...

My Ramadhan Story -- Cerita Ramadhan semasa kecil

Day 5 Cerita Ramadhan semasa kecil Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan semasa kecilku selalu datang dengan cara yang sama: membangunkan kenangan, bahkan sebelum ibu membangunkanku untuk sahur , sarapan yang kepagian di Bulan Ramadhan .   Aku masih ingat betul suara sendok beradu dengan piring di dapur, samar-samar bercampur lantunan ayat suci dari toa masjid di depan rumah yang diikuti oleh suara tarhiman . Udara dini hari terasa lebih dingin dari biasanya , membuatkan sedikit enggan . Dengan mata setengah terpejam dan langkah yang masih gontai, aku duduk di meja makan, mencoba menelan nasi hangat dengan kantuk yang tert ahan. Bapak  selalu berkata, “Sahur itu bukan soal kenyang, tapi soal niat  yang tidak perlu diucapkan ” Waktu itu aku belum benar-benar paham, tapi aku mengangguk saja, merasa sudah cukup dewasa karena ikut berpuasa seharian. Setelah sahur, kami bersiap ke masjid untuk sholat Subuh berjama’ah , l angit masih gelap kebiruan. Aku berjalan di samping ibu ,...

My Ramadhan Story -- Tantangan terberat saat puasa

  Day 4 Tantangan terberat saat puasa Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Tantangan terberat saat puasa, ternyata bukan sekadar menahan lapar  dan dahaga, juga nafsu dunia yang lainnya .   Setiap tahun, ketika Ramadhan datang, orang-orang sibuk membicarakan menu sahur, resep takjil, atau jadwal tarawih , bahkan rencana buka bersama yang kadang berakhir hanya sebagai wacana :D . Seolah-olah tantangan terbesar hanyalah perut kosong dan tenggorokan kering , p adahal, yang lebih sulit sering kali justru tak terlihat  oleh mata . Bagiku, tantangan terberat saat puasa adalah menghadapi diri sendiri.   Di siang hari yang panjang, ketika energi menurun dan ritme kerja tetap menuntut untuk stabil, jujur yang paling berat adalah menahan emosi. Kita jadi lebih mudah lelah, lebih mudah tersinggung, lebih mudah ingin menyerah , dan bisa jadi mudah terprovokasi . Puasa seperti membuka lapisan-lapisan tipis yang biasanya kita tutupi dengan kesibukan dan distraksi. Saat lapar, kesabara...