Jihan Maria Ulfa
Kamar kita, 10 Desember 2014
Anakku Ghani, apa kabarmu hari ini, sayang?
Allah telah memperkenankan ibu mencapai tahapan kehidupan ini, yaitu memilikimu, Nak. Izinkan ibu hari ini mencoba mencatat sedikit renungan atas nikmat tak terbatas yang telah Allah curahkan pada kita. Semoga ini menjadi jalan bagi kita bersama untuk lebih bersyukur atas segala kebaikan yang telah Allah berikan.
Dua tahun yang lalu, kamu sukses melengkapi hidup ibu. Kamu tumbuh sehat, cerdas, dan lucu. Tangis dan kemanjaanmu di dekapan ibu jadi hiburan tersendiri bagi hati ini, Sayang. Ya, hiburan ketika babyblues datang. Tak terasa banyak bilangan hari yang kita lalui bersama. Semoga kamu jadi anak yang sholeh ya, Nak.
Anakku Ghani,
Kamu adalah anak yang istimewa. Kamu tak pernah menyulitkan ibu. Justru ibulah yang banyak belajar darimu,Nak. Belajar bagaimana membuatmu nyaman di dekat ibu, berusaha menjadi orang yang istimewa juga untukmu. Belajar lebih sabar untuk memahami ucapanmu, apalagi setelah kamu divonis speech delayed, dan harus berkali-kali menemanimu terapi wicara. Ibu yakin kamu bisa,Nak. Ibu juga yakin, di antara kekuranganmu itu, Allah pasti memberimu kelebihan yang lain.
Anakku Ghani,
Banyak kata yang tak mampu ibu ucapkan di sini. Hanya rasa terimakasih dari hati ibu yang paling dalam untukmu. Terimakasih karena kehadiranmu telah “melahirkan” ibu menjadi wanita sempurna. Terimakasih atas pelajaran cinta yang kamu lukiskan lewat pelukan dan senyumanmu yang tulus untuk ibu. Ibu akan setia menunggu hingga saat itu tiba. Saat dimana kamu secara sempurna menatapku dan memanggilku, “ibu...”
Juli 2016
Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya kamu memasuki masa pertamamu menjadi murid taman kanak-kanak. Sebagai orang tua, tentu ibu berkewajiban memberi hakmu untuk mendapat pendidikan yang layak. Selain itu, menyekolahkanmu memiliki tujuan agar kamu bisa mulai bersosialisasi dengan orang lain selain ibu dan mbah di rumah. Jangan tanya dimana partner ibu yaitu ayah. Dia sama sekali tidak peduli, apa saja perkembanganmu. Tanpa dia tahu, kamu sudah banyak belajar. Membaca, menulis, berhitung, dan mengaji. Kamu bahkan sudah lancar membaca dan menulis saat usiamu belum menginjak tahun kelima.
Juli 2019
Tiga tahun kemudian, tepat ketika kamu menjadi siswa sekolah dasar, ibu juga bertransformasi dari ibu rumah tangga menjadi ibu pekerja di luar kota. Oiya, saat itu ibu juga sudah berpisah dengan ayahmu. Maaf, karena membuatmu menjadi anak broken home tepat di usiamu yang keenam. Ibu lakukan semua itu untuk kebahagiaanmu juga. Suatu saat kamu akan mengerti mengapa ibu melakukan itu semua.
Kamu tak perlu khawatir kekurangan kasih sayang, karena ada mbah kung dan mbah yi yang siap mendidikmu menjadi anak yang sholih dan membanggakan. Dan, meski ibu tak selalu ada di sampingmu seperti sebelumnya, ibu terus belajar, serta selalu berusaha memberikan semua hal yang baik untukmu. Kamu juga tak perlu khawatir dengan ibadahmu. Masjid di depan rumah kita akan selalu mengingatkanmu untuk salat tepat waktu.
Tanggal 18 bulan Juni 2025 kemarin adalah salah satu puncak kebahagiaan ibu membersamaimu. Kamu lulus sekolah dasar dengan nilai yang baik, selain itu kamu berhasil memperjuangkan hafalan juz 30-mu dengan sempurna. Ibu tahu kamu sangat lelah, harus muroja’ah surat-surat pendek sekaligus ujian kenaikan jenjang. Tapi yakinlah,Nak, InsyaaAllah semua itu demi kebaikan dunia dan akhiratmu kelak.
Kamu tahu? Saat kamu tampil membacakan ayat-ayat suciNya di panggung kelulusan, ibu ikut deg-degan. Takut kamu salah baca, dan performamu menurun. Ibu cemas, hingga insomnia dan asam lambung ibu kambuh. Namun, kepanikan itu terbayar sudah dengan lancarnya prosesi wisuda tahfidzmu.
Saat kamu membasuh kaki ibu dan minta restu untuk menjadi hafidz, ibu tak kuasa menahan tangis. Anak yang dulu pendiam, terlambat dalam kemampuan berbicara, dan sempat menjadi korban perundungan itu membuat ibu bangga sebangga-bangganya. Anak yang tak pernah mendapat apresiasi oleh laki-laki yang harusnya mendidikmu, anak yang fatherless itu ternyata mampu menyelesaikan target hafalannya dengan sempurna.
Ghaniku, sayang,
Tahun ini, mari kita mulai lagi bersama menata hidup yang lebih bahagia. Mari kita kembali berjuang bersama menghafal kitabNya. Karena ibu yakin bahwa suara ngaji dan lafadz doa-doa darimu yang akan menerangi kubur ibu saat ibu tiada.
I love you Ghani,,
Surakarta, Juli 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar