Langsung ke konten utama

My Ramadhan Story -- Menu berbuka terfavorit keluarga

 


Day 7 Menu berbuka terfavorit keluarga

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Ada satu momen yang selalu terasa sakral saat Ramadhan, beberapa menit menjelang adzan maghrib. Dapur yang sejak sore berdenyut pelan, aroma bawang putih yang ditumis, suara sendok beradu dengan panci, dan hati yang diam-diam sudah membayangkan suapan pertama. Bagiku, menu favorit berbuka bukanlah yang mewah atau rumit. Ia justru sederhana, hangat, dan lengkap, nasi putih mengepul, sayur berkuah yang menenangkan, lauk protein hewani dan nabati yang seimbang, sup buah yang segar, serta kolak ketela yang manisnya seperti pelukan.

Nasi selalu menjadi pusat meja makan. Butirannya yang putih dan hangat seperti memberi rasa “pulang” setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Sebagai penderita batu empedu, aku menggantinya dengan nasi merah yang sedikit “tawar” rasanya. Ada rasa syukur yang anehnya selalu muncul saat melihat uap tipis naik dari sepiring nasi. Seolah ia berkata, “Tenang, hari ini kamu sudah sampai.” Setelah seharian tubuh berpuasa, karbohidrat dari nasi membantu mengembalikan energi secara perlahan. Tidak berlebihan, tidak juga kurang. Cukup untuk membuat tubuh kembali kuat menjalani ibadah malam.

Di samping nasi, selalu ada sayur berkuah. Entah itu sayur bening bayam dengan jagung manis, atau sayur asem dengan kuah yang segar sedikit asam. Terkadang ibu juga memasak sop sayur atau tumisan namun tetap ada kuahnya. Kuah hangat yang menyentuh lidah setelah azan maghrib terdengar adalah sensasi yang sulit digantikan. Rasanya seperti menyiramkan ketenangan ke dalam tubuh. Sayur berkuah bukan sekadar pelengkap, ia adalah penyeimbang. Ada serat, vitamin, dan cairan yang membantu tubuh terhidrasi kembali setelah seharian berpuasa. Hangatnya kuah juga membuat perut yang kosong tidak “kaget” menerima makanan.

Lalu hadir protein hewani dan nabati sebagai pasangan yang saling melengkapi. Lauk sederhana seperti ayam bakar, ikan goreng, atau telur dadar selalu berhasil membangkitkan selera. Protein hewani membantu memperbaiki dan menjaga massa otot, apalagi setelah tubuh seharian beraktivitas. Namun di meja makan kami, protein nabati tak pernah absen. Tahu dan tempe, yang mungkin terlihat biasa, justru menjadi bintang dengan caranya sendiri. Tempe goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, atau tahu yang dimasak dengan sedikit kecap dan bawang, menghadirkan rasa yang akrab. Ada keseimbangan di sana, antara hewani dan nabati, antara gurih dan sederhana.

Setelah makanan utama, semangkuk sup buah selalu menjadi penyegar. Potongan semangka, melon, pepaya, dan sedikit nata de coco berpadu dengan sirup dan air dingin serta susu. Warnanya cerah, rasanya ringan. Sup buah seperti jeda manis setelah makanan hangat. Ia membantu mengganti cairan tubuh dan memberikan tambahan vitamin dari buah-buahan segar. Ada sensasi bahagia yang sederhana saat sendok menyentuh potongan buah yang dingin di tenggorokan yang sejak subuh kering.

Dan tentu saja, kolak ketela. Hidangan klasik yang hampir selalu ada di bulan Ramadhan. Potongan ketela yang empuk, dimasak dalam kuah santan dan gula merah yang harum, menghadirkan rasa manis yang menenangkan. Manisnya bukan sekadar rasa di lidah, tetapi juga rasa di hati. Kolak ketela mengingatkanku pada masa kecil, pada momen berbuka bersama keluarga besar, pada tawa dan cerita yang bersahutan di meja makan. Ada nostalgia di setiap sendoknya.

Menu favorit berbuka ini bukan tentang kemewahan. Ia tentang keseimbangan dan kehangatan. Tentang tubuh yang kembali bertenaga, tentang hati yang merasa cukup, dan tentang kebersamaan yang mengisi ruang makan dengan doa-doa sederhana. Di antara nasi, sayur berkuah, lauk protein, sup buah, dan kolak ketela, terselip rasa syukur yang tak selalu terucap. Bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berpuasa, berbuka, dan merasakan nikmat yang mungkin sering kita anggap biasa.

Dan aku tahu, justru dalam kesederhanaan itulah letak keistimewaannya.

Gambar : menu makan sebelum Ramadhan, terlihat segar yaa….

Surakarta, 27 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...