Kamis, 26 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Menu berbuka terfavorit keluarga

 


Day 7 Menu berbuka terfavorit keluarga

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Ada satu momen yang selalu terasa sakral saat Ramadhan, beberapa menit menjelang adzan maghrib. Dapur yang sejak sore berdenyut pelan, aroma bawang putih yang ditumis, suara sendok beradu dengan panci, dan hati yang diam-diam sudah membayangkan suapan pertama. Bagiku, menu favorit berbuka bukanlah yang mewah atau rumit. Ia justru sederhana, hangat, dan lengkap, nasi putih mengepul, sayur berkuah yang menenangkan, lauk protein hewani dan nabati yang seimbang, sup buah yang segar, serta kolak ketela yang manisnya seperti pelukan.

Nasi selalu menjadi pusat meja makan. Butirannya yang putih dan hangat seperti memberi rasa “pulang” setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Sebagai penderita batu empedu, aku menggantinya dengan nasi merah yang sedikit “tawar” rasanya. Ada rasa syukur yang anehnya selalu muncul saat melihat uap tipis naik dari sepiring nasi. Seolah ia berkata, “Tenang, hari ini kamu sudah sampai.” Setelah seharian tubuh berpuasa, karbohidrat dari nasi membantu mengembalikan energi secara perlahan. Tidak berlebihan, tidak juga kurang. Cukup untuk membuat tubuh kembali kuat menjalani ibadah malam.

Di samping nasi, selalu ada sayur berkuah. Entah itu sayur bening bayam dengan jagung manis, atau sayur asem dengan kuah yang segar sedikit asam. Terkadang ibu juga memasak sop sayur atau tumisan namun tetap ada kuahnya. Kuah hangat yang menyentuh lidah setelah azan maghrib terdengar adalah sensasi yang sulit digantikan. Rasanya seperti menyiramkan ketenangan ke dalam tubuh. Sayur berkuah bukan sekadar pelengkap, ia adalah penyeimbang. Ada serat, vitamin, dan cairan yang membantu tubuh terhidrasi kembali setelah seharian berpuasa. Hangatnya kuah juga membuat perut yang kosong tidak “kaget” menerima makanan.

Lalu hadir protein hewani dan nabati sebagai pasangan yang saling melengkapi. Lauk sederhana seperti ayam bakar, ikan goreng, atau telur dadar selalu berhasil membangkitkan selera. Protein hewani membantu memperbaiki dan menjaga massa otot, apalagi setelah tubuh seharian beraktivitas. Namun di meja makan kami, protein nabati tak pernah absen. Tahu dan tempe, yang mungkin terlihat biasa, justru menjadi bintang dengan caranya sendiri. Tempe goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, atau tahu yang dimasak dengan sedikit kecap dan bawang, menghadirkan rasa yang akrab. Ada keseimbangan di sana, antara hewani dan nabati, antara gurih dan sederhana.

Setelah makanan utama, semangkuk sup buah selalu menjadi penyegar. Potongan semangka, melon, pepaya, dan sedikit nata de coco berpadu dengan sirup dan air dingin serta susu. Warnanya cerah, rasanya ringan. Sup buah seperti jeda manis setelah makanan hangat. Ia membantu mengganti cairan tubuh dan memberikan tambahan vitamin dari buah-buahan segar. Ada sensasi bahagia yang sederhana saat sendok menyentuh potongan buah yang dingin di tenggorokan yang sejak subuh kering.

Dan tentu saja, kolak ketela. Hidangan klasik yang hampir selalu ada di bulan Ramadhan. Potongan ketela yang empuk, dimasak dalam kuah santan dan gula merah yang harum, menghadirkan rasa manis yang menenangkan. Manisnya bukan sekadar rasa di lidah, tetapi juga rasa di hati. Kolak ketela mengingatkanku pada masa kecil, pada momen berbuka bersama keluarga besar, pada tawa dan cerita yang bersahutan di meja makan. Ada nostalgia di setiap sendoknya.

Menu favorit berbuka ini bukan tentang kemewahan. Ia tentang keseimbangan dan kehangatan. Tentang tubuh yang kembali bertenaga, tentang hati yang merasa cukup, dan tentang kebersamaan yang mengisi ruang makan dengan doa-doa sederhana. Di antara nasi, sayur berkuah, lauk protein, sup buah, dan kolak ketela, terselip rasa syukur yang tak selalu terucap. Bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berpuasa, berbuka, dan merasakan nikmat yang mungkin sering kita anggap biasa.

Dan aku tahu, justru dalam kesederhanaan itulah letak keistimewaannya.

Gambar : menu makan sebelum Ramadhan, terlihat segar yaa….

Surakarta, 27 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day7

Tidak ada komentar: