Langsung ke konten utama

My Ramadhan Story -- Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan


 

Day 8 Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan


Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.


Hai teman pembaca, kenalkan, namaku Jihan. Ini hari kedelapan ku mencoba konsisten menulis di blog. Bercerita mengenai amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan, aku ingin mengaitkannya dengan antologi ke-17 ku yang bertema “kenangan bersama kakek dan nenek”. Aku sebenarnya tidak punya banyak hal yang harus dibagi. Karena keempat nya telah pergi menghadap Ilahi beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, ada beberapa kebiasaan baik yang beliau-beliau ajarkan kepada sepasang cintaku, yaitu bapak ibuku, dan itu diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai ilmu.



Bapak lahir dari keluarga dengan pondasi agama yang kuat. Kakek dari bapak adalah kyai masjid di kampung kami. Mbah kung adalah imam sekaligus guru mengaji bagi masyarakat sekitar. Sedangkan mbah yi adalah ibu rumah tangga yang sangat lembut tutur bahasanya. Tidak pernah kasar dalam menyikapi kelakuan “ajaib” putra putrinya. Ini adalah hal kecil yang masih belum bisa ku tiru hingga saat ini aku dewasa.


Semasa hidup, mbah kung selalu berpesan kepada kami, cucu dan cicitnya, untuk wajib berbakti kepada orang tua dan selalu mendoakannya meskipun masih ada di dunia. Ilmu sederhana yang Insyaa Allah akan jadi pahala yang tak akan putus untuk mbah kung, yaitu membaca Surah Al Fatihah sekali dan Surah Al Ikhlas tiga kali setiap ba’da sholat fardhu. Amalan ini yang juga ku ajarkan pada anak semata wayangku, Ghani, sejak kecil. Nyuwun pangestune mbah yut, mugi Ghani saged nglajengaken lampahipun simbah dados imam ten masjid, Aamiin.


Ibuku lahir dari mbah kung yang seorang pegawai pemerintahan dan mbah yi yang juga seorang ibu rumah tangga. Dari kakek nenek pihak ibu aku belajar bahwa harus jadi wanita yang kuat dan meskipun punya pasangan harus bisa mandiri secara finansial. Alhamdulillah aku dan dua saudaraku serta beberapa sepupu dari pihak keluarga besar ibu banyak yang menjadi pegawai pemerintahan seperti almarhum mbah kung dulu. 


Aku semakin tahu mengapa Allah menjadikan aku bagian kecil dari keluarga ini. Karena aku memang ditakdirkan untuk tidak bergantung pada laki-laki pengecut seperti mantan suamiku. Namun, banyak laki-laki yang akan membela saat ada yang menyakitiku. Sebagai informasi, keluarga ibu didominasi laki-laki. Ibu, satu-satunya putri dari mbah kung dan mbah yi. Sepupuku juga banyak cowoknya, bahkan sampai generasi keempat yaitu cicit juga kebanyakan laki-laki. 


Selain ilmu kehidupan bahwa hal-hal yang bisa menyelamatkan wanita adalah karir, finansial, dan pendidikan, ada beberapa kebiasaan baik yang kakek nenek pihak ibu ajarkan. Yaitu habit untuk membaca Al-Qur’an setelah Maghrib. Tidak boleh ada yang menyalakan TV antara waktu Maghrib dan Isya. Itu juga sudah terpatri di hati sampai aku setua ini. 


Selain itu, dari beliau berempat, ada amalan lain yang sampai detik ini aku lakukan, yaitu membaca Surah Al Waqiah dan berwudhu sebelum tidur. Konon salah satu fadhilah Surah Al Waqi’ah adalah mendatangkan rezeki dan dijauhkan dari kemiskinan. Alhamdulillah karena surah ini ku baca tiap hari aku jadi hafal setiap ayatnya. Biasanya aku membacanya setelah mengerjakan sholat Dhuha.


Aku jadi ingat ada sebuah hadits tentang amalan yang tidak terputus pahalanya meskipun sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim). InsyaaAllah kebiasaan-kebiasaan baik yang mbah kung dan mbah yi ajarkan kepada kami, para cucu dan cicit, menjadi pahala yang tak terputus bagi mbah. InsyaaAllah husnul khotimah. Aamiin.


Seperti yang aku bilang di awal, aku tidak punya banyak kenangan bersama kakek nenekku, selain banyak kebiasaan dan amalan baik yang beliau berempat ajarkan. Kebiasaan yang akan tetap ku lanjutkan dalam mendidik anak cucuku nanti. Yang aku tahu semua itu adalah wujud kasih sayang beliau-beliau kepada kami, para dzurriyyahnya. Wujud cinta para leluhur kami yang InsyaaAllah menunggu kami di Surga.


Jadi amalan kecil yang biasa ku lakukan saat Ramadhan ya tetap sama seperti hari-hari biasanya namun lebih intens frekuensinya. Yaitu membaca QS Al Waqi’ah setelah Sholat Dhuha, membaca QS Al Fatihah sekali dan QS Al Ikhlas 3x setiap sholat, dan melanjutkan rutinitas membaca Al Qur’an “one day one juz”. Kalau teman-teman bagaimana?


Grobogan, 28 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...