Jihan Maria Ulfa, S.T.
Hai teman pembaca, kenalkan, namaku Jihan. Dan ini antologiku ke dua belas. Bercerita mengenai kenangan bersama kakek dan nenek, aku tidak punya banyak hal yang harus dibagi. Karena keempat nya telah pergi menghadap Ilahi beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, ada beberapa kebiasaan baik yang beliau-beliau ajarkan kepada sepasang cintaku, yaitu bapak ibuku, dan itu diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai ilmu.
Bapak lahir dari keluarga dengan pondasi agama yang kuat. Kakek dari bapak adalah kyai masjid di kampung kami. Mbah kung adalah imam sekaligus guru mengaji bagi masyarakat sekitar. Sedangkan mbah yi adalah ibu rumah tangga yang sangat lembut tutur bahasanya. Tidak pernah kasar dalam menyikapi kelakuan “ajaib” putra putrinya. Ini adalah hal kecil yang masih belum bisa ku tiru hingga saat ini aku dewasa.
Semasa hidup, mbah kung selalu berpesan kepada kami, cucu dan cicitnya, untuk wajib berbakti kepada orang tua dan selalu mendoakannya meskipun masih ada di dunia. Ilmu sederhana yang Insyaa Allah akan jadi pahala yang tak akan putus untuk mbah kung, yaitu membaca Surah Al Fatihah sekali dan Surah Al Ikhlas tiga kali setiap ba’da sholat fardhu. Amalan ini yang juga ku ajarkan pada anak semata wayangku, Ghani, sejak kecil. Nyuwun pangestune mbah yut, mugi Ghani saged nglajengaken lampahipun simbah dados imam ten masjid, Aamiin.
Ibuku lahir dari mbah kung yang seorang pegawai pemerintahan dan mbah yi yang juga seorang ibu rumah tangga. Dari kakek nenek pihak ibu aku belajar bahwa harus jadi wanita yang kuat dan meskipun punya pasangan harus bisa mandiri secara finansial. Alhamdulillah aku dan dua saudaraku serta beberapa sepupu dari pihak keluarga besar ibu banyak yang menjadi pegawai pemerintahan seperti almarhum mbah kung dulu.
Aku semakin tahu mengapa Allah menjadikanku bagian kecil dari keluarga ini. Karena aku memang ditakdirkan untuk tidak bergantung pada laki-laki pengecut seperti mantan suamiku. Namun, banyak laki-laki yang akan membela saat ada yang menyakitiku. Sebagai informasi, keluarga ibu didominasi laki-laki. Ibu, satu-satunya putri dari mbah kung dan mbah yi. Sepupuku juga banyak cowoknya, bahkan sampai generasi keempat yaitu cicit juga kebanyakan laki-laki.
Selain ilmu kehidupan bahwa hal-hal yang bisa menyelamatkan wanita adalah karir, finansial, dan pendidikan, ada beberapa kebiasaan baik yang kakek nenek pihak ibu ajarkan. Yaitu habit untuk membaca Al-Qur’an setelah Maghrib. Tidak boleh ada yang menyalakan TV antara waktu Maghrib dan Isya. Itu juga sudah terpatri di hati sampai aku setua ini.
Selain itu, dari beliau berempat, ada amalan lain yang sampai detik ini aku lakukan, yaitu membaca Surah Al Waqiah dan berwudhu sebelum tidur. Konon salah satu fadhilah Surah Al Waqi’ah adalah mendatangkan rezeki dan dijauhkan dari kemiskinan. Alhamdulillah karena surah ini ku baca tiap hari aku jadi hafal setiap ayatnya. Biasanya aku membacanya setelah mengerjakan sholat Dhuha.
Aku jadi ingat ada sebuah hadits tentang amalan yang tidak terputus pahalanya meskipun sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim). InsyaaAllah kebiasaan-kebiasaan baik yang mbah kung dan mbah yi ajarkan kepada kami, para cucu dan cicit, menjadi pahala yang tak terputus bagi mbah. InsyaaAllah husnul khotimah. Aamiin.
Seperti yang aku bilang di awal, aku tidak punya banyak kenangan bersama kakek nenekku, selain banyak kebiasaan dan amalan baik yang beliau berempat ajarkan. Kebiasaan yang akan tetap ku lanjutkan dalam mendidik anak cucuku nanti. Yang aku tahu semua itu adalah wujud kasih sayang beliau-beliau kepada kami, para dzurriyyahnya. Wujud cinta para leluhur kami yang InsyaaAllah menunggu kami di Surga.
Surakarta, Pertengahan Agustus 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar