
Jihan Maria Ulfa
Sebut saja namanya Jay. Dia adalah rival dari kelas sebelah. Kami bersaing untuk mendapatkan peringkat paralel setiap cawunya. Dia baik, sholeh, dan good looking untuk ukuran remaja sebayanya. Aku dan Jay bersahabat, dan kami sepakat untuk tidak saling jatuh cinta, tapi aku mengingkarinya. Di akhir tahun ajaran sebelum kelulusan, aku pernah menulis sesuatu di diary biruku tentangnya.
Kamarku, 31 Januari 2004
……Dengarkan…dengarkan lagu, lagu ini
Melodi rintihan hati ini
Kisah kita berakhir di Januari…………..
Ku biarkan tape di sudut kamarku itu berdendang sendiri. Petikan “lagu wajib”ku itu dilantunkan sempurna oleh Glenn Fredly. Lagu wajib? Sebenarnya tidak akan ada lagu wajib jikalau kisah itu tetap ada hingga saat ini. Memang cerita indah itu berakhir di Januari, setelah 8 bulan kita dekat. Sebenarnya cerita itu tidak akan pernah berakhir hingga saat kita menemukan pasangan masing-masing.
Dan itu entah kapan,, aku dan kamu tidak akan pernah tahu.
Aku suka lagu itu karena ketika ku dengar Glenn bersenandung aku ingat kamu. Selain lagunya sesuai dengan kisah kita, Januari tanggal 15 itu ulang tahunmu. Dan 15 Januari lalu, kau rayakan bertambahnya usiamu yang ke-15. Bahagiakah kau di ultahmu kemarin, Jay?
Kembali kusebut namamu di lembar biru muda diaryku, setelah 15 tahun sejak masa putih biru kita berakhir dan tak sehuruf pun yang membentuk namamu di sini. Kata orang cinta anak kecil hanya sebatas sayang, dan orang-orang bilang itu “cinta monyet’. Tapi bagiku tidak, Jay. Karena kita bukan monyet,, hehe,, Dengan mengenang cinta masa kecil, kita bisa bernostalgia dengan masa lalu yang mungkin lucu dan penuh liku. Tahukah kau, Jay? Cinta masa kecilku adalah kau. Kamu orang pertama yang memberi arti cinta padaku.
Seiring berjalannya waktu, kuurai kembali masa-masa kebersamaan kita. Kita memang dekat, kar’na kita bersahabat. Ya kan, Jay,, namun rasa itu pun berubah seiring berjalannya waktu. Karena kita sudah berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Tapi itu sungguh menyikasku. Ada rindu di dada ini, ada cinta di hati ini, dan semua itu untukmu. Aku rindu akan kebersamaan kita ketika belajar bersama, pergi dan pulang sekolah beriringan naik sepeda. Indah ya,Jay?
Kamu memang lebih dari sekedar sahabat, tapi untuk menganggapmu sebagai kekasih itu berlebihan. Karena tanpa ikatan cinta pun kita telah dekat, bahkan sangat dekat. Aku tahu tentangmu dan keegoisanmu, dan kau pun tau semua tentangku dan kekanak-kanakanku (waktu itu hingga saat ini….) Tapi dapatkah semua itu kembali, Jay?
Aku tersentak dalam lamunanku tentangmu. Tak terasa telah banyak yang ku tulis di sini. Teruntuk Jay di bangku nomor dua puluh satu, apakah kau merasakan hal yang sama setelah 3 tahun kita bersama? Kangenkah kau pada teman kecilmu ini nanti saat kita berpisah sekolah dan menjalani kehidupan masing-masing sebelum menikah? Apakah kamu yang nanti akan menjadi takdirku? Kamu adalah cinta sekaligus luka pertamaku.
Lagu Glenn masih terdengar di tape-ku
…..Tuhan bila waktu dapat ku putar kembali
Skali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup skali ini saja…………..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar