HAI AKU KECIL, AKU RINDU
Seperti merangkai sebuah puzzle, beberapa hari ini aku merasa disibukkan dengan kepingan peristiwa lalu yang membentukku sebagai pribadi baru. Oiya, perkenalkan, namaku Aruni. Aku adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga kecilku. Tinggal jauh dari keluarga karena harus bekerja. Dan aku adalah single mother dari seorang anak laki-laki usia remaja. Wajahku biasa saja, aku juga tidak terlalu pintar (sekarang), tapi bagi Birru, putraku, aku adalah seorang bidadari Surga.
“Ibuku yang cantik, semoga ibu selalu sehat ya, supaya pekerjaannya lancar,” begitu ucapnya selalu ketika mengantarkan kepulanganku untuk kembali merantau dan bekerja di luar kota. Semua yang dilakukannya selalu sukses membuatku banjir air mata.
“Maafkan ibu, ya, Nak, terpaksa menitipkanmu pada nenek dan kakek, semua demi kamu,” batinku, namun yang terucap dari mulutku, “Aamiin, sayang, pinter yaa, nggak boleh rewel, manut sama mbah, I love you,” Ini adalah ceritaku, cerita tentang luka dan kerinduanku pada aku yang dulu. Tapi sebelumnya aku akan bercerita mengenai masa kecil hingga remajaku, masa dimana aku memulai drama percintaan versiku.
Nayanika Arunika adalah nama lengkap yang diberikan orang tuaku. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa nama adalah do’a. Ketika aku lahir, bapak ibu mengharapkanku menjadi seorang wanita yang memiliki mata indah dan memancarkan daya tarik disertai pemikiran yang baik seperti cahaya matahari pagi setelah terbit. Cukup indah ya artinya. Tapi, apakah keindahan itu juga beriringan dengan sempurnanya kisah cintaku? Sepertinya tidak, karena jika percintaanku indah, tentu aku tidak akan bercerita tentang luka.
Tak mudah bagi seorang introvert sepertiku mengungkapkan apa yang dirasa pada semua orang. Hanya beberapa sahabat, tidak lebih dari tiga orang, yang mengerti secara detail siapa aku dan bagaimana aku menyikapi sesuatu. Aku lebih suka menuliskan perasaanku di diary yang sudah bertumpuk sejak masih memakai seragam putih merah. Bagiku, layaknya sebuah buku, seorang perempuan sulit dimengerti keinginannya. Banyak orang yang bisa membaca buku, namun sedikit saja yang mampu memahami isinya. Begitu pula dengan perempuan bukan? Tak ada yang benar-benar bisa memahami isi hatinya. Yaa, dan aku sebagai seorang perempuan dan introvert pula, mengakui hal itu. Inilah mengapa aku lebih suka menulis di diary dan mengolah kata menyesuaikan isi hatiku, saat ini. Selain aku juga lebih suka mengekspresikan perasaanku lewat tulisan daripada lisan.
Aku adalah gadis kecil yang ceria dan membanggakan dengan prestasi akademik yang memukau di zamannya. Aku pernah meraih nilai Matematika di tingkat kecamatan pada ujian nasional. Dan itu mengantarkanku masuk ke sekolah favourite jenjang selanjutnya. Disinilah aku mulai merasakan jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang laki-laki, sebut saja namanya Jay. Dia adalah rival dari kelas sebelah. Kami bersaing untuk mendapatkan peringkat paralel setiap cawu nya. Dia baik, sholeh, dan good looking untuk ukuran remaja sebayanya. Jika kalian bertanya, apakah akhirnya Arunika dan Jay jadian dan saling suka ? Jawabannya tidak. Sedih yaa. Karena Jay lebih memilih Hermila, cewek manis yang sudah ditaksirnya sejak kelas satu. Jay adalah luka pertama Arunika muda.
“Bapak, ibu,, Runi mau sekolah di Semarang,” ucapku setelah menerima ijazah kelulusan SMP. Aku memutuskan sekolah di luar kota karena patah hati pertama yang dibuat Jay. “Ibu mendukung keputusanmu, Run, tapi coba tanya pendapat bapak dulu,” kata ibu. Bapak menghela nafas dalam-dalam, kemudian, “Bapak mengizinkan, tapi kamu harus mondok di pesantren ya, supaya didikan agamamu terjaga. Kebetulan ada salah satu pondok pesantren dekat dengan sekolah yang mau kamu tuju, bagaimana?,” tawar bapak. Aku mengangguk menyetujui pendapat bapak.
Punya banyak teman baru di masa putih abu juga membuatku lupa pada luka pertamaku. Aku menemukan kembali cinta yang dibawa oleh seorang santri putra. Namanya Ardha. Tak butuh waktu lama, karena kekagumanku pada sosoknya yang sempurna di mataku, aku jadian dengan nya. Jay memang cinta pertamaku, tapi Ardha adalah pacar pertamaku. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang santri untuk bisa bebas menjalin cinta di dalam “penjara agama”? tentu tidak ada. Aku dan Ardha tidak bisa seenaknya pergi berdua karena ada senior santri yang mengawasi kami. Selain itu teguran-teguran bertubi menghujat kami berdua. Aku merasa bersalah kepada bapak ibu karena itu kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Ardha.
Putus dengan Ardha aku juga keluar dari pondok dan pindah ke sebuah rumah kost dekat dengan sekolah. Di akhir masa putih abu, aku kembali terpesona dengan teman sekelas, namanya Anan. Entah apa yang membuatku berani menyatakan cinta duluan pada Anan. Saat acara perpisahan kelas kami, aku memberikan surat pada Anan, kuselipkan di tasnya. Tapi aku kembali luka karena Anan menolakku, dengan alasan aku bukan tipenya. Luka terlama karena beberapa tahun kemudian aku baru kembali berpacaran dengan seseorang yang kukenal lewat acara dating di radio. Namanya Widy. Aku mengenal Widy di saat usiaku sudah matang yaitu 24 tahun. Tentu cinta kami tidak lagi main-main. Setelah aku lulus kuliah, kami sudah sepakat untuk menikah. Namun entah mengapa, tiba-tiba Widy pamit karena dia dijodohkan oleh guru ngajinya. Nayanika Arunika kembali terluka untuk kesekian kalinya.
Terluka karena pacar yang kuharap membawa kebahagiaan, aku memutuskan akan menerima sebuah perjodohan yang dirancang oleh bapak. Namun, justru seseorang ini yang menghancurkan hidupku. Dimulai dengan perkenalan singkatku dengan seorang pemuda yang 6 tahun lebih tua dari aku. Namanya Angkasa. 14 September 2011, di depan sebuah rumah kost di Kota Surabaya. Aku duduk berhadapan dengan Angkasa. Ini pertemuan kami yang kedua setelah sebelumnya dia datang ke rumah untuk bertemu dengan orang tuaku.
“Insyaa Allah, aku sudah mantap dengan dek, Runi. Dengan membaca Bismillah, aku siap menjadi suamimu” Angkasa berkata kepadaku. Hati wanita mana yang tidak dihiasi kupu-kupu mendengar kata-katanya. Kebetulan juga memang sudah waktunya untukku menikah. Aku tersipu dan menjawab. “Enggih, mas, semoga semua dilancarkan ya, dan semua barokah”
2 bulan setelah pertemuan itu, kami menikah. Bucinnya kami berdua saat itu. Perkenalan yang singkat membuat kami memutuskan berpacaran setelah menikah. Kelihatannya memang indah bukan? Ternyata ‘luka masa kecil’ Angkasa akibat perceraian orang tuanya membuat biduk rumah tangga kami tidak baik-baik saja. Angkasa benci ibunya, namun aku yang kena tulahnya. Angkasa dendam kepada ibunya, namun aku yang jadi pelampiasannya. Itulah luka tersakit yang dia torehkan padaku, pada seorang Arunika yang setiap hari berdo’a agar dia berubah dan lebih bertanggung jawab terhadapku dan anaknya. Seperti janji yang dia ucapkan ketika menjabat tangan bapak di saat akad nikah kami.
“Sayang, gak berangkat kerja?’ tanyaku ketika melihat dia pagi-pagi masih tidur. “Aku sudah keluar dari tempat kerja lamaku, dek, aku nggak betah, temanku rese…..” dan banyak lagi alasan yang Angkasa ucap. Aku baru mengetahuinya setelah 2 bulan pernikahan, dan saat aku mengandung Birru, dia tidak pernah berusaha untuk mencari kerja. Akulah yang harus kerja keras membiayai semua kebutuhan hidup kami sehari-hari. Capek tentu, apalagi ada Birru di rahimku, tapi aku lebih khawatir lagi nasib keluarga kami nantinya jika semua masih dalam kondisi yang sama.
Terkadang, ingin rasanya menangis sekuatnya, namun mengingat ada “nyawa” yang tidak bersalah dalam diriku, aku selalu berusaha bahagia. Meskipun setelah Birru lahir, baru ku tahu, Birru adalah anak yang cengeng dan perasa. Kata orang-orang ini akibat ketika aku hamil selalu disakiti oleh ayahnya. Tahun keempat membina rumah tangga, akhirnya pertahananku jebol juga. Aku sempat bertengkar hebat dengan Angkasa, tepat di ulang tahun Birru yang ketiga. Aku yang memendam banyak rasa, dan Angkasa yang tidak tekun bekerja membuatnya kehilangan wibawa di mataku, dan bapak ibuku. Tapi aku yang introvert ini hanya bisa menyimpan rapat-rapat rasa itu. Hanya do’a yang ku selipkan dalam sepertiga malamku. “Yaa Allah, yaa Tuhanku, mohon buka pintu hati suami hamba, agar lebih bertanggung jawab terhadap keluarga”. Angkasa keluar dari rumah selama seminggu. Namun, mengingat Birru yang selalu mencari ayahnya aku akhirnya menerimanya kembali.
Luka tersakit kedua yang Angkasa buat kepadaku adalah saat aku mengandung Bitta, adik Birru. Bulan itu, tepatnya 31 Desember 2017, adalah HPHT bulananku. Yang berarti semenjak itu telah dititipkan makhluk kecil di rahimku. Tentu aku belum tahu karena beberapa bulan kemudian baru kusadari aku hamil Bitta. Dan waktu itu, agak lupa-lupa ingat, Angkasa entah berada dimana. Sibuk dengan dunianya. Aku juga seperti biasa dengan keremponganku mengantar Birru sekolah. Mendampingi setiap perkembangannya. Sejak punya Birru aku memang sudah tidak lagi bekerja. Lalu, minggu-minggu berikutnya masih seperti biasa, layaknya keluarga kecil yang menginginkan hal yang lebih baik dan bahagia. Aku masih berusaha menyembunyikan banyak luka di hati dengan tetap tersenyum di depan banyak orang termasuk orang tua dan ibu mertua.
Ah, tapi rencana dan hitungan manusia tentu berbeda dengan takdirNya. 11 Maret 2018 setelah hampir 2 minggu merasakan pusing yang tak biasa, ternyata anugerah Allah yang kedua tiba, hasil test pack menunjukkan stripe 2. Senang, sedih, dan bingung campur jadi satu rasanya. Senang karena salah satu keinginan lama tiba, sedih karena rasanya belum mampu dengan sabar membimbing anak pertama, bingung karena Angkasa semakin jauh dari rasa yang seharusnya. Namun harapku, dengan aku mengandung Bitta, Angkasa akan lebih bertanggung jawab kepada kami.
Duhh,Allah,,entah apa yang terjadi sehingga hambaMu ini penuh keraguan. 3 hari kemudian, kabar bahagia itu berubah menjadi duka, karena Allah telah mengambil malaikat keduaku, Bitta, setelah sore itu darah mengalir dari jalan lahir ku. Kabar bahagia yang ternyata hanya beberapa hari umurnya. Yaa, Bitta pergi di usia 10 minggu kehamilanku. Angkasa tidak ada di sampingku ketika aku bertaruh nyawa di meja operasi. Aku yang saat itu berada di antara hidup dan mati akhirnya memutuskan bercerai dengan Angkasa. Dan tepat di ulang tahun Birru yang keenam, Pengadilan Agama di kota kami memutuskan Angkasa bukan lagi suamiku. Jika semesta merestui sebuah perpisahan, kita tidak akan bertemu dalam kebetulan apapun. Hanya itu yang bisa aku sampaikan kepada Angkasa.
Sejak itu keceriaan yang dulunya ada berubah menjadi sebuah luka yang merenggut semua senyum di wajahku. Aku sering berandai-andai jika aku yang sekarang bisa menyapa aku kecil, aku akan menyampaikan banyak hal. “Hai aku di 1989, kamu sungguh lucu, seseorang bilang padaku, mataku seperti menyiratkan sesuatu yang sendu. Aku tidak tahu apakah memang seperti itu, karena memang hingga sekarang, banyak sekali luka terpendam yang tak pernah kubagi dan seringnya kurasakan sendiri. Untukku di 1999, apakah menjadi saat ini adalah keinginanmu dulu? Ku rasa iya, karena kita tahu, bagaimana kita dididik untuk menggapai semua cita. Dan kamu di 2009 adalah manusia yang siap mewujudkan semua impiannya.
Kalian, bisa jadi adalah pribadi yang sangat berbeda denganku yang sedang menulis cerita ini. Aku adalah kalian beberapa tahun kemudian, dan kalian adalah aku di masa lalu yang sedang menulis mimpi-mimpi, yang sedang kuat dan semangat untuk mewujudkannya. Aku bersyukur dengan apapun yang telah ku lewati hingga membentukku jadi sosok yang lebih baik di titik ini. Maafkan aku yang dulu sering membuatmu berjuang lebih keras untuk menggapai rencana kita. Ini aku lakukan agar aku bisa terus bangga padamu. Tersenyumlah, karena kita menjadi pemenang sekarang. Berbahagialah dengan sederhana. Ingatlah bahwa jalan yang kita lalui tidak mudah, namun percayalah aku tetap bangga kepadamu. Terimakasih atas perjuanganmu. Kepada aku kecil, maaf ya, ternyata kamu besarnya nggak semeriah dan seenak yang kamu bayangkan dulu”
I miss me
The old me
The happy me
The bright me
The smiling me
The laughing me
The gone me,,
I miss me so much
BIONARASI
Jihan Maria Ulfa, kelahiran 19 April 41 tahun yang lalu, seorang ibu tunggal yang sehari-hari bekerja di instansi pemerintahan, punya hobi menulis, menangis, dan makan. Jika sedang galau semua yang dirasakannya bisa jadi tulisan di diary dan caption sosial media. Pemalu dan pendendam adalah sifat asli yang seharusnya dihilangkannya.
Sudah lama bercita-cita menjadi penulis profesional tapi pendidikan yang ditempuhnya tidak relate, sehingga menulis hanya menjadi sarana self healing untuknya. Tahun 2025 dia bertransformasi dari penulis diary menjadi penulis antologi. Buku ini adalah karya kesekian darinya. Beberapa antologi berbagai tema sudah diterbitkannya. Motto hidupnya adalah Laa Tahzan Innallaha Ma'ana, Allah always answers your request, maybe not with a yes but always with the best. Penulis bisa dihubungi melalui sosial media FB Jihan Maria Ulfa dan IG @jihan_mariaulfa serta IG @jeys_zone

Tidak ada komentar:
Posting Komentar