Dear diary,
Hari ini aku memulai halaman baru dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pintu masuk ke diriku, apa MBTI-mu? Mungkin aku hanya ingin tahu apakah ada yang memandang dunia dari balik kabut yang sama.
Kau tahu, diary?
MBTI bagiku bukan sekadar tes kepribadian. Ia seperti cermin yang menjelaskan hal-hal yang tak pernah bisa kuucapkan. Mengapa aku cepat lelah ketika harus memperlihatkan senyuman? Mengapa suara orang lain kadang terdengar seperti gema yang terlalu keras dan memekakkan? Dan mengapa dunia terasa lebih aman ketika aku diam?
Aku seorang ISFP, entah kenapa, empat huruf itu selalu terasa seperti empat dinding kecil yang menyelimutiku. Tempat aku bersembunyi dari suara-suara yang tidak bisa kuhentikan dan terus menderu. Yes, introvert, kata yang sering orang anggap ringan, romantic, bahkan mungkin lucu.
Padahal di baliknya ada ruang sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah duduk terlalu lama dalam sendu. Sejak kecil, aku belajar bahwa diam adalah rumah nyaman untuk hatiku. Bukan karena tak punya suara, tapi karena suaraku sering pulang lebih lambat dari pikiranku.
Dulu aku menuliskannya di catatan harian, yang mungkin sekarang dibuang, dilupakan, atau dibaca diam-diam oleh seseorang. Namun isinya masih tertinggal dan semua masih bisa dikenang. Tulisan tentang kecanggungan dan perasaan ingin dipahami yang bahkan saat itu aku pun tak tahu bagaimana harus menjelaskan.
Menulis selalu menjadi satu-satunya cara untuk merapikan kekacauan yang tak pernah selesai dalam kepala. Kadang aku menulis sambil menangis, kadang sambil berpura-pura tertawa. Kadang sambil menahan napas dan sesak di dada. Takut kalau-kalau kejujuran di halaman itu terlalu menyala dan membakar keberanianku yang rapuh kemudian hatiku tak lagi bahagia.
Aku tumbuh dewasa dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Tapi dada sering penuh dengan gemuruh yang tak terlihat oleh mata. Dalam berteman, aku jadi bayangan, ada, tapi tak pernah benar-benar hadir sosoknya. Suara orang lain terasa bising, sementara suara ku sendiri ingin bersembunyi di balik meja kerja.
Public speaking? arrrgh, hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku gemetar sebelum berbicara. Malam sebelum presentasi rasanya seperti jurang tak berujung, yaa, aku insomnia. Pikiranku berjalan terlalu jauh, menarikku ke arah ketakutan yang bahkan tidak punya nama.
Aku merasa kecil, sendirian, dan sesekali, aku merasa rusak. Tahun lalu aku bertemu dengan seseorang, aku memberanikan diri membuka sebagian luka yang selama ini kusimpan rapat di tempat tergelap, tentang kecemasan yang membuatku sesak. Tentang malam-malam tanpa tidur nyenyak. Juga tentang perasaan tidak cukup yang menempel di kulitku seperti bayangan yang enggan beranjak pergi memberi jarak.
Ia bilang aku pekerja keras. Bahkan terlalu keras. Aku punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain yaitu motivasi tak terbatas. Aku juga punya kesabaran yang luas. Aneh, kan? kalimat itu membuatku ingin menangis dan berteriak sangat-sangat keras. Bukan karena terharu, tapi karena selama ini aku merasa justru tidak punya apa-apa selain rasa takut yang membuat semua anggota tubuhku terasa kebas. Tak bisa bebas.
Diary..
2025 datang seperti angin yang sedikit lebih hangat. Untuk pertama kalinya, aku berani maju ke panggung, walau langkahku masih gemetar hebat. Aku dipaksa berbicara, dipaksa tumbuh, dipaksa menghadapi diriku yang selama ini hanya berani menulis dalam bait-bait perasaan yang melambat.
Dan perlahan, aku menang. Tidak hebat, tidak gemilang. Tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa aku tidak seburuk yang pikiranku katakan setiap malam menjelang.
Tapi diary, kau pasti tahu bahkan mengerti..
Gelap tidak hilang hanya karena ada sedikit cahaya. Ia tetap tinggal di sudut-sudut yang jauh, mengintip dari balik keheningan rasa. Aku ingin jujur di sini, seperti dulu dan selalu, menjadi introvert tidak sesederhana rangkaian kata. “Butuh waktu sendiri”, bukan itu saja.
Ada kesepian yang tak bisa dijelaskan. Ada rasa tidak dihargai karena suaramu pelan. Ada kecanggungan yang membuatmu ingin lenyap sekejap dalam pertemanan. Ada energi yang habis hanya karena lima menit obrolan. Ada perfeksionisme yang menekan dan kadang menyesakkan. Ada rasa terasing bahkan saat duduk bersama orang yang menyenangkan. Dan itu melelahkan.
Sangat.
Teramat sangat.
Tapi malam ini, seperti sebelumnya, aku memilih menulis lagi. Karena hanya di sini aku bisa menjadi manusia seutuhnya, yang rapuh, yang gelap, namun jujur pada diri sendiri. Menulis adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak merasa harus secepat mungkin menyembuhkan diri.
Diary,
Malam ini aku kembali merilis perasaan. Mencoba menenangkan hati yang terasa berat tanpa alasan. Ada sepi yang menempel di badan. Ada hening yang menggantung di dada, semakin menyesakkan. Membuat berantakan. Pikiran. Perasaan. Aku ingin bicara, tapi kata-kata itu selalu tersangkut di tenggorokan. Jadi aku diam, dan membiarkan pena yang berbicara dan menceritakan.
Aku selalu merasa ada ruang kosong di dalam diriku, ruang yang tidak bisa ku isi dengan apa pun tahapan kehidupan. Bukan oleh teman, bukan oleh keluarga, bukan oleh pencapaian. Bahkan bukan oleh keberhasilan yang katanya membanggakan. Ruang itu bak kamar gelap yang pintu dan jendelanya tak pernah tertutup, membiarkan angin dingin keluar masuk membuat semua semakin berantakan.
Diary,
Terima kasih telah menjadi rumah untukku mencurahkan isi hati. Terima kasih telah mengerti. Bahwa aku cukup menjadi aku sendiri. Meski itu berarti menjadi seseorang yang patah, rapuh, dan berusaha bertahan satu hari lagi. Malam ini kututup dengan nyanyian sunyi. Namun aku berjanji. Esok pagi, kan ku sapa mentari dengan suasana hati yang tak sama lagi. Menjadi sosok yang lebih kuat dan semangat mewujudkan mimpi.
Surakarta, awal Desember 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar