Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan
Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.
Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut, ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan, tetap harus dikerjakan karena deadline tidak ikut berpuasa, tidak bisa menunggu nanti-nanti. Target tidak ikut melambat berhenti. Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur, dan dijalankan dengan niat yang suci. Meraih keridhoan Ilahi.
Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak dan isi otak yang dingin. Sejak sebelum Ramadhan aku belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin. Pikiran masih jernih, rumah masih hening, dan hati terasa lebih tenang bagaikan amfetamin. Di jam-jam itulah biasanya ide-ide lebih mudah mengalir bagai hembusan angin. Satu halaman mungkin terasa ringan, satu paragraf bisa selesai tanpa banyak distraksi yang memilin. Menulis di pagi hari memberi rasa lega sebelum hari benar-benar dimulai dengan bain.
Sebagai ibu, pagi juga berarti menyiapkan kebutuhan keluarga. Ada bekal sekolah, ada seragam yang perlu dirapikan, ada percakapan kecil yang tak boleh dilewatkan setiap hurufnya. Di sinilah manajemen waktu menjadi kunci nyata. Menulis tidak selalu harus dalam durasi panjang, kadang 20–30 menit fokus tanpa gangguan sudah cukup untuk membuat konsistensi terjaga. Yang penting bukan seberapa lama duduk di depan layar, tapi seberapa sungguh kita hadir dalam prosesnya.
Di tempat kerja, profesionalisme tetap nomor satu. Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan standar kualitas sesuatu. Justru bulan ini melatih disiplin dan integritas ku. Datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai tenggat, menjaga komunikasi yang baik dengan rekan kerja, semua itu adalah bentuk ibadahku. Ketika tubuh terasa lebih lelah karena berpuasa, aku belajar mengatur ritme itu. Menghindari pekerjaan berat di jam-jam menjelang siang jika memungkinkan, memanfaatkan waktu setelah istirahat untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi lebih ringan, dan mengambil jeda sejenak untuk mengatur napas tanpa ragu.
Sebagai ibu pekerja, rasa bersalah kadang datang diam-diam. Merasa kurang maksimal di rumah karena sibuk bekerja, atau merasa kurang fokus bekerja karena memikirkan rumah yang agak kelam tanpa temaram. Ramadhan justru mengajarkan keseimbangan, antara produktif bekerja saat siang, dan produktif menulis serta bercengkerama manis dengan keluarga saat malam. Menjadi profesional di kantor dan hadir sepenuh hati untuk keluarga bukan dua hal yang saling meniadakan, seperti sayur tanpa garam. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dijalani dengan niat yang lurus dan perencanaan yang matang dan tidak mengancam.
Menulis di bulan Ramadhan juga punya warna yang berbeda. Hati yang lebih peka membuat tulisan terasa lebih dalam bermakna. Refleksi tentang sabar, syukur, dan pengendalian diri sering muncul tanpa dipaksa. Aku sering menyelipkan catatan kecil tentang pengalaman berpuasa, tentang percakapan dengan anak, atau tentang pelajaran yang ku dapatkan dari ceramah singkat di masjid atau mushola. Semua itu menjadi bahan bakar kreativitasku setiap harinya. Ramadhan bukan penghalang produktivitas, justru sumber inspirasi yang tak pernah habis dan berharga.
Tentu ada hari-hari ketika tubuh terasa sangat lelah. Saat itu, penting untuk jujur pada diri sendiri, bahwa ya, aku memang sedang sangat-sangat lelah. Produktif bukan berarti memaksakan diri hingga tumbang dan rebah. Tidur cukup, sahur dengan asupan yang seimbang, minum air yang cukup saat berbuka hingga sahur, semua itu adalah investasi agar tetap bisa menjalankan peran dengan optimal tanpa rasa begah. Menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab dan amanah.
Pada akhirnya, tetap produktif menulis di bulan Ramadhan sebagai ibu pekerja adalah tentang menyelaraskan niat, energi, dan prioritas. Tentang memahami bahwa setiap peran yang kita jalani, sebagai penulis, karyawan, dan ibu adalah ladang amal jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Kita mungkin tidak selalu sempurna, kita sangat terbatas. Ada hari ketika tulisan terasa buntu, ada hari ketika pekerjaan terasa menumpuk dan melewati batas. Namun selama kita terus berusaha menjaga kualitas dan keikhlasan, Ramadhan justru akan menjadi bulan yang menguatkan, bukan melemahkan, dan itu membentuk kita menjadi pribadi yang sangat bertintegritas.
Karena produktivitas sejati bukan hanya tentang banyaknya karya atau selesainya tugas, tetapi tentang bagaimana kita tetap bertumbuh sebagai penulis yang mencoba profesional, sebagai ibu yang bahagia, dan sebagai pribadi di tengah keterbatasan yang sedang kita latih bersama dengan jujur, semangat, dan ikhlas.
Surakarta, 26 Februari 2026
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day6
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar