Day 5 Cerita Ramadhan semasa kecil
Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.
Ramadhan semasa kecilku selalu datang dengan cara yang sama: membangunkan kenangan, bahkan sebelum ibu membangunkanku untuk sahur, sarapan yang kepagian di Bulan Ramadhan. Aku masih ingat betul suara sendok beradu dengan piring di dapur, samar-samar bercampur lantunan ayat suci dari toa masjid di depan rumah yang diikuti oleh suara tarhiman. Udara dini hari terasa lebih dingin dari biasanya, membuatkan sedikit enggan. Dengan mata setengah terpejam dan langkah yang masih gontai, aku duduk di meja makan, mencoba menelan nasi hangat dengan kantuk yang tertahan. Bapak selalu berkata, “Sahur itu bukan soal kenyang, tapi soal niat yang tidak perlu diucapkan” Waktu itu aku belum benar-benar paham, tapi aku mengangguk saja, merasa sudah cukup dewasa karena ikut berpuasa seharian.
Setelah sahur, kami bersiap ke masjid untuk sholat Subuh berjama’ah, langit masih gelap kebiruan. Aku berjalan di samping ibu, menggenggam ujung mukenanya, takut ditinggalkan. Masjid kecil di depan rumah tampak hangat oleh cahaya lampu kuningnya, menenangkan. Anak-anak seusia denganku berbaris di saf belakang, kadang masih menguap, kadang saling berbisik pelan. Seusai sholat, biasanya ada kultum singkat yang disampaikan oleh ustadz kampung secara bergiliran. Aku duduk bersila, mencoba mendengarkan dengan serius, meski kadang pikiranku melayang pada rencana bermain setelah matahari terbit, namun semua harus ku rangkum menjadi ringkasan di buku kegiatan Bulan Ramadhan. Setelah itu kami berebut meminta tanda tangan dari imam dan ustadz yang saat itu memberikan tausiyahnya kepada para jama’ah yang masih bertahan.
Pulang dari masjid, kantuk seperti datang menyerbu. Tapi semangat masa kecil selalu lebih kuat dari rasa kantuk itu. Aku segera mengganti pakaian dan mengeluarkan sepeda kesayanganku. Bersama teman-teman, kami berkeliling kampung yang masih lengang dan sendu. Angin pagi menyentuh wajah, membawa aroma tanah dan dedaunan basah dari embun yang beradu. Kami tertawa tanpa alasan yang jelas, berlomba siapa yang paling cepat, atau sekadar berhenti di pinggir sawah untuk mengobrol tentang apapun itu. Puasa terasa ringan di pagi hari, seolah-olah lapar dan haus belum mengenal kami dalam sebuah pusaran waktu.
Menjelang jam sekolah, aku pulang dengan napas sedikit terengah. Ibu sudah menyiapkan seragam dan merapikan perlengkapan sekolah. Di sekolah, suasana Ramadhan terasa berbeda, sedikit jengah. Jam pelajaran dipersingkat, guru-guru lebih lembut, dan teman-teman saling mengingatkan untuk tidak usil berlebihan agar tidak membatalkan puasa, terutama mengingatkan tentang bahaya ghibah. Kadang ada pesantren kilat atau ceramah singkat di aula sekolah. Kami duduk berjejer di lantai, mendengarkan kisah para nabi dan keutamaan bersedekah. Di sela-sela itu, perut mulai berbunyi pelan, seperti menguji kesabaran, badan mulai terasa lelah.
Sepulang sekolah, aku biasanya tidur siang secukupnya. Tidak terlalu lama, karena ibu selalu mengingatkan agar tidak melewatkan waktu Ashar, saat tiba waktunya. Tidur siang di bulan Ramadhan terasa berbeda, lebih tenang, lebih dalam rasanya. Seolah tubuh dan jiwa sama-sama sedang belajar menahan diri dari apapun bentuk godaannya.
Sore hari adalah waktu yang paling kutunggu: ngabuburit. Bersama teman-teman, aku pergi ke lapangan atau ke tepi jalan utama, melihat orang-orang mulai berburu takjil, ingin menembus antrean namun sulit. Ada yang menjual es buah, kolak, gorengan, dan aneka kue warna-warni, seperti lapis legit. Kami hanya melihat-lihat, kadang membantu ibu membeli beberapa untuk berbuka, meski sedikit. Bau harum makanan yang baru digoreng menguji iman kecil kami, tapi di situlah letak serunya, menelan air liur yang tiba-tiba terasa pahit. Kami saling menyemangati, “Sedikit lagi! Sebentar lagi maghrib! bertahanlah, tinggal sedikit”
Saat adzan Maghrib berkumandang, rasanya seperti hadiah besar setelah perjuangan seharian. Di rumah, kami berbuka bersama keluarga, berkumpul di meja makan. Bapak memimpin doa, ibu tersenyum sambil membagikan kurma dan segelas teh manis yang menghangatkan. Suasana meja makan terasa semakin hangat, penuh cerita tentang kegiatan hari itu yang menyenangkan. Kadang-kadang, ada hari istimewa ketika aku berbuka bersama teman-teman. Kami membawa makanan dari rumah masing-masing, lalu duduk melingkar, tertawa dan saling berbagi cemilan. Makanannya sederhana, tapi kebersamaannya terasa mewah dan mengharukan.
Malam hari, setelah sholat Tarawih, aku kembali mengisi buku kegiatan Ramadhan yang dibagikan sekolah. Di dalamnya ada kolom untuk mencatat sholat lima waktu, Tarawih, tadarus, dan ceramah. Aku menuliskannya dengan huruf paling rapi yang bisa kubuat, agar terlihat indah. Kadang aku juga mencoba menuliskan ringkasan ceramah ustadz, tentang pentingnya jujur, tentang sabar, tentang berbagi pada yang membutuhkan, tentang sedekah. Meski sederhana, buku itu membuatku merasa bertanggung jawab atas pentingnya ibadah.
Kini, ketika Ramadhan datang lagi, aku sering merindukan masa kecil itu. Rasa lelahnya berbeda, rasa laparnya terasa lebih ringan, dan kebahagiaannya begitu murni, semua menjadi sebuah rasa haru yang semakin membiru. Ramadhan semasa kecil bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi tentang belajar bersama, belajar sabar, belajar berbagi, belajar memahami arti kebersamaan, dan semua kenangan yang ceria dan seru. Semua semenyenangkan itu.
Di antara dinginnya Subuh, riuhnya sepeda pagi, kantuk siang, hingga hangatnya berbuka bersama keluarga, ada potongan-potongan kenangan yang hari ini membentukku. Dan setiap kali adzan Maghrib terdengar, ada bagian kecil dalam diriku yang kembali menjadi anak kecil itu. Yang percaya bahwa Ramadhan selalu membawa cahaya, bahkan setelah hari-hari berlalu.
Surakarta, 25 Februari 2026
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day5


Tidak ada komentar:
Posting Komentar