Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Antologi ke 20 Atsar 2

  JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRKU   Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba-lomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan banyak undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Dan ketika Ramadhan berakhir aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal. Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum aku menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Harapanku tahun ini bisa full juga. Aa...

Antologi ke 20 Atsar 1

  LAA TAHZAN INNALLAAHA MA’NAA (Jejak yang Mengubah Hidupku)   Cerita ini akan dimulai dengan sebuah pertanyaan, punya ayat di kitab suci Al-Qur’an yang menjadi favourite kalian? Kalau pertanyaan tersebut dikembalikan padaku, aku akan dengan lantang menjawab, ya, aku punya. Bahkan potongan ayat tersebut menjadi quote yang jadi kata dan kalimat penghibur saat aku mengalami keterpurukan dan sedang merasa berantakan. Aku bukan ahli tafsir dan ahli di bidang keagamaan. Aku hanya manusia biasa penuh dosa yang sedang mencoba menceritakan bagaimana perjalanan hidup dipengaruhi oleh potongan ayat seperti yang ku jelaskan.   Aku pernah menulis tentang kebiasaan baik yang kakek nenekku ajarkan, yaitu mengaji setiap selesai Sholat Maghrib. Tidak ada televisi yang menyala, hanya mengaji dan tadarus bersama keluarga. Di grup whatsapp keluarga besarku ada agenda khusus untuk khataman setiap pekannya. Aku akan sangat antusias ketika mendapat jadwal membaca juz 10, karena disitulah letak...

Antologi_kesembilanbelas_FRAGMEN JINGGA DI DADA

Pada jam ketika langit belajar melepaskan, halaman perjalanan hari ini menangkap cahaya terakhir, mengekang. Warna jingga yang rapuh, nyaris jatuh terjengkang. Kata-kata yang pernah lahir di bahasa lain kini bergetar di mataku, seakan senja ikut menerjemahkan sunyi menjadi sesuatu yang tak bisa kuulang dengan perasaan senang maupun hati riang. Membaca untukku, bukan untuk tahu akhir cerita, tapi untuk tenggelam. Di antara kalimat yang dipinjam dari dunia jauh, ada perasaan yang terasa sangat dekat: kehilangan yang tak bernama, rindu yang tak meminta pulang. Senja memeluknya perlahan, membuat luka terasa sah untuk tinggal melukis kenangan. Berulang, menyakitkan, menyenangkan, demikian semua tak pernah berhenti mewarnai perjalanan. Saat cahaya benar-benar pergi, aku sadar: beberapa cerita tak selesai saat buku ditutup meski perlahan. Ia berpindah ke dada, menetap seperti sore yang enggan malam. Diam, dalam, dan terus menyala tanpa temaram. Tiap kali semesta tampak runyam, atau rona kalbu...