Langsung ke konten utama

Antologi ke 20 Atsar 2


 

JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRKU

 

Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba-lomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku.

Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan banyak undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Dan ketika Ramadhan berakhir aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.

Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum aku menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Harapanku tahun ini bisa full juga. Aamiin kan yaa teman teman. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan di antologi kali ini. Aku akan menulis tentang refleksi yang ku jalani beberapa tahun ini. Semoga ini bisa menjadi ibrah bagi teman-teman dan tentunya untuk diriku sendiri.

Ya, seperti yang teman-teman baca di paragraf sebelumnya, tahun 2025 aku seharusnya tidak memiliki kewajiban meng-qadha puasa karena jadwal bulananku mundur. Namun seminggu di awal Ramadhan aku “terpaksa” tidak puasa karena sakit akibat kerja kerja dan kerja. Dan itu mengharuskanku rawat inap di rumah sakit. Allah memang Maha Baik kepada umat kekasihNya. DIA memberikan rukhsah kepada hambaNya saat kondisi tertentu, sepertiku.

Rasanya Ramadhan 2025 adalah Ramadhan terberatku.

Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku? Sedangkan aku belum punya bekal cukup untuk kembali pada Pemilik Jiwaku. Berkali-kali aku merenungi kalimat yang ku buat sendiri itu. “Bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku?” Bukankah umur tidak ada yang tahu? Tiga hari aku rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah di kota kelahiranku. Beberapa kali tanganku dimasuki infus dan obat yang dimasukkan melalui injeksi ke tubuh lemahku. Belum lagi bau obat yang dibawa mbak apoteker, membuatku terlihat semakin pilu. Adzan Maghrib yang terdengar dari kejauhan membuat suasana semakin sendu. Aku berbuka dengan air putih di ranjang ruang rawat inap kelas satu. Ah, sebenarnya bukan berbuka, aku kan tidak puasa di hari itu.

Hatiku makin perih, karena tidak bisa menemani ibu dan anakku sholat tarawih. Aku malah membawa mereka dalam suasana yang pedih. Ini bukan keadaan yang ku pilih. Ku coba berfikir dengan lebih jernih. Aku tidak ingin membuat orang orang yang ku sayangi semakin sedih. Ya, aku harus segera pulih, dan memulai lagi semuanya dengan keadaan hati yang lebih bersih.

Dalam keadaan sakit itu, ku buka dialog batin dengan diri sendiri.  

“Apa yang sebenarnya aku kejar selama ini?”.

Validasi? 

Eksistensi diri? 

Namun dengan menyakiti tubuh rapuh ini?

Yaa Allah, ighfirli,,, tak lagi aku menyiksa badan yang Engkau beri. Aku akan lebih banyak bersyukur dengan apa yang aku punya selama ini.

Barangkali inilah yang disebut atsar bagiku, Ramadhan 2025 adalah jejak yang tertinggal setelah sebuah peristiwa berlalu. Ia tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi terasa dalam cara ku memandang hidup, dan merangkainya kembali satu per satu. Sakit itu mungkin hanya berlangsung beberapa hari, namun bekasnya menetap lebih lama dalam kesadaran, hati, dan pikiranku. Aku mulai menyadari bahwa setiap ujian meninggalkan bekasnya sendiri, tepat di otakku. Ada ujian yang meninggalkan luka, ada pula yang meninggalkan hikmah, dan keduanya sama-sama membentuk siapa aku mulai saat itu. Ramadhan 2025 bukan sekadar bulan yang terlewati, tetapi ruang yang menorehkan tanda di hatiku.

Dulu aku memaknai Ramadhan sebagai perlombaan, berapa juz yang selesai, berapa target yang tercapai, seberapa kuat tubuh menahan lelah. Namun sakit mengajarkanku sesuatu yang lebih sunyi, bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari ketulusan hati yang berserah. Lelah, namun indah dan aku mulai memetik banyak hikmah. Aku tidak lagi ingin berlari tanpa arah. Aku ingin berjalan dengan sadar, bahwa setiap detik adalah titipan dan setiap napas adalah amanah.

Di ranjang rumah sakit itu, aku belajar bahwa tubuh ini pun memiliki hak untuk dijaga. Bahwa ketaatan bukan hanya tentang memaksakan diri, tetapi juga tentang menerima keringanan yang Allah beri dengan lapang di dada. Dari situlah aku paham, bekas yang Allah tinggalkan dalam hidupku bukan untuk melemahkan, melainkan untuk meluruskan langkahku di dunia yang sejatinya fana. Jejak itu perlahan mengubah caraku bekerja, caraku berdoa, bahkan caraku memandang kala. Kini aku mengerti, atsar tidak selalu hadir dalam besarnya sebuah peristiwa. Kadang ia lahir dari ruang sempit, dari tubuh yang terbaring, dari air mata. Dan dari sana, sebuah hati belajar pulang dengan lebih tenang kembali pada jiwanya.

Ya Allah.. Ya Tuhan…

Maha Pemberi Jawaban….

Jika ini Ramadhan terakhirku, aku akan menjalani setiap detiknya dengan perlahan. Aku akan menyambutnya bukan hanya dengan jadwal ibadah yang rapi atau catatan target amalan. Tapi dengan hati yang lebih tenang, seolah setiap embusan angin subuh adalah bisikan terakhir dari langit yang menuntunku pulang.

Di setiap sujudku, aku akan menangis sedikit lebih lama. Bukan karena takut, tapi karena aku akhirnya benar-benar menyadari betapa sering aku menjadikan dunia sebagai rumah abadi, padahal semuanya hanya sebuah persinggahan yang fana. Selama ini aku terlalu mengejar banyak hal, mimpi, pekerjaan, bahkan pengakuan namun lupa bahwa waktu tak pernah kembali dan tergantikan perjalanannya.

Aku akan memeluk bapak ibu, juga anakku. Akan ku katakan “Terima kasih sudah mencintai ku.” Aku akan lebih banyak meminta maaf dan restu. Pada saudara yang pernah tersinggung ucapan kecilku, pada sahabat yang jarang kuhubungi, juga pada diriku sendiri karena terlalu keras, menghakimi, dan memaksa tanpa peduli saat sehatku. Jika ini Ramadhan terakhirku, aku ingin hati yang pergi tanpa beban dendam, dan tanpa luka yang dibiarkan pilu.

Pada malam-malam sunyi, aku akan mengulang doa yang dulu sempat tertahan: doa untuk ketenangan, ampunan, dan kemampuan memaafkan masa lalu. Aku ingin merasakan Lailatul Qadar bukan hanya sebagai cerita, tapi sebagai keheningan yang menyentuh tulang, menggetarkan jiwa, dan membuatku mengerti bahwa malam yang paling sunyi pun mengandung cahaya yang menerangi jalanku. Aku akan memohon ampunan padaNya atas permintaan yang beribu-ribu padahal sujudku terburu-buru.

Ya Allah..

Maha Pemberi Segalanya…

Jika ini Ramadhan terakhirku, aku akan berhenti berlomba dengan hal yang tidak penting dalam hidup sebagai manusia yang banyak dosa. Aku tak ingin menjadi yang paling kaya, paling dipuji, atau paling sempurna. Aku hanya ingin menjadi hamba yang pulang dengan hati yang bersih dan nama yang dicintai oleh langit dan para penghuni Surga. Tapi siapa saya ?

 

Ketika adzan Maghrib di hari terakhir berkumandang, aku ingin menatap langit yang memerah seperti hati yang sedang pulang. Aku ingin tersenyum, bukan karena aku pasti disambut surga, tapi karena aku telah mencoba ikhlas menerima semua dengan hati yang lapang. Aku telah belajar mencintai takdir hidup tanpa lupa bahwa dalam perjalanannya terkadang kelam. Aku telah menanam doa di malam-malam sunyi dan membiarkan air mata menjadi saksi ketulusanku dalam sujud yang panjang.

Ya Allah..

Yang Maha Kuasa…

Jika ini Ramadhan terakhirku, aku ingin meninggalkan dunia dengan hati yang damai, dengan wajah yang bersujud, dan dengan nama yang disebut lembut dalam doa orang-orang yang kucinta. Namun, jika Allah masih memberiku satu Ramadhan lagi, aku ingin menggunakannya sebaik hari-hari terakhir yang kubayangkan dengan bahagia. Ramadhan 2025 tidak mengubah takdirku, tapi ia mengubah caraku memaknai hidup yang tidak akan datang untuk kedua kalinya.

 

Surakarta, Ramadhan 2026

 

 

BIONARASI

 

Jihan Maria Ulfa, kelahiran 19 April 42 tahun yang lalu, dia adalah seorang perempuan (yang katanya) manis namun suka kebelet pipis, punya kesabaran tipis, hobby menulis, menangis, dan makan gratis, sedang mengusahakan mempunyai karya (buku) solois, Alhamdulillah sudah berhasil menerbitkan 19 buku antologi berbagai tema yang semuanya bisa dibaca di blog https://jeyszone.blogspot.com/ (mumpung masih) gratis, bertransformasi dari penulis diary jadi penulis antologi dengan genre romantis dan sadis, suka rewatch drakor Hospital Playlist. Motto hidupnya adalah Laa Tahzan Innallaha Ma'ana, Allah always answers your request, maybe not with a yes but always with the best. Penulis bisa dihubungi melalui sosial media FB Jihan Maria Ulfa dan IG @jihan_mariaulfa serta IG @jeys_zone

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...