LAA TAHZAN
INNALLAAHA MA’NAA
(Jejak yang Mengubah Hidupku)
Cerita ini akan dimulai dengan sebuah pertanyaan, punya ayat di kitab suci Al-Qur’an yang menjadi favourite kalian? Kalau pertanyaan tersebut dikembalikan padaku, aku akan dengan lantang menjawab, ya, aku punya. Bahkan potongan ayat tersebut menjadi quote yang jadi kata dan kalimat penghibur saat aku mengalami keterpurukan dan sedang merasa berantakan. Aku bukan ahli tafsir dan ahli di bidang keagamaan. Aku hanya manusia biasa penuh dosa yang sedang mencoba menceritakan bagaimana perjalanan hidup dipengaruhi oleh potongan ayat seperti yang ku jelaskan.
Aku pernah menulis tentang kebiasaan baik yang kakek nenekku ajarkan, yaitu mengaji setiap selesai Sholat Maghrib. Tidak ada televisi yang menyala, hanya mengaji dan tadarus bersama keluarga. Di grup whatsapp keluarga besarku ada agenda khusus untuk khataman setiap pekannya. Aku akan sangat antusias ketika mendapat jadwal membaca juz 10, karena disitulah letak ayat favourite ku yaitu Surah At-Taubah ayat 40. Ayat ini bercerita tentang Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya saat bersembunyi di gua dalam peristiwa hijrah. Dan seperti tema besar buku antologi ini yaitu “Atsar”, yang berarti jejak, bekas, tanda, atau pengaruh yang ditinggalkan sesuatu, (aku memaknainya sebagai “ruang jejak keimanan”, itu bukan arti harfiah kamus tapi itu tafsir metaforis yang sah dan indah), sehingga menurutku potongan ayat favourite ku yang memiliki arti "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita" itu sangat relate analoginya. Lalu apa pengaruh potongan ayat ini dalam hidupku? Aku akan menceritakannya sebentar lagi. Kalian masih mau membacanya kan?
Aku pernah mengalami kejadian buruk yang ku harap tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Yaitu keguguran dan perceraian di tahun yang sama. Jangan ditanya bagaimana hidupku saat itu, aku bahkan ingin mengakhiri semuanya. Jika aku tidak menemukan jawaban masalahku pada kitabNya, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia. Sepanjang tahun itu aku terus bertahan dengan perasaan yang berantakan dan terus menyalahkan keadaan. Aku sering mempertanyakan, kenapa harus aku yang mengalaminya, apakah seberdosa itu diriku hingga aku harus mendapat banyak cobaan. Tak satupun manusia, sekalipun itu orang terdekatku yang bisa memberikan jawaban. Satu-satunya jalan adalah aku kembali berserah diri pada Tuhan, Sang Maha Pemberi Jawaban.
Setiap pekan meski dengan perasaan yang belum sepenuhnya melegakan aku tetap terus melakukan kebiasaan baik yang kakek nenekku ajarkan. Aku tetap mengaji sesuai jadwal mendapat jatah membaca juz berapa kecuali ketika aku sedang halangan. Hingga suatu hari aku sampai pada QS At - Taubah ayat 40. “illâ tanshurûhu fa qad nasharahullâhu idz akhrajahulladzîna kafarû tsâniyatsnaini idz humâ fil-ghâri idz yaqûlu lishâḫibihî lâ taḫzan innallâha ma‘anâ, fa anzalallâhu sakînatahû ‘alaihi wa ayyadahû bijunûdil lam tarauhâ wa ja‘ala kalimatalladzîna kafarus-suflâ, wa kalimatullâhi hiyal-‘ulyâ, wallâhu ‘azîzun ḫakîm”.
Entah kenapa tiba-tiba mataku tertuju pada terjemahan. Lâ taḫzan innallâha ma‘anâ ….jangan bersedih sesungguhnya Allah bersamaku. Aku mengulang potongan ayat tersebut berkali-kali, dan tak terasa air mataku menetes perlahan, kemudian sangat deras membasahi mukena dan sajadahku. Yaa Allah, betapa bodohnya diriku yang di tahun itu banyak menggugatMu. Astaghfirullah, Yaa Allah, Yaa Tuhanku, maafkan aku.. Maafkan atas kesombonganku yang tanpa kusadari menafikan kehadiranMu dalam setiap ujianku. Seketika itu aku bersimpuh dalam sujudku. Mengakui semua kebodohan, kesombongan, dan ketidak berdayaanku tanpaMu. Tak akan lagi kuulangi dosa yang akan membuatMu marah padaku. Ighfirly, Yaa Robbiy… :’(
Berbulan setelahnya, aku mulai belajar menerima keadaan. Sambil menunggu jadwal sidang perceraian, ku tenggelamkan diriku dalam sujud di sepertiga malam. Dalam sujud yang panjang itu, aku tidak lagi meminta jawaban atas takdir yang telah terjadi, ku terima itu sebagai sebuah perjalanan. Aku juga tak lagi meminta hidupku dikembalikan seperti semula, aku hanya meminta hati yang mampu menerima untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sedang bernegosiasi dengan do’a yang kulangitkan.
Aku hanya ingin dekat. Sangat dekat. Sedekat hamba yang sadar bahwa tanpa Tuhannya, ia hanyalah debu yang mudah terhempas oleh angin kehidupan. Untuk pertama kalinya juga setelah sekian lama, aku berhenti mempertanyakan takdir dan mulai mempertanyakan diriku sendiri. Betapa sering aku merasa sendirian, padahal mungkin akulah yang menjauh dari Tuhan.
Aku teringat kembali perjalanan hijrah Rasulullah sebagaimana dikisahkan dalam Surah At-Taubah ayat 40 itu. Saat beliau berada di gua bersama sahabatnya, keadaan tampak begitu sempit dan menakutkan. Namun justru di tempat tersembunyi itulah Allah menurunkan ketenangan. Bukankah hidupku saat itu juga seperti berada di “gua” yang gelap? Sempit. Sunyi. Gelapnya bukan pada ruang, tetapi pada hati yang kehilangan cahaya. Menunggu pertolongan yang tak terlihat bentuknya, apakah itu sebuah karunia atau ujian. Meskipun tentu aku tidak akan pantas disamakan dengan Rasulullah yang memiliki banyak kesempurnaan.
Perlahan aku memahami, bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dengan mengubah keadaan. Kadang Ia datang dengan mengubah hati dan pikiran. Luka mungkin belum sepenuhnya sembuh, masalah memang belum sepenuhnya selesai, tetapi ada ketenangan yang mulai tumbuh seperti cahaya kecil di ujung lorong jalan kehidupan. Dan di antara sisa-sisa air mata itu, aku tak lagi merasa sendirian.
Perlahan aku juga mengerti, mungkin Allah tidak selalu mengangkat kita dari ujian seketika. Kadang Dia membiarkan kita duduk lebih lama di dalam gelap agar kita benar-benar sadar bahwa satu-satunya cahaya hanyalah Dia. Dan di antara tangis yang tak lagi kutahan, aku merasa ada sesuatu yang kembali utuh dalam diriku, sebuah keyakinan bahwa aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan olehNya dalam setiap keadaan.
Di titik itulah aku berhenti menawar takdir. Aku tak lagi sibuk bertanya mengapa harus aku, mengapa harus sekarang, atau mengapa jalannya terasa begitu terjal. Pertanyaan-pertanyaan itu pelan-pelan luluh menjadi perenungan yang lebih jernih, mungkin hidup bukan tentang mengulang kesempatan seperti dalam bayangan manusia, melainkan tentang memaknai satu-satunya kesempatan yang telah dianugerahkan. Dari sana, pikiranku yang semula dipenuhi penyesalan mulai belajar menerima, bahwa setiap detik yang telah berlalu tidak meminta untuk diulang, tetapi untuk dipahami sebagai sebuah fase kehidupan.
Aku kembali pada satu titik imajinasi yang akhirnya terhenti pada satu kesadaran, tak ada reinkarnasi dalam sebuah kehidupan. Yang ada hanyalah penerimaan. Melalui konsep amor fati, dan pemaknaan sederhana dari lâ taḫzan innallâha ma‘anâ, aku mencintai takdirku kini, aku belajar memeluk luka sebagai bagian berharga dari perjalanan. Potongan ayat itu bukan hanya penghibur sesaat. Ia meninggalkan jejak yang tak terhapus dalam cara pandangku terhadap hidup. Aku mulai melihat masa lalu bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai jalan pulang untuk memahami diri lebih dalam. Dengan hati yang kini lebih kuat, aku menulis rencana hidup dengan pensil dan menyerahkan penghapusnya pada Tuhan. Agar Dia mengganti rencanaku yang salah dan mengganti dengan rencanaNya yang lebih indah di masa depan.
Kuyakini bahwa setiap kepedihan memiliki tujuan. Membentuk menjadi aku yang baru, aku yang akhirnya mampu mencintai takdirnya sendiri, mencintai kenyataan yang Tuhan berikan. Aku mengerti, bahwa kehilangan bukan akhir, tapi titik temu dengan diriku yang sesungguhnya. Dalam kisah ini, aku merangkai kembali potongan-potongan jiwa dengan cinta yang tumbuh dari penerimaan rasa: amor fati-saat jiwa pulang ke takdirnya, jiwa yang awalnya hilang kini sudah kembali bertuan.
Ya. Ketika hidup menghadirkan badai yang terasa tak berujung, manusia sering kali merasa rapuh, terjatuh, bahkan ingin sekali menyerah dan mengakhiri perjalanan. Namun, di balik setiap peluh dan air mata juga keputusasaan, ada kekuatan yang tak terlihat, yaitu do’a dan iman. Aku menulis lagi kisah ini sebagai refleksi bahwa hati yang berulang kali diuji oleh kehilangan, kegagalan, dan keterpurukan, tetap memiliki kesempatan menemukan pijakan.
Ada masa ketika aku merasa doaku hanya memantul di langit yang sunyi. Bibirku tetap bergerak, tetapi hatiku gamang, seakan tak ada yang benar-benar mendengar isi hati ini. Hari-hari terasa berat, dan aku mulai mempertanyakan banyak hal tentang takdir, tentang harapan, bahkan tentang diriku sendiri. Di titik itu, aku sadar bahwa yang sedang diuji bukan hanya kesabaran, tetapi juga kepercayaan.
Pelan-pelan aku belajar bahwa tidak semua jawaban datang dalam bentuk yang bisa segera kupahami. Ada doa yang dijawab dengan penundaan, ada harapan yang dipeluk dengan cara yang tak terduga. Justru dalam jeda itulah aku diajari untuk bertahan, untuk membersihkan niat, dan untuk kembali merendahkan diri. Rasa sakit yang semula kupandang sebagai hukuman, perlahan berubah menjadi jalan pulang menuju sebuah kedamaian.
Dan ketika aku berhenti menuntut semesta berjalan sesuai kehendakku, ada ketenangan yang mulai tumbuh. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hatiku tak lagi sendirian menanggungnya. Dalam diam yang panjang itu, aku menemukan bahwa berserah bukan berarti kalah, melainkan percaya sepenuhnya bahwa ada tangan yang tak pernah salah menggenggam hidupku, yaitu campur tangan Tuhan.
Ini bukan hanya sekedar cerita tentang luka, melainkan tentang bagaimana do’a dan kepasrahan menjadi penopang dalam gelap, serta iman menjadi penerang saat langkah terasa goyah. Rasanya Allah menegurku dengan cara yang lembut namun tegas, mengajakku kembali mengeluh dan memohon hanya kepada-Nya. Membuatku semakin percaya, Allah selalu menjawab setiap doa. Mungkin bukan dengan “ya” seperti yang kita harapkan, tetapi selalu dengan yang terbaik menurut-Nya. Allah akan selalu menyiapkan jawaban atas semua masalah yang dialami ciptaanNya.. Kini aku sadar, ayat itu bukan sekadar bacaan favorit. Ia adalah atsar, jejak ilahi yang mengubah caraku memaknai luka. Laa tahzan innallaaha ma’anaa. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.
Surakarta, malam 1 Ramadhan 1447 H
BIONARASI
Jihan Maria Ulfa, kelahiran 19 April 42 tahun yang lalu, seorang ibu tunggal yang sehari-hari bekerja di instansi pemerintahan, punya hobi menulis, menangis, dan makan gratis. Jika sedang galau semua yang dirasakannya bisa jadi tulisan di diary dan caption sosial media. Pemalu dan pendendam adalah sifat asli yang seharusnya dihilangkannya.
Sudah lama bercita-cita menjadi penulis profesional tapi pendidikan yang ditempuhnya tidak relate, sehingga menulis hanya menjadi sarana self healing untuknya. Tahun 2025 dia bertransformasi dari penulis diary menjadi penulis antologi. Buku ini adalah karya kesekian darinya. Beberapa antologi berbagai tema sudah berhasil lahir dari tangan sok sibuk nya. Motto hidupnya adalah Laa Tahzan Innallaha Ma'ana, Allah always answers your request, maybe not with a yes but always with the best. Penulis bisa dihubungi melalui sosial media FB Jihan Maria Ulfa dan IG @jihan_mariaulfa serta IG @jeys_zone

Komentar