Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T.
Day 1 Target Ramadhan tahun ini
Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku.
Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.
Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan di challenge kali ini. Aku akan menulis tentang refleksi yang ku jalani beberapa tahun ini. Semoga ini bisa menjadi ibrah bagi teman-teman dan tentunya untuk diriku sendiri.
Seperti yang teman-teman baca di paragraf sebelumnya, tahun 2025 aku seharusnya tidak memiliki kewajiban mengqadha puasa karena jadwal bulananku mundur. Namun seminggu di awal Ramadhan aku “terpaksa” tidak puasa karena sakit. Aku terkena tipes yang mengharuskanku rawat inap di rumah sakit. Allah memang Maha Baik kepada umat kekasihNya. DIA memberikan rukhsah kepada hambaNya saat kondisi tertentu, sepertiku.
Rasanya Ramadhan 2025 adalah Ramadhan terberatku. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku? Sedangkan aku belum punya bekal cukup untuk kembali padaNya. Berkali-kali aku merenungi kalimat yang ku buat sendiri itu. “Bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku?” Bukankah umur tidak ada yang tahu?
Ramadhan memang punya cara sendiri untuk membuat kita menatap diri lebih dalam. Pertanyaan “bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku?” itu bukan pertanyaan yang melemahkan. Justru itu tanda hati sedang bernyawa, sedang sadar bahwa umur bukan milik kita, bahwa waktu bukan sesuatu yang bisa ditunda. Ramadhan 2025 mungkin terasa paling berat karena aku menjalaninya dengan kesadaran yang berbeda. Tubuhku diuji. Rencanaku berantakan. Tapi aku bersyukur, masih diberi kesempatan untuk menyambutnya lagi tahun ini. Alhamdulillah..
Targetku tahun ini sederhana, sehat, tidak rawat inap lagi, dan semoga sehat seterusnya. Itu bukan target kecil. Itu doa yang lahir dari pengalaman sakit. Kini, aku memberi ruang perenungan pada diriku sendiri, bahwa ramadhan tidak selalu tentang khatam berkali-kali, atau ibadah yang terlihat luar biasa. Kadang Ramadhan terbaik adalah yang dijalani pelan-pelan. Shalat yang lebih khusyuk karena pernah hampir tak bisa berdiri menunaikan kewajiban. Dan tentu doa yang lebih lirih karena tahu rasanya pernah tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Soal “Ramadhan terakhir”, kita memang tak pernah tahu. Tapi justru karena tak tahu, kita bisa memilih untuk lebih lembut pada diri sendiri, lebih bersungguh-sungguh dalam istighfar, lebih tulus dalam setiap sujud di sepertiga malam. Kalau Ramadhan ini aku masih merasa berat, aku ingin menjalaninya setiap hari, cukup dengan sehat, berbuka dengan tenang, dan mengucap Alhamdulillah karena aku bisa menjalaninya tanpa selang infus.
Jadi, kalau ditanya apa target Ramadhanku tahun ini, aku hanya ingin menjalani bulan suci ini dengan sehat lahir dan batin, tidak lagi rawat inap seperti tahun lalu, dan semoga sehat seterusnya yaa. Aamiin
Grobogan, 21 Februari 2026
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar