Rabu, 18 Februari 2026

Antologi keduabelas -- LAA TAHZAN INNALLAAHA MA’ANAA

 





Jihan Maria Ulfa, S.T.








Apakah kalian punya ayat di kitab suci Al- Qur’an yang menjadi favourite kalian? Aku punya. Bahkan potongan ayat tersebut menjadi quote yang jadi kata dan kalimat penghibur saat aku mengalami keterpurukan dan sedang merasa berantakan. Aku bukan ahli tafsir dan ahli agama. Aku hanya manusia biasa penuh dosa yang sedang mencoba menceritakan bagaimana perjalanan hidup dipengaruhi oleh potongan ayat seperti yang ku jelaskan sebelumnya. 

Ini karya antologi keempat belas-ku. Dalam antologi ke dua belas yang berjudul “Tangan Keriput, Hati yang Lembut”, aku pernah menuliskan tentang kebiasaan baik yang kakek nenekku ajarkan, yaitu mengaji setiap selesai Sholat Maghrib. Bahkan di grup whatsapp keluarga besarku ada agenda khusus untuk khataman setiap pekannya. Aku akan sangat antusias ketika mendapat jadwal membaca juz 10, karena disitulah letak ayat favourite ku. 

Ya, jika sekarang kalian sedang memegang mushaf, ayat favourite ku adalah Surah At-Taubah ayat 40 yang berada di Juz 10 dalam Al-Qur'an. Ayat ini sepanjang pengetahuanku, bercerita tentang Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya saat bersembunyi di gua dalam peristiwa hijrah. Dan seperti tema besar buku antologi ini yaitu “Setiap Ujianku, Allah Ada Bersamaku”, potongan ayat ini memiliki arti "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita". Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Allah SWT telah menolong Nabi Muhammad SAW, memperkuatnya dengan malaikat yang tidak terlihat, dan mengutuk seruan orang-orang kafir. Lalu apa pengaruh potongan ayat ini dalam hidupku? Aku akan menceritakannya sebentar lagi. Kalian masih mau membacanya kan?

Beberapa waktu yang lalu…

Aku pernah mengalami kejadian buruk yang sampai saat ini ku harap tidak akan terjadi untuk kedua kali. Yaitu keguguran dan perceraian di tahun yang sama. Jangan ditanya bagaimana hidupku saat itu. Aku bahkan ingin mengakhiri semuanya. Jika aku tidak menemukan jawaban masalahku pada kitabNya, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia.

Sepanjang tahun itu aku terus bertahan dengan perasaan yang berantakan dan terus menyalahkan keadaan. Aku sering mempertanyakan, kenapa harus aku yang mengalaminya, apakah seberdosa itu diriku hingga aku harus mendapat banyak cobaan. Tak satupun manusia, sekalipun itu orang terdekatku yang bisa memberikan jawaban. Satu-satunya jalan adalah aku kembali berserah diri pada Allah, Satu-satunya Tuhan, Sang Maha Pemberi Jawaban.

Setiap pekan meski dengan perasaan yang belum sepenuhnya melegakan aku tetap terus melanjutkan kebiasaan baik yang kakek nenekku ajarkan. Aku tetap mengaji sesuai jadwal mendapat jatah membaca Al-Qur’an kecuali ketika aku sedang halangan. Hingga suatu hari bacaanku terhenti lama saat aku sampai pada QS At- Taubah ayat 40. 

“illâ tanshurûhu fa qad nasharahullâhu idz akhrajahulladzîna kafarû tsâniyatsnaini idz humâ fil-ghâri idz yaqûlu lishâibihî lâ tazan innallâha ma‘anâ, fa anzalallâhu sakînatahû ‘alaihi wa ayyadahû bijunûdil lam tarauhâ wa ja‘ala kalimatalladzîna kafarus-suflâ, wa kalimatullâhi hiyal-‘ulyâ, wallâhu ‘azîzun akîm”. 

Entah kenapa tiba-tiba mataku tertuju pada terjemahan dari kalimat.. Lâ tazan innallâha ma‘anâ ….jangan bersedih sesungguhnya Allah bersamaku. Aku mengulang potongan ayat tersebut berkali-kali, dan tanpa terasa air mataku menetes deras, sederas-derasnya hingga membasahi mukena dan sajadahku. Yaa Allah, betapa bodohnya diriku yang di tahun itu banyak menggugatMu. Astaghfirullah, Yaa Allah, Yaa Tuhanku, maafkan aku.. 

Maafkan atas kesombonganku yang tanpa kusadari menafikan kehadiranMu dalam setiap ujianku. Aku bersimpuh, untuk mengakui semua kebodohan, kesombongan, dan ketidak berdayaanku tanpaMu. Tak akan lagi kuulangi dosa yang akan membuatMu marah padaku. Ighfirly, Yaa Robbiy…

Sayup-sayup terdengar lagu Mengemis Kasih dari Raihan, group nasyid favouriteku saat sekolah dulu. 

Tuhan dosaku menggunung tinggi

Tapi rahmat-Mu melangit luas

Harga selautan syukurku

Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

Tuhan walau taubat sering kumungkir

Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi

Bila selangkah kurapat pada-Mu

Seribu langkah Kau rapat padaku

Rasanya lengkap sudah Allah menegurku saat itu. Allah ingin aku kembali mengeluh dan memohon pertolongan hanya kepadaNya. Allah cemburu karena dalam setiap ujianku sempat kuragukan kehadiranNya. Kini aku semakin mengerti bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hambaNya. Sekalipun hamba tersebut makhluk yang sangat berdosa. Allah akan selalu menyiapkan jawaban atas semua masalah yang dialami ciptaanNya. 

Yes, now I believe, Allah always answers our request, may be not with a yes, but always with the best. Laa tahzan innallaaha ma’anaa. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Kini potongan ayat favourite ku itu selalu menjadi quote dan motto hidup setiap aku berkarya. Pun di dalam buku ini yang bisa kalian baca di bagian akhir biodata. 

Sampai jumpa lagi di antologi selanjutnya kawan pembaca ^_^


Surakarta, awal September 2025


Tidak ada komentar: