
Jihan Maria Ulfa
Pernah ngalamin kehilangan sesuatu, dan kita merasa sangat sedih? Tapi kemudian, Allah memberi kita ganti yang ternyata lebih baik? Aku pernah. Seperti yang akan aku ceritakan pada antologi ini.
2018 adalah tahun kesedihan bagiku. Itulah awal ceritaku mengenai sebuah nikmat singkat, nikmat yang pernah hadir meski sesaat. Bulan itu, tepatnya 31 Desember 2017, adalah HPHT ku. Yang berarti semenjak itu telah dititipkan makhluk kecil di rahimku. Tentu aku belum tahu karena beberapa bulan kemudian baru kusadari aku hamil. Tapi rencana dan hitungan manusia tentu berbeda dengan takdirNya. 11 Maret 2018 setelah hampir 2 minggu merasakan pusing yang tak biasa, ternyata anugerah Allah yang kedua tiba, hasil testpack menunjukkan stripe 2. Senang dan sedih campur jadi satu rasanya. Senang karena salah satu keinginan lama tiba, sedih karena rasanya belum mampu dengan sabar membimbing anak pertama. Duhh,Allah,entah apa yang terjadi sehingga hambaMu ini penuh keraguan. 3 hari kemudian kabar bahagia itu berubah menjadi duka, karena Allah telah mengambil malaikat keduaku, setelah sore itu darah mengalir dari jalan lahirku. Kabar bahagia yang ternyata hanya beberapa hari umurnya. :’(
Selain kehilangan janin, bertubi masalah keluarga juga kualami di waktu yang sama. Aku kehilangan dua orang yang sempat memberi warna dalam hidup. Satu memberi warna kelam yaitu mantan suamiku dan satu lagi belum sempat menorehkan indahnya warna dalam kehidupanku. Tapi di akhir tahun 2018 Allah dengan cepat memberi ganti nikmat berlipat di waktu yang tepat. Menjadi ASN di penghujung batas usia.
Entah, sudah berapa purnama sejak peristiwa itu, terkadang aku masih menangisi keadaanku. Banyak air mata yang ku keluarkan jika mengingat bilangan tahun keadaan saat itu. Berapa tetes darah yang hilang, akibat aku kehilangan janinku. Peristiwa pahit yang ku harap hanya sekali dalam hidupku.
Namun perlahan aku sadar, Allah membuatku seperti ini agar aku semakin kuat menjalani hidup. Seseorang berkata padaku, Allah meletakkan sesuatu yang berat, pada tempat yang kuat, seperti bahumu Jihan. Ah, sebenarnya aku tidak sekuat itu kawan, aku hanya berusaha kuat dan tetap semangat demi orang-orang yang mencintaiku.
Jadi, apa yang harus kita lakukan dan ajarkan pada diri sendiri ketika kita kehilangan? Yup, kita harus move on. Kalau mengurung diri dalam kesedihan, kita akan putus asa dan kehilangan tujuan hidup. Memang saat berbicara kesannya mudah. Tapi saat kesedihan itu datang, kadang terasa sulit.
Laa tahzan Innallaha Ma’ana,,, Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,,,
Yang ku rasakan juga tak jauh beda. Sulit pada awalnya, butuh banyak bilangan hari untuk mengobatinya, namun keyakinan pada Allah bahwa DIA tak mungkin salah memilih pundak, juga jiwa yang kuat untuk diberi beban dan cobaan, ku coba perlahan bangkit untuk melewatinya.
Butuh banyak darah dan air mata untuk melaluinya. Butuh malam panjang nan gelap dan kelam untuk menyendiri dan bercengkrama dengan Sang Pencipta.
Ikhlas tidak ada yang instan, Semua perlu perjuangan yang melelahkan. Ikhlas butuh kesadaran, Diri harus belajar menerima, bahwa kenyataan harus dihadapi bukan dijauhi agar tidak menanggung pedih yang mengiris hati. Ikhlas butuh hati yang lapang, memaafkan diri dan menerima apa pun yang terjadi.
Namun jika aku boleh aku meminta, kepada semua yang telah menyakitiku aku ingin berkata
“Pinjamlah hati orang yang kau sakiti dan kau ambil haknya agar kau tahu betapa sabar dan ikhlas itu berat rasanya.”
Kini,,, aku terus mencoba mengerti bahwa semua berawal dari mimpi yang diperjuangkan dan semua keputusan terbaik harus diambil dengan melibatkan DIA. Jadi ingat quote yang selalu berulang kubaca ketika dalam kondisi jatuh,,
Allah always answers your request. May be not with a yes. But always with the best.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar