Langsung ke konten utama

Antologi ketujuh -- VERSI BARU DIRIKU


 



Jihan Maria Ulfa


Aku yang dulu utuh

Kini tinggal separuh

Karena luka yang tak kunjung sembuh

Pengadilan Agama, 11 Oktober 2018

Sepanjang 2018, rasanya semesta tidak berpihak kepadaku. Setelah di pertengahan Maret aku kehilangan janinku yang kedua, sehari setelah ulang tahun anak pertamaku yang ke enam di Bulan Oktober, aku datang ke tempat yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Ku harap di tahun-tahun selanjutnya aku tidak akan lagi berada di sana. 

Hari itu adalah jadwal sidang pertama perceraianku. Semua menjadi mimpi buruk bagiku. Aku tak pernah tahu dan tak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi setelah aku melewati semua ini. Yang aku tahu duniaku hancur lebur sejak itu. Andai aku tidak bertemu dengan sahabat-sahabat fillah-ku, mungkin aku tidak akan bisa menulis cerita ini.


Dia yang dulu ku anggap sebagai imam yang dapat memperlakukanku sebagai ratu dalam kehidupannya ternyata menghancurkan aku dan semua yang aku punya. Dia tidak pernah mau mewujudkan cita-cita untuk hidup bahagia bersama. 7 tahun sudah aku hidup berumah tangga namun bagai neraka di dalamnya. Pertengkaran-pertengkaran yang tidak pernah mau dia selesaikan secara dewasa, dan aku yang akhirnya putus asa mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama. 

Dua kali sidang dia tidak datang. Mungkin karena takut atau memang sengaja agar semua selesai dengan segera, dan menghasilkan keputusan yang matang. Ya, duniaku memang hancur saat itu tapi aku menang. Aku menemukan kembali hidupku yang tenang, penuh kasih sayang, dan tidak terkekang.

Pulang dari tempat yang tak ingin ku datangi lagi itu, kembali ku rangkai satu-satu mimpiku. Aku tidak pernah tahu begitu mudahnya di tahun yang sama setelah kehancuran itu Allah merubah hidupku. Aku menemukan kembali keceriaan dan versi baru diriku.

Aku yang sebelumnya adalah seorang istri yang pekerjaannya hanya mengurus suami dan anak serta kebutuhan rumah tangga, seketika bertransformasi menjadi seorang ibu tunggal yang bekerja dengan segala lika liku lukanya serta menjalani hari-harinya dengan haru dan huru hara. Aku berjuang sendiri memenuhi kebutuhan anak semata wayangku. Termasuk naik level ketika anak laki-lakiku meminta untuk “dikhitan”. Setelah drama yang tidak habis-habis dan berujung menangis, di ulang tahunnya yang ke sebelas, di tahun 2023 dia dengan tegas berkata padaku, “buk, aku mau khitan sekarang,” Bahagia juga terharu aku mendengarnya. Dia sudah remaja rupanya. Bukan anak kecil yang bisa ku atur segalanya. Baiklah, nak, ibu penuhi permintaanmu.

Pulang dari tempat khitan, seorang saudara berkata padaku, “Sekarang usianya thole berapa mbak? Kalau sudah mencapai dua belas tahun segera didaftarkan haji saja” Kata-kata saudaraku itu terngiang-ngiang selalu di telingaku, dan sejak saat itu aku bertekad kuat di tahun 2024 sebagai hadiah ulang tahun anakku yang ke dua belas aku akan mendaftar haji untuknya dan untukku juga. 

Dulu setiap ada yang menawarkan padaku untuk mendaftar haji selalu aku tolak karena hatiku belum terpanggil. Dan ku rasa saat ini adalah waktu yang memang dirancang Allah untuk mendaftar, memenuhi panggilanNya ke tanah suci. 

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku tidak pernah tahu skenario indah apa yang Allah rancang untukku. Ternyata ini jawabannya, aku memantapkan hati untuk semakin mendekat pada Penciptaku. Bismillah,,, Mecca I’m coming,, 

Yaa, aku memang (sempat) lelah, dan ingin mengakhiri semuanya, tapi aku harus terus bertahan hidup. Bukan hanya untukku sendiri tapi untuk orang-orang yang menyayangiku, dan seseorang yang masih membutuhkan kehadiranku, yaitu anak semata wayangku.

Sebagai penutup cerita, aku hanya ingin merangkai kata menjadi puisi pendek yang selalu berulang ku baca sebagai penyemangat agar aku lebih bahagia dan perlahan sembuh dari luka.

Aku ingin lima tambah lima sama dengan sepuluh

Namun Allah memberiku jalan

(Enam kali dua) ditambah (sepuluh dikurangi dua) 

dikurangi (sebelas dikurangi satu)

Hasilnya sama sesuai harapanku

Tapi jalannya sungguh berliku

Wahai diriku,,

Tak apa jatuh asal tetap utuh

Tetap berjuang untuk tumbuh dan sembuh

Surakarta, Mei 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...