Langsung ke konten utama

Antologi kesebelas -- KEPADA AKU YANG DULU: AKU RINDU

 


Jihan Maria Ulfa, S.T.










Namaku Aruni. Nayanika Arunika adalah nama lengkap yang diberikan orang tuaku. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa nama adalah do’a. Ketika aku lahir, bapak ibu mengharapkanku menjadi seorang wanita yang memiliki mata indah dan memancarkan daya tarik disertai pemikiran yang baik seperti cahaya matahari pagi setelah terbit. Indah ya artinya. Tapi, apakah keindahan itu juga beriringan dengan sempurnanya kisah hidupku? Sepertinya tidak terlalu begitu. Kisahku sungguh sangat berliku.

Saat ini aku tinggal jauh dari keluarga karena harus bekerja. Dan aku adalah single mother dari seorang anak laki-laki usia remaja. Wajahku biasa saja, aku juga tidak terlalu pintar (sekarang), tapi bagi Birru, putraku, aku adalah seorang bidadari Surga. Ini ceritaku menemukan kembali keindahan yang ku rindu.

Dulu aku adalah gadis kecil yang ceria dan membanggakan dengan prestasi akademik yang memukau di zamannya. Aku pernah meraih nilai tertinggi Matematika di tingkat kecamatan pada ujian nasional. Semua itu mengantarkanku masuk ke sekolah favourite jenjang selanjutnya. Disinilah aku mulai merasakan jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang laki-laki, sebut saja namanya Jay. Dia adalah rival dari kelas sebelah. Kami bersaing untuk mendapatkan peringkat paralel setiap cawu nya. Dia baik, sholeh, dan good looking untuk ukuran remaja sebayanya. Jika kalian bertanya, apakah akhirnya Arunika dan Jay jadian dan saling suka ? Jawabannya tidak. Sedih yaa. Karena Jay lebih memilih Hermila, cewek manis yang sudah ditaksirnya sejak kelas satu. Jay adalah luka pertama Arunika muda.

Luka pertama dan terlama karena beberapa tahun kemudian aku baru kembali dekat dengan laki-laki yang kukenal lewat acara dating di radio. Namanya Widy. Aku mengenal Widy di saat usiaku sudah matang yaitu 24 tahun. Tentu cinta kami tidak lagi main-main. Setelah aku lulus kuliah, kami sudah sepakat untuk menikah. Namun entah mengapa, tiba-tiba Widy pamit karena dia dijodohkan oleh guru ngajinya. Nayanika Arunika kembali terluka untuk kedua kalinya.

Terluka karena pacar yang kuharap membawa kebahagiaan, aku memutuskan menerima sebuah perjodohan yang dirancang oleh bapak. Yang justru seseorang ini perlahan menghancurkan hidupku. Dimulai dengan perkenalan singkat dengan seorang pemuda yang 6 tahun lebih tua. Namanya Angkasa. 14 September 2011, di depan sebuah rumah kost di Kota Surabaya. Aku duduk berhadapan dengan Angkasa. Ini pertemuan kami yang kedua setelah sebelumnya dia datang ke rumah untuk bertemu dengan orang tuaku.

2 bulan setelah pertemuan itu, kami menikah. Bucinnya kami berdua saat itu. Perkenalan yang singkat membuat kami memutuskan berpacaran setelah menikah. Kelihatannya memang indah bukan? Ternyata ‘luka masa kecil’ Angkasa akibat perceraian orang tuanya membuat biduk rumah tangga kami tidak baik-baik saja. Angkasa benci ibunya, namun aku yang kena tulahnya. Angkasa dendam kepada ibunya, namun aku yang jadi pelampiasannya. Itulah luka tersakit yang dia torehkan padaku, pada seorang Arunika yang setiap hari berdo’a agar dia berubah dan lebih bertanggung jawab terhadapku dan anaknya, Birru. Seperti janji yang dia ucap ketika menjabat tangan bapak di momen akad.

Hanya 7 tahun membina rumah tangga hingga akhirnya Arunika dewasa memutuskan bercerai dengan Angkasa. Tepat di ulang tahun Birru yang keenam, Pengadilan Agama di kota kami memutuskan Angkasa bukan lagi suamiku. Jika semesta merestui sebuah perpisahan, kita tidak akan bertemu dalam kebetulan apapun. Hanya itu yang bisa aku sampaikan kepada Angkasa. 

Sejak itu keceriaan yang dulu ada berubah menjadi sebuah luka yang merenggut semua senyum di wajah. Aku sering berandai-andai jika aku yang sekarang bisa menyapa aku kecil, aku akan menyampaikan banyak hal. “Hai aku di 1989, kamu sungguh lucu, seseorang bilang padaku, mataku seperti menyiratkan sesuatu yang sendu. Aku tidak tahu apakah memang seperti itu, karena memang hingga sekarang, banyak sekali luka terpendam yang tak pernah kubagi dan seringnya kurasakan sendiri. Untukku di 1999, apakah menjadi saat ini adalah keinginanmu dulu? Ku rasa iya, karena kita tahu, bagaimana kita dididik untuk menggapai semua cita. Dan kamu di 2009 adalah manusia yang siap mewujudkan semua impiannya.

Kalian, bisa jadi adalah pribadi yang sangat berbeda denganku yang sedang menulis cerita ini. Aku adalah kalian beberapa tahun kemudian, dan kalian adalah aku di masa lalu yang sedang menulis mimpi-mimpi, dan berusaha kuat serta semangat untuk mewujudkannya. Aku bersyukur dengan apapun yang telah ku lewati hingga membentukku jadi sosok yang lebih baik di titik ini. Maafkan aku yang dulu sering membuatmu berjuang lebih keras untuk menggapai rencana kita. Ini aku lakukan agar aku bisa terus bangga padamu. Tersenyumlah, karena kita menjadi pemenang sekarang. Berbahagialah dengan sederhana. Ingatlah bahwa jalan yang kita lalui tidak mudah, namun percayalah aku tetap bangga kepadamu. Terimakasih atas perjuanganmu. Kepada aku kecil, maaf ya, ternyata kamu besarnya nggak semeriah dan seenak yang kamu bayangkan dulu”

I miss me

The old me

The happy me

The bright me

The smiling me

The laughing me

The gone me 

I miss me so much

Surakarta, awal Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...