Langsung ke konten utama

Antologi Pertama -- KOTA S : IMPIAN DAN TAKDIRKU



 

Jihan Maria Ulfa

Haii,, kenalkan ! Namaku Jihan. Kali ini, aku akan mencoba bercerita tentang perubahan drastis dalam hidupku. Duniaku berubah, benar-benar berubah, dari Full Time Mother menjadi Working Mom. Dari melihat tumpukan cucian jadi melihat tumpukan dokumen yang harus diselesaikan. Apakah kalian mau membaca ceritaku ? Tapi jangan di-bully ya, karena aku masih penulis pemula :D

Seperti membuat kolase, beberapa hari ini aku merasa disibukkan dengan kepingan peristiwa lalu yang membentukku sebagai seorang yang baru. Hampir enam tahun tak ku sangka semua sudah berlalu. Dimulai saat pertama kali aku datang ke kota Surakarta, sebagai ibu pekerja dan menjadi seorang perantau. Semua kejadian mengingatkanku pada masa muda dulu di dua kota S yang lain, Semarang dan Surabaya. Entah apa korelasiku dengan kota-kota berawalan huruf S ini, aku tidak pernah tahu. Karena kenyataannya, takdirku membawa kepada tiga kota itu.

Belajar di Semarang sejak masa putih abu hingga lulus dan bergelar sarjana, kemudian bekerja di Surabaya memang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiranku. Ingin rasanya merapikan semua kejadian yang mungkin tidak terlalu indah, namun tentu tidak bisa, karena aku tidak bisa menghentikan waktu. Ingin pula rasanya menghapus rencana-rencana yang salah dan menggantinya dengan rencana yang lebih indah. Namun, lagi-lagi tentu itu hanya angan belaka.

Kalau dihitung, genap 10 tahun aku belajar di Kota Semarang. Dari masuk SMA di tahun 1999 hingga lulus S1 di tahun 2009. Setelah bergelar sarjana, aku punya 2 pilihan, lanjut sekolah master dengan biaya sendiri atau kerja cari duit dan belajar mandiri. Di awal jadi sarjana, tentu aku masih idealis dalam berfikir. Aku harus bekerja sesuai bidang keilmuan. 

Singkat cerita, 2 tahun setelah kelulusan aku malah sibuk di rumah. Karena ikut test apapun gagal. Kalau dihitung sudah puluhan kali aku ikut test CPNS, test BUMN, dan test kerja di perusahaan swasta, semua belum menemukan keberhasilan. Pernah punya mimpi untuk lanjut sekolah, tapi biaya tidak ada. Hidup saja masih numpang orangtua. Akhirnya, supaya ada pengalaman kerja, awal 2011 aku "dititipkan" ke sebuah BUMN Cabang Surabaya bagian administrasi keuangan. Yang tentu tidak sesuai cita-citaku yang idealis seperti yang ku ceritakan sebelumnya. Karena job desk ku saat itu sangat-sangat melenceng dari ilmu yang ku dapat saat kuliah. 

Setelah di akhir 2011 aku menikah, aku resign dari pekerjaan lamaku. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama, di awal 2012 aku diterima kerja menjadi tentor di sebuah bimbel. Namun, itupun tidak berlangsung lama, karena hyperemesis aku juga mengajukan resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga.

6 tahun aku jalani hari-hari dengan anak sholeh semata wayangku. Menyuapi, mengikuti setiap tahap perkembangannya, mengenalkan tulis baca dan sebagainya. Sampai di awal tahun 2018, tiba-tiba aku cosplay jadi guru les dadakan di rumah menggantikan ibu yang sudah memasuki masa purna. Murid lesku sudah hampir 30an orang saat kesempatan ikut CPNS datang. 

Kala itu 30 Oktober 2018 jadwal test pertamaku, Seleksi Kompetensi Dasar. Dengan bekal do'a dan restu orang tua serta diiringi rengekan anak, aku ikut test di peluang terakhir (aku daftar di usia 34 tahun 6 bulan). Melangkah dengan pasti ikut antri pemeriksaan kartu ujian dan perlengkapan. Test Seleksi Kompetensi Dasar pun dimulai,,Mumet dan ruwet rasanya,,Alhamdulillah lolos passing grade peringkat 4 dari 42 peserta

1,5 bulan menanti test seleksi selanjutnya, kusibukkan diriku dengan tetap cosplay menjadi guru untuk murid-murid lesku. Ku sempatkan browsing materi dasar bidangku, untuk memahaminya butuh waktu lama. Bagaimana tidak? Sudah 10 tahun ilmu spatial planner-ku bercampur dengan ilmu parenting, dan pricelist sembako di pasar.   12 Desember 2018 aku test Seleksi Kompetensi Bidang. Tanggal baik jam baik semoga mendapatkan hasil yang baik juga. Kebetulan nomor ujian xxxx1122 test di tanggal 12 bulan 12 jam 12.30. Aku sedang "haid" jadi hanya sholawat terus sebagai do'aku menghadapi semua, tentu dengan restu ortu juga. Anakku sudah jauh lebih tenang melihat ibuknya berjuang. 

2 jam berlalu. Aku sudah mendapat hasil score ku tapi aku tidak bisa melihat score rivalku. Dari 5 besar akan diambil 2 saja. Setelah test itu, aku langsung pulang,,,

Menunggu hasil itu campur aduk rasanya. Terpuruk dan jatuh di awalnya namun berakhir bahagia. Hari itu, di akhir Desember 2018 aku dinyatakan lolos seleksi. Bahagia namun ada sedihnya juga. Satu persatu beban coba ku lepas. Mencoba ikhlas karena bekerja di kota yang bukan domisili berarti harus berpisah sementara dengan keluarga. Namun, keberadaanku di kota S ketiga ini banyak memberiku kisah baru. Menjadikanku seorang Jihan yang baru dengan kehidupan yang baru pula. InsyaaAllah. Yaa, akhirnya aku mendapatkan kesempatan menjadi seorang ASN. Pekerjaan yang menjadi impianku sejak dulu. Alhamdulillah sudah tercapai.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...