Jihan Maria Ulfa, S.T.
Di awal mengikuti tema antologi Sepotong Jiwa yang Hilang, aku sama sekali belum memiliki ide ingin menulis apa. Tapi setelah beberapa waktu mengalami writer’s block, akhirnya aku beranikan diri melanjutkan draft yang tertinggal di diary. Di buku antologi ke-13 ku ini, aku ingin bercerita tentang bagaimana aku menemukan kembali kebahagiaanku yang sempat hilang, dan bagaimana aku akhirnya mencintai takdir yang awalnya kukira menjadi penyebab hidupku berantakan.
Dalam beberapa karyaku sebelumnya, aku memperkenalkan diri sebagai seorang perempuan dengan banyak luka. Ya, karena sejak memasuki fase dewasa, aku mengalami banyak kehilangan dan kegagalan. Aku gagal mempertahankan rumah tangga, beberapa kali bertemu dengan orang yang salah (yang awalnya menawarkan cinta), aku juga pernah kehilangan janin yang ku kandung, yaitu anakku yang kedua. Dan parahnya semua itu ku alami di tahun yang sama.
Kawan pembaca tentu bisa membayangkan bagaimana keadaanku saat itu. Semua rasa sedih, kecewa, marah, dan benci jadi satu. Bahkan aku pernah ingin mengakhiri hidupku. Tapi tentu saja aku tidak jadi melakukannya. Buktinya aku masih bisa menulis karya ini untuk kalian baca.
Padahal, jika mengurai lagi hidupku di masa lalu, aku adalah seorang perempuan yang beruntung dalam hal akademik dan keluarga. Aku termasuk siswa yang pintar di sekolah, berkali-kali menjadi juara dalam setiap lomba. Keluargaku adalah keluarga cemara yang sederhana. Aku tidak tahu apakah di kehidupan sebelumnya aku pernah melakukan dosa besar hingga di hidupku saat ini, aku mengalami banyak badai yang membuat jiwaku porak poranda.
Sekarang, aku ingin mencoba bertanya. Jika kawan pembaca diberi pilihan untuk dilahirkan kembali, kalian ingin menjadi siapa? Dan kenapa ingin menjadi pribadi baru tersebut? Kalau pertanyaan tersebut dikembalikan padaku, aku akan dengan tegas menjawab bahwa aku ingin tetap dilahirkan menjadi Jihan. Namun, di tahun tertentu aku ingin mengganti dan memperbaikinya. Ini hanya berandai-andai saja ya, karena dalam keyakinanku tidak pernah ada tahap reinkarnasi dalam setiap kehidupan kita.
Ya, jika aku diberi kesempatan mengulang hidup, aku ingin tetap menjadi diriku sendiri. Tapi di tahun ke 16 hidupku, aku akan rajin belajar dan mematuhi nasehat bapak ibu mengabdi sepenuhnya di pesantren, tempatku mengaji. Aku tidak akan meletakkan janjiku pada seseorang yang akhirnya pergi membawa luka cinta pertama yang sangat mengiris hati.
Kemudian di tahun ke 27 aku ingin tumbuh seperti bunga yang mekarnya dinanti. Bertemu dengan orang yang benar-benar mengusahakan dan menghormatiku sebagai istri. Orang yang akan membimbingku dalam hal apapun dengan tujuan Jannah, tempat terindah setelah mati. Orang yang selalu mendukungku, ridho dengan perannya sebagai suami.
Seperti yang aku katakan tadi, tentu perandaian yang aku tulis itu tidak akan terjadi. Tapi sekarang aku sedang menerapkan amor fati dalam semua tahap sisa umurku ini. Biar ku jelaskan dalam satu paragraf, bagaimana konsep amor fati ini.
Amor fati adalah frasa Latin yang bermakna "mencintai nasib" atau "mencintai takdir". Setelah melewati begitu banyak luka, aku akhirnya menemukan kekuatan dalam sebuah konsep yang aku pelajari: amor fati. Artinya mencintai takdir, bahkan yang pahit sekalipun. Bukan hanya menerima, tapi benar-benar merangkul semua yang terjadi sebagai bagian penting dari perjalanan hidupku. Aku belajar bahwa kehilangan, kegagalan, dan luka bukan musibah semata, melainkan jalan yang membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Jika semua harus terulang lagi, aku ingin tetap menjalaninya. Karena kini aku tahu: takdirku bukan untuk dihujat, tapi untuk dicintai.
Yaa, setelah memahami konsep amor fati aku akan mencintai takdirku yang pernah sangat terluka hingga saat ini. Aku juga akan berusaha terus memperbaiki diri, belajar dari pengalaman agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku harus terus belajar dalam mengontrol respons dan emosi. Semua ku lakukan sebagai bentuk cinta untuk diriku sendiri. Karena, kalau bukan kita yang mengawali menghargai diri sendiri, siapa lagi?
Takdirku menjadi perempuan yang pernah kehilangan, mengalami kegagalan, dan berantakan memang sudah ditulis olehNya. Bahkan mungkin bisa jadi dalam beberapa tahun mendatang takdir kepedihanku akan terus berulang. Namun kini aku akan lebih siap menerima semua yang sudah tertulis untukku. Beberapa rencana selanjutnya akan ku tulis menggunakan pensil, dan ku berikan penghapusnya pada Allah. Agar Allah bisa menghapus rencana-rencanaku yang salah, dan menggantinya dengan rencana yang lebih indah. Sekarang aku pun semakin mengerti, ketika aku mulai mencintai takdirku, aku tak lagi melihat masa laluku sebagai luka, tapi sebagai jalan pulang menuju diriku sendiri.
Dan aku juga semakin tahu, bahwa amor fati, mencintai takdir, adalah mencintai segala hal termasuk semua luka yang pernah Allah izinkan terjadi. Aku tidak lagi berdoa agar masa laluku berubah, tapi aku berdoa agar diberi hati yang kuat untuk mencintai. Sekarang, aku tak lagi melihat kehilangan sebagai hukuman, tapi sebagai bentuk kasih sayang yang Allah berikan. Takdirku, sepedih apa pun itu, adalah milikku, dan aku harus menerimanya dengan hati terbuka. Amor fati membuatku percaya bahwa setiap luka punya tujuan yang baik untuk kembali menjadi diri yang bahagia seutuhnya.
Surakarta, pertengahan Oktober 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar