Rabu, 18 Februari 2026

Antologi kelimabelas -- JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRKU

  



Jihan Maria Ulfa, S.T.


Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba-lomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku.


Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan banyak undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Dan ketika Ramadhan berakhir aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal. 


Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum aku menikah), 2012 (ketika hamil), 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceritakan di antologi kali ini. Aku akan menulis tentang refleksi yang ku jalani beberapa tahun ini. Semoga ini bisa menjadi ibrah bagi teman-teman dan tentunya untuk diriku sendiri.


Ya, seperti yang teman-teman baca di paragraf sebelumnya, tahun 2025 aku seharusnya tidak memiliki kewajiban meng-qadha puasa karena jadwal bulananku mundur. Namun seminggu di awal Ramadhan aku “terpaksa” tidak puasa karena sakit akibat kerja kerja dan kerja. Dan itu mengharuskanku rawat inap di rumah sakit. Allah memang Maha Baik kepada umat kekasihNya. DIA memberikan rukhsah kepada hambaNya saat kondisi tertentu, sepertiku. 


Rasanya Ramadhan 2025 adalah Ramadhan terberatku. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku? Sedangkan aku belum punya bekal cukup untuk kembali pada Pemilik Jiwaku. Berkali-kali aku merenungi kalimat yang ku buat sendiri itu. “Bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku?” Bukankah umur tidak ada yang tahu?


Jika ini Ramadhan terakhirku, aku akan menjalani setiap detiknya dengan perlahan. Aku akan menyambutnya bukan hanya dengan jadwal ibadah yang rapi atau catatan target amalan. Tapi dengan hati yang lebih tenang, seolah setiap embusan angin subuh adalah bisikan terakhir dari langit yang menuntunku pulang. 


Di setiap sujudku, aku akan menangis sedikit lebih lama. Bukan karena takut, tapi karena aku akhirnya benar-benar menyadari betapa sering aku menjadikan dunia sebagai rumah abadi, padahal semuanya hanya sebuah persinggahan yang fana. Selama ini aku terlalu mengejar banyak hal, mimpi, pekerjaan, bahkan pengakuan namun lupa bahwa waktu tak pernah kembali dan tergantikan perjalanannya.


Aku akan memeluk bapak ibu, juga anakku. Akan ku katakan “Terima kasih sudah mencintai ku.” Aku akan lebih banyak meminta maaf dan restu. Pada saudara yang pernah tersinggung ucapan kecilku, pada sahabat yang jarang kuhubungi, juga pada diriku sendiri karena terlalu keras, menghakimi, dan memaksa tanpa peduli saat sehatku. Jika ini Ramadhan terakhirku, aku ingin hati yang pergi tanpa beban dendam, dan tanpa luka yang dibiarkan pilu.


Pada malam-malam sunyi, aku akan mengulang doa yang dulu sempat tertahan: doa untuk ketenangan, ampunan, dan kemampuan memaafkan masa lalu. Aku ingin merasakan Lailatul Qadar bukan hanya sebagai cerita, tapi sebagai keheningan yang menyentuh tulang, menggetarkan jiwa, dan membuatku mengerti bahwa malam yang paling sunyi pun mengandung cahaya yang menerangi jalanku. Aku akan memohon ampunan padaNya atas permintaan yang beribu-ribu padahal sujudku terburu-buru.

Jika ini Ramadhan terakhirku, aku akan berhenti berlomba dengan hal yang tidak penting dalam hidup sebagai manusia yang banyak dosa. Aku tak ingin menjadi yang paling kaya, paling dipuji, atau paling sempurna. Aku hanya ingin menjadi hamba yang pulang dengan hati yang bersih dan nama yang dicintai oleh langit dan para penghuni Surga. Tapi siapa saya ?


Ketika adzan Maghrib di hari terakhir berkumandang, aku ingin menatap langit yang memerah seperti hati yang sedang pulang. Aku ingin tersenyum, bukan karena aku pasti disambut surga, tapi karena aku telah mencoba ikhlas menerima semua dengan hati yang lapang. Aku telah belajar mencintai takdir hidup tanpa lupa bahwa dalam perjalanannya terkadang kelam. Aku telah menanam doa di malam-malam sunyi dan membiarkan air mata menjadi saksi ketulusanku dalam sujud yang panjang.


Jika ini Ramadhan terakhirku, aku ingin meninggalkan dunia dengan hati yang damai, dengan wajah yang bersujud, dan dengan nama yang disebut lembut dalam doa orang-orang yang kucinta. Namun, jika Allah masih memberiku satu Ramadhan lagi, aku ingin menggunakannya sebaik hari-hari terakhir yang kubayangkan dengan bahagia.


Kulengkapi tulisanku kali ini dengan potongan lirik lagu Selamat Jalan Ramadhan dari DNA Adhitya.

……..

dihatiku, terpatri rindu yang belum terpenuhi

gundah gulana perpisahan,

mengadu padamu Ya Robbi jangan akhiri

di hatiku tak ingin ini ramadhan terakhirku

meronta jiwa penuh harap

menangis padamu Ya Robbi jangan akhiri

selamat jalan ramadhan tersayang

semoga jumpa lagi tahun depan

Ya Allah terima ibadahku di bulan suci

ramadhan

selamat jalan ramadhan

semoga jumpa lagi tahun depan

Ya Allah panjangkan usia untukku bertemu

dengan ramadhan

……….



Surakarta, flashback Ramadhan 2025


Tidak ada komentar: