Rabu, 18 Februari 2026

Antologi keenam -- Stronger Woman





Jihan Maria Ulfa



Menjadi ibu itu harus bisa apa saja alias multitalenta, memiliki banyak kemampuan, jabatan dan bisa berbagai profesi. Apalagi ibu tunggal sepertiku. Tentu tidak mudah melakukan itu semua pada awalnya. Terpikir menjadi single parent di usia muda pun tidak. Kalau bisa menghabiskan uang dari suami tanpa harus capek bekerja tentu aku akan memilih opsi itu.


Saat masih berumah tangga dan belum bekerja seperti sekarang, aku sering berpikir bahwa ibu yang meninggalkan anak untuk bekerja hingga ke luar kota itu adalah ibu yang “tega” sekali. Apakah tidak repot bagaimana menyusui anak ketika mereka masih bayi selagi para ibu itu bekerja? Bagaimana mengurus kebutuhan sehari-harinya sedangkan di pagi hari sudah pasti repot mengejar jam absen ke kantor. Kemudian, dari segi parenting, para ibu pekerja itu mau tidak mau pasti akan menitipkan pengasuhan putranya pada orang lain, seperti “mbak” atau “babby sitter”. Dan bagiku itu “kok bisa yaa,”. Hmm,,,


Ternyata tahun 2019 pernyataan yang hanya ku simpan tanpa kuucapkan itu menjadi kenyataan. Terjadi begitu saja padaku. Bahkan aku lebih parah, karena aku menitipkan anakku kepada neneknya, yaitu ibuku. Ibu yang harusnya menikmati hari tuanya pasca purna tugas sebagai ASN tenaga pendidik jadi berperan ganda menjadi ibu sekaligus nenek bagi anak semata wayangku. Maafkan putrimu ini ya,bu.


Hari-hari menjadi pejuang PJKA atau pulang Jum’at Kembali Ahad tak terasa sudah ku jalani selama enam tahun. Saat weekend tiba, adalah saat yang paling bahagia. Karena aku kembali pada fitrahku, sebagai ibu untuk anakku. Menemani kemanapun dia pergi, mengajarkan banyak hal padanya, dan memberi apa yang dia minta sesuai kebutuhannya. 

Namun, aku tidak menyesali itu, aku tetap terus belajar menjadi sosok ibu yang seperti ular. Banyak biasanya. Bisa menjadi ibu rumah tangga ketika di rumah, bisa menjadi ibu pekerja di kantor, dan ibu pembelajar di setiap momen aku mengikuti sebuah acara pengembangan kompetensi. Aku juga tetap menjalani dengan baik hobby yang pelan-pelan ku seriusi, yaitu menulis. Bukan sekedar curhat tidak penting di diary, namun aku berusaha bertransformasi menjadi penulis berbagai antologi, seperti yang sedang kalian baca ini.


Kesendirian yang kukira dulu akan membunuhku karena tak ada lagi yang berbagi pekerjaan rumah tangga denganku, ternyata menjadi kekuatanku sekarang. Kini aku bisa tersenyum bahagia dan bisa menyapa jika bertemu lagi dengannya (tapi aku tidak berharap untuk berjumpa juga si, cuman bikin sakit hati,,hihh). 


“Hai, mantan, setelah kau tinggalkan, aku terlihat menawan kan sekarang?”


Haha….


Ketika menulis naskah ini, aku jadi teringat lagu “Stronger” nya Britney Spears, yang ku rasa mencerminkan perasaanku,,


There's nothing you can do or say, baby

I've had enough

I'm not your property as from today, baby

you might think that I wont make it on my own

but now I’m

Stronger than yesterday

now its nothin’ but my way

my loneliness ain’t killing me no more

I…am stronger


Ya, seperti kata mbak Britney, aku harus jadi ibu yang kuat, ibu yang sehat, ibu yang semangat, dan tentu jika ingin melihat anakku bahagia, aku harus jadi ibu yang bahagia juga, bukan ?


Surakarta, awal Mei 2025

Tidak ada komentar: