Langsung ke konten utama

Antologi keenam -- Stronger Woman





Jihan Maria Ulfa



Menjadi ibu itu harus bisa apa saja alias multitalenta, memiliki banyak kemampuan, jabatan dan bisa berbagai profesi. Apalagi ibu tunggal sepertiku. Tentu tidak mudah melakukan itu semua pada awalnya. Terpikir menjadi single parent di usia muda pun tidak. Kalau bisa menghabiskan uang dari suami tanpa harus capek bekerja tentu aku akan memilih opsi itu.


Saat masih berumah tangga dan belum bekerja seperti sekarang, aku sering berpikir bahwa ibu yang meninggalkan anak untuk bekerja hingga ke luar kota itu adalah ibu yang “tega” sekali. Apakah tidak repot bagaimana menyusui anak ketika mereka masih bayi selagi para ibu itu bekerja? Bagaimana mengurus kebutuhan sehari-harinya sedangkan di pagi hari sudah pasti repot mengejar jam absen ke kantor. Kemudian, dari segi parenting, para ibu pekerja itu mau tidak mau pasti akan menitipkan pengasuhan putranya pada orang lain, seperti “mbak” atau “babby sitter”. Dan bagiku itu “kok bisa yaa,”. Hmm,,,


Ternyata tahun 2019 pernyataan yang hanya ku simpan tanpa kuucapkan itu menjadi kenyataan. Terjadi begitu saja padaku. Bahkan aku lebih parah, karena aku menitipkan anakku kepada neneknya, yaitu ibuku. Ibu yang harusnya menikmati hari tuanya pasca purna tugas sebagai ASN tenaga pendidik jadi berperan ganda menjadi ibu sekaligus nenek bagi anak semata wayangku. Maafkan putrimu ini ya,bu.


Hari-hari menjadi pejuang PJKA atau pulang Jum’at Kembali Ahad tak terasa sudah ku jalani selama enam tahun. Saat weekend tiba, adalah saat yang paling bahagia. Karena aku kembali pada fitrahku, sebagai ibu untuk anakku. Menemani kemanapun dia pergi, mengajarkan banyak hal padanya, dan memberi apa yang dia minta sesuai kebutuhannya. 

Namun, aku tidak menyesali itu, aku tetap terus belajar menjadi sosok ibu yang seperti ular. Banyak biasanya. Bisa menjadi ibu rumah tangga ketika di rumah, bisa menjadi ibu pekerja di kantor, dan ibu pembelajar di setiap momen aku mengikuti sebuah acara pengembangan kompetensi. Aku juga tetap menjalani dengan baik hobby yang pelan-pelan ku seriusi, yaitu menulis. Bukan sekedar curhat tidak penting di diary, namun aku berusaha bertransformasi menjadi penulis berbagai antologi, seperti yang sedang kalian baca ini.


Kesendirian yang kukira dulu akan membunuhku karena tak ada lagi yang berbagi pekerjaan rumah tangga denganku, ternyata menjadi kekuatanku sekarang. Kini aku bisa tersenyum bahagia dan bisa menyapa jika bertemu lagi dengannya (tapi aku tidak berharap untuk berjumpa juga si, cuman bikin sakit hati,,hihh). 


“Hai, mantan, setelah kau tinggalkan, aku terlihat menawan kan sekarang?”


Haha….


Ketika menulis naskah ini, aku jadi teringat lagu “Stronger” nya Britney Spears, yang ku rasa mencerminkan perasaanku,,


There's nothing you can do or say, baby

I've had enough

I'm not your property as from today, baby

you might think that I wont make it on my own

but now I’m

Stronger than yesterday

now its nothin’ but my way

my loneliness ain’t killing me no more

I…am stronger


Ya, seperti kata mbak Britney, aku harus jadi ibu yang kuat, ibu yang sehat, ibu yang semangat, dan tentu jika ingin melihat anakku bahagia, aku harus jadi ibu yang bahagia juga, bukan ?


Surakarta, awal Mei 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...