Langsung ke konten utama

Antologi Kelima -- Perempuan Istimewa itu Ibuku

 




Jihan Maria Ulfa


Mother, how are you today? 

Ibu, apa kabar hari ini, bu?

Setiap kali melihat wajah ibu, aku jadi membayangkan masa depanku, karena menurut orang-orang kami memang semirip itu. Menurut kalian bagaimana? Beneran mirip nggak? 

Ibu, madrasah pertamaku, bersama bapak sebagai kepala sekolah dalam keluarga kecil kami, dengan penuh perjuangan mendidik aku, kakak dan adikku. Lelah pasti nggih, bu,, apalagi masa merawat dan membesarkan kami bertiga yang mempunyai selisih usia berdekatan.

Aku bisa membayangkan begitu repotnya bapak ibu saat itu. Dan aku masih ingat kami sempat memiliki dua pengasuh saking repotnya. Karena bapak dan ibu juga harus bekerja sebagai pendidik, yang tentu harus berangkat pagi untuk mengajar murid-muridnya

Namun, seingatku juga ibu tidak pernah mengeluh dengan rutinitas itu. Atau aku yang belum paham saat itu ya?

Bahkan ketika kami bertiga divonis kena penyakit “bronchitis” di usia kanak-kanak, ibu dengan sabar mengantar kami kontrol bergantian ke dokter anak di kota yang jaraknya jauh dari rumah. Aku tidak pernah melihat ibu menangis. Atau aku yang memang benar-benar belum mengerti keadaan saat itu?

Entah, jika sekarang posisiku seperti ibu saat itu, apa aku bisa sesabar dan setegar ibu? Kurasa tidak, lelah dengan rutinitas, seminggu sekali baru ketemu anak saja rasanya sudah membuatku lemah. Merasa tidak sempurna berperan sebagai ibu.

Alhamdulillah, aku beruntung dilahirkan dari rahim ibu, empat puluh satu tahun yang lalu. Aku masih terus belajar dan terus belajar untuk bisa seperti ibu. Yang tentu saja aku tidak bisa menyamainya. 

Bu,,,

Allah telah memperkenankan diriku mencapai tahapan kehidupan ini, yaitu menjadi seorang ibu juga sepertimu,bu,, Izinkan aku hari ini mencoba mencatat sedikit renungan atas nikmat tak terbatas yang telah Allah curahkan padaku. Semoga ini menjadi jalan bagiku untuk lebih bersyukur atas segala kebaikan yang telah Allah berikan.

Di dekat ibu, aku merasa nyaman, ibu adalah orang yang teristimewa untukku. Banyak kata yang tak mampu kuucapkan di sini. Hanya rasa terimakasih dari hatiku yang paling dalam untukmu,bu. Terimakasih karena telah berjuang menghadirkanku di dunia ini. Terimakasih atas pelajaran cinta yang ibu lukiskan lewat pelukan dan senyuman yang tulus ibu. 

Aku tahu, ibu adalah sosok yang menjadi garda terdepanku saat aku tersakiti, saat aku ter-dzolim-i, ibu juga orang pertama yang menangis ketika ada yang meminangku atau aku mendapatkan hasil atas kerja kerasku. Ibu bersama bapak tentu, selalu berusaha menempuh segala cara agar aku bahagia. Tak pernah rela putrinya ini sengsara. 

Ibu yang melepas putrinya pada orang yang salah, laki-laki yang ternyata menghancurkan separuh hidupku. Tidak ada yang tahu, aku, bapak, juga ibu jika akhirnya hidupku berantakan karena lelaki yang dulu ku pilih sendiri. Maafkan putrimu ini, bu,, maafkan,, Karenaku, keluarga kita tidak lagi utuh, dan ibu yang seharusnya menikmati hari tua dengan bahagia, justru kini berperan ganda sebagai nenek juga ibu bagi anak semata wayangku.

Aku tahu ibu tidak pernah berhenti berdo’a untukku, anak yang selalu memberi masalah untukmu :’( Nyuwun pangapunten, bu, kalau masih sering merepotkan ibu, beberapa harapan ibu belum bisa ku tunaikan, bahkan mungkin beberapa bagian hidup ibu menyakitkan gara-gara aku, yaitu ketika aku gagal mempertahankan pernikahan. Tapi ibu pasti mengerti kenapa aku memilih jalan perpisahan itu. Sekarang kubuktikan bahwa perceraian bukan menjadi penghalang untuk berkembang. Justru kini aku lebih bahagia dan nyaman sekarang.

Nyuwun pangapunten ingkang kathah. InsyaaAllah aku akan berusaha membahagiakan ibu juga bapak sejauh aku mampu. Sehat-sehat nggih,bu,,, I love you,,

Dalam perenunganku di hari ibu, 

Sudut kamar itu, 22 Desember 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...