Jihan Maria Ulfa, S.T.
Apakah kalian pernah membaca sebuah quote sederhana tentang kopi dan perempuan? Aku pernah. Kurang lebih seperti ini bunyinya “Perempuan yang suka kopi, dia adalah perempuan yang paling rame pikirannya. Sampai bingung mau menceritakan keluh kesahnya pada siapa. Satu-satunya jalan baginya, adalah duduk diam, minum secangkir kopi ditemani riuh isi kepalanya”.
Aku adalah seorang perempuan. Aku juga menyukai kopi. Pikiranku juga selalu rame, karena aku seorang INFP yang sangat overthinker. Kupikir-pikir quote itu seperti menggambarkan diriku. Dan ini ceritaku, tentang secangkir kopi dan seorang perempuan, yaitu aku.
Aku terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Seingatku, aku paling berbeda diantara kami, aku, kakak, dan adikku. Mereka sejak kecil suka filateli, sedangkan aku lebih suka koleksi kertas surat. Dulu sahabat penaku tersebar di semua provinsi di seluruh Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, ada semua. Jika aku mendapat surat dari sahabat-sahabatku itu, dua saudaraku yang berebut mengoleksi perangkonya. Sebagai informasi kami bertiga adalah generasi millennial yang mengenal dunia bukan melalui media sosial. Namun melalui surat kabar, majalah, radio, dan surat-surat yang ku kirim pada sahabat penaku yang banyak itu.
Selain perbedaan koleksi, aku dan dua saudaraku juga berbeda hobby. Mereka mungkin lebih suka membaca, namun aku sejak kecil sudah menyukai korespondensi dan segala hal tentang dunia menulis. Aku paling suka menulis di diary sambil mendengarkan lagu-lagu mellow nya Glenn Fredly. Hobby menulis itu semakin ku seriusi sekarang, yang kalian baca ini adalah antologi-ku yang ke delapan.
Bercerita tentang kopi, aku pernah membuat kopi hitam tanpa tambahan apapun. Rasanya tentu pahit, tapi aku tetap mencoba menikmatinya. Ternyata kopi hitam itu tidak aman untuk lambungku yang aleman. Ini seperti cerita hidupku yang seringkali ku pendam sendiri pahitnya. Karena sifatku yang sok kuat, aku tidak ingin merepotkan orang lain, sehingga aku terus bertahan dalam pahitnya sebuah pilihan. Yang perlahan membuatku tumbang.
Lain waktu aku menambahkan sedikit gula dalam racikan minuman kopiku. Dengan harapan akan ada sedikit rasa manis dalam cangkirku itu. Namun, gula itu juga perlahan membuat potensi diabetes dalam tubuhku. Kopi dengan sedikit gula itu bagaikan ceritaku saat memilih sesuatu yang lain dalam hidup. Tidak selalu sempurna, tapi aku masih berusaha menikmati manisnya. Pernah pula aku menambahkan susu dan krim dalam kopi buatanku. Aku ingin secangkir kopiku saat itu lebih gurih untuk dinikmati. Ternyata racikan itu yang kusukai.
Yaa,, layaknya barista di sebuah café, seiring masa yang membuatku semakin dewasa, aku mulai mengenal lebih banyak pribadi baru dalam hidup, aku juga belajar membuat resep minuman kopi kebahagiaanku sendiri. Aku mulai mencoba membuat berbagai jenis minuman dari kopi. Dari espresso, americano, latte, cappuccino, mocha, dan cold brew. Selain itu, kadang aku juga memesan variasi minuman kopi yang lain, seperti Red Eye, Drip Eye, Cafezinho, dan banyak lagi. Tentu dari sekian banyak jenis minuman kopi itu, ada yang menjadi minuman favourite-ku, ada yang sebatas doyan, ada pula yang sama sekali tidak kusukai karena tidak cocok di pencernaan.
Jenis-jenis minuman dari bahan dasar kopi itu kuibaratkan fase hubunganku dengan orang lain. Ada yang sangat klop denganku menjadi sahabat sejak kecil hingga sekarang, ada yang hanya sebagai teman jalan, namun ada juga yang akhirnya menjadi pasangan dan kemudian menjadi mantan. Sebagai Aries sejati, aku memang tidak mudah berteman dengan seseorang, namun ketika sudah jadi sahabat atau kekasih, aku akan sangat bucin sekali. Tapi kawan, jangan kemudian menilaiku dengan negatif berdasarkan “katanya” aku begitu, atau “katanya” aku begini. Jika kau ingin mengenalku lebih jauh, duduklah bercengkrama denganku, dan minum kopi bersamaku, niscaya kamu akan tahu siapa aku sebenarnya dan apa peranku di dunia ini.
Tentu tanpa aku harus bercerita, kita semua tahu, bahwa menjalani hidup dengan bahagia adalah tugas individual kita. Kita tidak perlu peduli dengan perkataan orang lain di luar sana. Ibaratnya, donatur dilarang ngatur, ya kaan, setuju ngga? Apakah kita akan memulai sesuatu dengan pahit terlebih dahulu, atau kita menikmati manisnya dulu, itu semua tergantung pilihan kita.
Yaa begitulah, seperti menikmati secangkir kopi yang baristanya kita sendiri. Kita membuat sesuai selera, apakah kita akan meracik kopi hitam, kopi dengan sedikit gula, kopi susu, atau kopi yang creamy, kita tetap mencoba, bertahan, dan menikmati. Kemudian bagaimana cara kita menikmatinya, apakah dengan makanan ringan sebagai pendamping atau dengan menyesapnya perlahan, atau langsung menikmatinya dalam sekali tegukan, itu juga pilihan kita sendiri. Yang terpenting adalah secangkir kopi itu dapat membuat kebahagiaan di hati. Seperti kebahagiaan kita yang tidak diciptakan orang lain, karena kebahagiaan hidup itu bersumber dari hati kita sendiri.
Me time di Kopi Kenangan
Surakarta, pertengahan Juni 2025
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar