Rabu, 18 Februari 2026

Antologi Keempatbelas-- PEREMPUAN YANG BERIBADAH TANPA SAJADAH

 



Jihan Maria Ulfa, S.T.




Pagi selalu datang lebih cepat dari yang kuinginkan. Suara alarm di ponsel, gemericik air dari kamar mandi ruangan sebelah, serta cahaya tipis yang menembus tirai menjadi pertanda bahwa satu hari lagi harus kujalankan. Aku bangun, kemudian merayu Tuhan. Bersiap olahraga pagi, mandi, dan menyiapkan seragam kerja, lalu menyisir rambut, merias tipis wajah sambil menatap bayangan diri di cermin. Di sana ada seorang perempuan yang dulu punya banyak mimpi, namun kini sibuk berkejaran dengan waktu.

Sejak perceraian dan menjadi ibu tunggal sekaligus ibu bekerja, hidupku berubah arah. Apalagi mansu tidak pernah peduli dengan perkembangan anakku. Ya, aku mencintai pekerjaanku, tapi aku juga mencintai peranku sebagai ibu. Dua cinta yang sama besar, namun sering saling berbenturan. Di satu sisi, ada kantor yang menuntut profesionalisme, target, dan ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan. Namun di sisi lain, ada rumah kecil dengan suara tawa anakku yang menjadi alasan aku bertahan.

Aku tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini. Menjadi perempuan yang harus mengurus segalanya sendiri. Dulu aku membayangkan hidup akan berjalan seperti di film romantis komedi. Ada pasangan yang saling ridho dan menguatkan, ada rumah yang hangat menyejukkan, dan ada tawa yang selalu mengisi setiap perjalanan hari. Tapi kenyataan berkata lain, saat dia pergi. Semua rencana ikut terbang bersama kepergiannya yang tidak akan pernah kembali.

Awalnya aku sangat takut anakku kecewa punya ibu sepertiku. Tapi di tengah ketakutan itu, ada sebuah kekuatan, aku belajar bahwa hidup tak menunggu sampai kita siap. Hidup hanya berjalan, dan kita harus berlari menyusulnya. Hidup yang kujalani memiliki dua opsi. Bertahan dengan mantan namun kecewa, atau mengejar mimpi tapi bahagia. Setiap pekan, ketika aku kembali ke perantauan, aku melihat remaja laki-laki itu melepas kepergianku dengan ketegaran. Atau mungkin sebenarnya kesedihan yang ditahan. “Ibu pulang ya, jangan rewel, nurut sama mbah” kataku lirih yang disambut dengan anggukan, pelukan, dan ciuman.

 Gesture sederhana itu selalu membuatku terdiam sejenak. Aku tahu sejak enam tahun yang lalu ada bagian hati kami yang retak. Karena kedekatan kami harus terpisah oleh jarak. Namun, jika aku tidak bekerja, dan memulai kemandirianku, langkahku kian terserak. Aku akan sangat berdosa, karena tidak bisa menjaga amanahNya, sebab sejak hakim mengetuk palu di pengadilan agama, aku berperan menjadi ibu sekaligus bapak.



Reaksi kecil yang anakku lakukan telah mampu menembus hangatnya perasaan dan sukses membuatku selalu meneteskan air mata. Menjadi ibu bekerja dan jauh dari keluarga memang tak pernah ada dalam pilihanku sebelumnya. Yang penting bagiku sekarang adalah keberanian untuk terus berusaha hadir sebagai orang tua tunggal yang mandiri, meski tidak selalu sempurna.

Banyak yang mengira, aku perempuan kuat, karena di pagi hari saat bekerja aku bisa menyembunyikan apa yang aku rasakan sebenarnya. Aku selalu terlihat ceria, meskipun jauh dalam lubuk hatiku, tersimpan duka yang tiada habisnya. Tapi jika malam tiba, semua akan berubah menjadi sendu dengan hati yang patah, sepatah patahnya. Aku ingat wajah anak remajaku yang menunggu nun jauh di sana. Merasa bersalah karena memaksanya menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun itulah yang menjadi cambuk bagiku untuk terus memperjuangkan ini semua. Aku harus membuat semua pertahanan ini tidak sia-sia.

Kini aku mulai mengerti, menjadi perempuan mandiri bukan sekadar mampu berdiri sendiri, tapi juga berani menatap diri, dan juga jujur pada diri sendiri. Aku belajar mencintai diriku yang lelah, memaafkan diriku yang pernah runtuh, dan menghargai setiap langkah kecil yang kuambil dalam hidup ini. Karena ternyata dalam perjalanan ini, kemandirian tidak selalu keras dan tegas, kadang ia hadir dalam bentuk kelembutan yang bertahan di tengah badai.

Dan sekarang aku juga sangat memahami, bahwa pada akhirnya, dunia yang kujalani di luar hanyalah bagian kecil dari kehidupanku. Dunia yang sesungguhnya ada di pelukan seorang anak yang memanggilku ibu. Kepada para wanita mulia di luar sana, aku hanya mau bilang sebagai sesama ibu bekerja dan mungkin juga sebagai ibu tunggal untuk putra putrinya, “bu, percayalah, sejatinya kita sedang beribadah, namun tidak di atas sajadah”

Kututup antologi kali ini dengan sebaris lirik lagu “Kuatkan Aku” dari Arvian Dwi Pangestu untuk melengkapi karyaku.

….…


Andai engkau tau rasanya

Dihantam kerasnya dunia

Memaksamu dewasa

Sedangkan dia tertawa


Malam tempat pelarianku

Perangi isi kepalaku

Berapa yang harus ku bayar

Tuk tenangkan pikiranku



Oh Tuhan kuatkan lagi pundakku

Ringankan lagi langkah-langkahku

Sabarkan batinku

Sebelum kau menjemputku


Tuhan tunjukkan lagi jalanMu

Meski tak terhitung dosa-dosaku

Jadikan aku selalu

HambaMu yang pandai bersyukur


….…



Surakarta, pertengahan November 2025


Tidak ada komentar: