Langsung ke konten utama

Antologi keenambelas -- PERAYAAN YANG TAK PERNAH ADA

 



Jihan Maria Ulfa, S.T.









Jika diminta bercerita mengenai impian masa kecil dan keinginan yang tak terwujud, awalnya bikin mikir juga ya. Tapi ternyata aku punya. Seperti judul yang ku beri pada tulisanku kali ini, yaitu perayaan yang tak pernah ada. Aku akan menulis tentang momen pertambahan usia yang jarang bahkan tidak pernah ku rayakan.


Aku lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah, pasangan tenaga pendidik di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Teman pembaca pasti tahu, fenomena gaji guru saat itu yaitu era orde lama, yang sangat tidak cukup karena belum ada tunjangan profesi seperti zaman sekarang. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan merawat kami bertiga, anak-anak ibu dan bapak dengan vonis bronchitis saja pasangan sayap cintaku itu harus bekerja sangat keras. Jadi bisa dipahami jika tidak ada perayaan setiap ulang tahun anggota keluarga. 


Masa kanak-kanak kami jalani dengan sangat indah namun sedikit prihatin karena seringnya rumah kecil kami kebanjiran. Rasa iri dengan teman yang tiap momen ulang tahunnya dirayakan tentu ada. Karena mereka mendapatkan banyak hadiah seperti mainan, alat tulis, atau uang jajan dari orang-orang tercinta.

Aku sedikit mengingat ketika itu bapak ibu ngendikan “nggak usah meri (pengen) kalau ada teman yang ulang tahun, uang nya ditabung saja buat beli buku dan sepatu”. Aku mengerti teman yang selalu mengadakan pesta itu adalah teman yang memiliki orang tua dengan segi finansial sangat cukup. Pikiran itu sangat terpatri dalam otak dan pikiranku bahwa yang ulang tahun itu pasti wong sugih :D . Dan karena merasa aku bukan dari keluarga berada jadi aku memendam keinginan untuk merayakan hari lahir dalam-dalam.


Kebiasaan tidak merayakan itu ternyata menjadi adat turun temurun di keluarga inti kami, saat kami bertiga sudah dewasa dan berumah tangga. Anakku tidak pernah menuntut ingin menggelar pesta saat ulang tahun nya. Meskipun sebenarnya jika dia meminta aku bisa memenuhinya. 


Oiya, aku tiba-tiba ingat dengan momen kecil ulang tahunku saat kelas 3 SMP. Aku mengundang beberapa teman dekat untuk makan mie rebus buatan ibuku di rumah. Tidak perlu membawa kado karena aku hanya ingin mengajak makan bersama. Dan jika flashback ke tahun-tahun sebelumnya, aku selalu membagi permen ke teman sekelas saat ulang tahunku tiba. Hal itu berlangsung hingga aku tamat SMA dari sebuah sekolah negeri di kota provinsi.


Ketika memasuki masa kuliah pun aku tidak pernah merayakan hari lahirku. Justru aku malu ketika beberapa teman dekat memberi kejutan-kejutan padaku. Biasanya aku membalas surprise yang mereka buat dengan menraktir makan dengan keterbatasan uang saku bulananku. 


Kembali kepada kebiasaan yang kutularkan pada anakku saat pertambahan usia. 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2022, anakku hanya meminta do’a baik saat ulang tahunnya tiba. Sungguh anak yang sholeh memang anakku itu, tahu keadaan ibunya, satu-satunya orang tua yang dia punya. Yes, I’am single mom since 2018.


2022, untuk pertama kalinya aku memesan kue ulang tahun untuk anakku dan hanya dimakan bersama keluarga. Sekaligus nglarisi usaha rekan wali murid yang bersatus single mom juga. Tahun berikutnya momen pertambahan usianya kurayakan dengan hal yang berbeda. Yaitu melaksanakan khitan untuknya, dia bahagia karena merasa semakin dewasa, dan tak lagi jadi bahan olok-olok sepupunya yang sudah lebih dulu merubah “bentuk” nya. Aku, ibunya, juga bahagia, karena khitan saat ulang tahun dapat potongan harga :D . Yaa,, memang ibu modis diriku ini, modal diskon maksudnya. Hahaa


Tahun lalu, anak sholihku menginjak tahun ke 12, yang menurut aturan Kementerian Agama di usia tersebut sudah bisa mendapat porsi ke Baitullah. Tentu tak kusia-siakan waktu itu, yaa, teman pembaca pasti juga tahu kan, seberapa lama masa tunggu untuk kita memenuhi rukun islam yang kelima. Alhamdulillah semua proses pendaftaran haji menjadi kado terindah ulang tahunnya. Bismillah,, do’akan kami berdua yaa agar lancar sampai waktunya tiba.


Aku menulis cerita ini menjelang ulang tahun anakku yang ketiga belas. Jika akhirnya nanti buku ini terbit, akan ku hadiahkan sebagai tanda cintaku padanya. Buku ini akan jadi pengingat diri sebagai orang tua dari anak yang beranjak remaja. Akan ku beri pengertian padanya bahwa momen pertambahan usia sejatinya adalah mengurangi masa kita di dunia. Boleh-boleh saja merayakannya. Namun bagiku sebagai individu yang masih banyak belajar tentang hidup ini, sebaiknya momen seperti itu dirayakan dengan sederhana saja. Merayakan ulang tahun tidak wajib dilakukan.


Hmm,, lantas bagaimana menurut teman-teman pembaca? Apakah setuju denganku tentang merayakan hari lahir atau ada opini lainnya? Ayo ceritakan juga “impian masa kecil dan keinginan yang tak terwujud” versimu. Ku tunggu yaa.




Surakarta, awal Oktober 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...