Jihan Maria Ulfa, S.T.
Jika diminta bercerita mengenai impian masa kecil dan keinginan yang tak terwujud, awalnya bikin mikir juga ya. Tapi ternyata aku punya. Seperti judul yang ku beri pada tulisanku kali ini, yaitu perayaan yang tak pernah ada. Aku akan menulis tentang momen pertambahan usia yang jarang bahkan tidak pernah ku rayakan.
Aku lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah, pasangan tenaga pendidik di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Teman pembaca pasti tahu, fenomena gaji guru saat itu yaitu era orde lama, yang sangat tidak cukup karena belum ada tunjangan profesi seperti zaman sekarang. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan merawat kami bertiga, anak-anak ibu dan bapak dengan vonis bronchitis saja pasangan sayap cintaku itu harus bekerja sangat keras. Jadi bisa dipahami jika tidak ada perayaan setiap ulang tahun anggota keluarga.
Masa kanak-kanak kami jalani dengan sangat indah namun sedikit prihatin karena seringnya rumah kecil kami kebanjiran. Rasa iri dengan teman yang tiap momen ulang tahunnya dirayakan tentu ada. Karena mereka mendapatkan banyak hadiah seperti mainan, alat tulis, atau uang jajan dari orang-orang tercinta.
Aku sedikit mengingat ketika itu bapak ibu ngendikan “nggak usah meri (pengen) kalau ada teman yang ulang tahun, uang nya ditabung saja buat beli buku dan sepatu”. Aku mengerti teman yang selalu mengadakan pesta itu adalah teman yang memiliki orang tua dengan segi finansial sangat cukup. Pikiran itu sangat terpatri dalam otak dan pikiranku bahwa yang ulang tahun itu pasti wong sugih :D . Dan karena merasa aku bukan dari keluarga berada jadi aku memendam keinginan untuk merayakan hari lahir dalam-dalam.
Kebiasaan tidak merayakan itu ternyata menjadi adat turun temurun di keluarga inti kami, saat kami bertiga sudah dewasa dan berumah tangga. Anakku tidak pernah menuntut ingin menggelar pesta saat ulang tahun nya. Meskipun sebenarnya jika dia meminta aku bisa memenuhinya.
Oiya, aku tiba-tiba ingat dengan momen kecil ulang tahunku saat kelas 3 SMP. Aku mengundang beberapa teman dekat untuk makan mie rebus buatan ibuku di rumah. Tidak perlu membawa kado karena aku hanya ingin mengajak makan bersama. Dan jika flashback ke tahun-tahun sebelumnya, aku selalu membagi permen ke teman sekelas saat ulang tahunku tiba. Hal itu berlangsung hingga aku tamat SMA dari sebuah sekolah negeri di kota provinsi.
Ketika memasuki masa kuliah pun aku tidak pernah merayakan hari lahirku. Justru aku malu ketika beberapa teman dekat memberi kejutan-kejutan padaku. Biasanya aku membalas surprise yang mereka buat dengan menraktir makan dengan keterbatasan uang saku bulananku.
Kembali kepada kebiasaan yang kutularkan pada anakku saat pertambahan usia. 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2022, anakku hanya meminta do’a baik saat ulang tahunnya tiba. Sungguh anak yang sholeh memang anakku itu, tahu keadaan ibunya, satu-satunya orang tua yang dia punya. Yes, I’am single mom since 2018.
2022, untuk pertama kalinya aku memesan kue ulang tahun untuk anakku dan hanya dimakan bersama keluarga. Sekaligus nglarisi usaha rekan wali murid yang bersatus single mom juga. Tahun berikutnya momen pertambahan usianya kurayakan dengan hal yang berbeda. Yaitu melaksanakan khitan untuknya, dia bahagia karena merasa semakin dewasa, dan tak lagi jadi bahan olok-olok sepupunya yang sudah lebih dulu merubah “bentuk” nya. Aku, ibunya, juga bahagia, karena khitan saat ulang tahun dapat potongan harga :D . Yaa,, memang ibu modis diriku ini, modal diskon maksudnya. Hahaa
Tahun lalu, anak sholihku menginjak tahun ke 12, yang menurut aturan Kementerian Agama di usia tersebut sudah bisa mendapat porsi ke Baitullah. Tentu tak kusia-siakan waktu itu, yaa, teman pembaca pasti juga tahu kan, seberapa lama masa tunggu untuk kita memenuhi rukun islam yang kelima. Alhamdulillah semua proses pendaftaran haji menjadi kado terindah ulang tahunnya. Bismillah,, do’akan kami berdua yaa agar lancar sampai waktunya tiba.
Aku menulis cerita ini menjelang ulang tahun anakku yang ketiga belas. Jika akhirnya nanti buku ini terbit, akan ku hadiahkan sebagai tanda cintaku padanya. Buku ini akan jadi pengingat diri sebagai orang tua dari anak yang beranjak remaja. Akan ku beri pengertian padanya bahwa momen pertambahan usia sejatinya adalah mengurangi masa kita di dunia. Boleh-boleh saja merayakannya. Namun bagiku sebagai individu yang masih banyak belajar tentang hidup ini, sebaiknya momen seperti itu dirayakan dengan sederhana saja. Merayakan ulang tahun tidak wajib dilakukan.
Hmm,, lantas bagaimana menurut teman-teman pembaca? Apakah setuju denganku tentang merayakan hari lahir atau ada opini lainnya? Ayo ceritakan juga “impian masa kecil dan keinginan yang tak terwujud” versimu. Ku tunggu yaa.
Surakarta, awal Oktober 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar