Sabtu, 28 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

 


Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.


Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan.


Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan?


Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (seharusnya) tetap ada di hari-hari setelah Ramadhan antara lain:


1. Bangun di jam 03.00 pagi

Selain untuk sahur, juga untuk mendisiplinkan diriku sendiri dalam minum obat lambung. Jadi aku bangun rutin jam tiga setelah mendengar alarm dengan ringtone “Sudden Shower” nya Byeon Woo Seok, hehe,, kemudian aku minum air putih dan menelan obat lambung. Sambil menunggu reaksi obat bekerja yaitu dalam tiga puluh menit setelahnya, aku sholat tahajjud dan dirangkai dengan sholat witir serta dzikir pagi. Oiya, sambil update challenge ini juga, menulis sebelum sahur setidaknya sepuluh hingga lima belas menit.


2. Mengaji setelah Sholat Shubuh.

Meskipun dengan kantuk tertahan, aku selalu mencoba membaca Al-Qur’an paling sedikit dua lembar, selain untuk menutup target khataman di Bulan Ramadhan, tujuan ku mengaji adalah untuk membiasakan diri sebagai terapi kesehatan. Dan biar nggak malas saja, konon banyak yang bilang kalau tidur lagi setelah Shubuh itu tidak baik kaan? 


Nah, aku mencoba melawan rasa kantuk itu dengan mengaji, sering juga aku lanjutkan dengan membaca terjemahannya. Ini bisa jadi menambah kecintaan kita terhadap kitabNya lhoo,, bahkan aku pernah ketika sedang kalut, tiba-tiba menemukan sebuah ayat yang menjawab masalahku, tepat di saat aku menunggu pagi untuk bersiap ke kantor. 


Ya, mengaji juga bisa jadi memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya tentang target khatam, tapi tentang menghadirkan hati saat membaca. Aku ingin membangun kebiasaan menyisihkan waktu khusus, selepas Subuh ketika rumah masih sunyi, untuk membaca beberapa ayat dengan pelan. Merenungi maknanya. Menuliskan satu-dua kalimat refleksi di buku kecil. Karena sering kali yang membuat kita jauh bukan kurangnya waktu, melainkan kurangnya kesungguhan.


3. Kebiasaan baik lain yang ingin ku bangun tentu saja menjaga lisan. 

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan komentar yang tak perlu, keluhan yang berlebihan, dan gosip yang terasa ringan namun berdampak berat di hati dan pikiran. Ramadhan menjadi latihan terbaik untuk membangun jeda, berpikir sebelum berbicara, memilih diam ketika emosi memuncak di dada, dan mengganti keluhan dengan do’a. Jika selama sebulan kita berhasil melatihnya, bukankah itu bisa menjadi bekal berbulan-bulan setelahnya?


4. Kebiasaan baik berikutnya adalah mengatur waktu lebih terstruktur. 

Aku ingin membangun kebiasaan disiplin dalam waktu. Saat berpuasa, ritme harian berubah. Ada sahur, ada berbuka, ada tarawih. Semua itu sebenarnya melatih manajemen waktu yang lebih terstruktur. Bangun lebih awal, tidur lebih teratur, menyelesaikan pekerjaan sebelum energi menurun. Ramadhan mengajarkan bahwa tubuh yang sedang berpuasa pun tetap bisa produktif, asal kita pandai mengatur ritme dan tidak menunda-nunda.


5. Selain itu, ada kebiasaan berbagi yang ingin terus ditumbuhkan.

Memberi tak selalu tentang nominal besar. Bisa berupa makanan untuk berbuka, pesan penguat untuk teman yang sedang lelah, atau sekadar mendengarkan tanpa menghakimi. Ramadhan menghidupkan empati, mengingatkan bahwa di luar sana ada yang menahan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keadaan. Dari sana lahir rasa syukur dan dorongan untuk membantu.


6. Tak kalah penting adalah membangun kebiasaan menjaga kesehatan.

Memilih menu sahur yang bergizi, tidak berlebihan saat berbuka, cukup minum, dan tetap bergerak. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, juga bukan pembenaran untuk “balas dendam” makanan saat adzan Maghrib berkumandang. Justru di bulan ini kita belajar tentang kendali diri dan keseimbangan


7. Dan yang mungkin paling dalam adalah membangun kebiasaan berdialog dengan diri sendiri.

Mengevaluasi, memaafkan, memperbaiki niat. Ramadhan adalah ruang sunyi untuk menata ulang arah hidup. Di sela do’a-do’a panjang setelah sholat, ada percakapan yang jujur antara kita dan Tuhan, juga antara kita dan diri sendiri.


Pada akhirnya, kebiasaan baik yang dibangun saat Ramadhan bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih sadar. Sadar akan waktu yang terbatas, akan kesempatan yang tak selalu datang dua kali, dan akan hati yang perlu terus dirawat. Jika satu saja kebiasaan baik berhasil kita pertahankan setelah Ramadhan berlalu, mungkin di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya. Wallaahua’lambishowab.


Grobogan, 1 Maret 2026


“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day9


Tidak ada komentar: