Pada jam ketika langit belajar melepaskan, halaman perjalanan hari ini menangkap cahaya terakhir, mengekang. Warna jingga yang rapuh, nyaris jatuh terjengkang. Kata-kata yang pernah lahir di bahasa lain kini bergetar di mataku, seakan senja ikut menerjemahkan sunyi menjadi sesuatu yang tak bisa kuulang dengan perasaan senang maupun hati riang.
Membaca untukku, bukan untuk tahu akhir cerita, tapi untuk tenggelam. Di antara kalimat yang dipinjam dari dunia jauh, ada perasaan yang terasa sangat dekat: kehilangan yang tak bernama, rindu yang tak meminta pulang. Senja memeluknya perlahan, membuat luka terasa sah untuk tinggal melukis kenangan. Berulang, menyakitkan, menyenangkan, demikian semua tak pernah berhenti mewarnai perjalanan.
Saat cahaya benar-benar pergi, aku sadar: beberapa cerita tak selesai saat buku ditutup meski perlahan. Ia berpindah ke dada, menetap seperti sore yang enggan malam. Diam, dalam, dan terus menyala tanpa temaram.
Tiap kali semesta tampak runyam, atau rona kalbuku terasa buram, selalu ada angkasa yang tak bosan bawa harsa. Olehnya, daksa penuh lukaku dicinta. Ia ganti laraku jadi lega, ia usap dukaku menjadi sunyata. Hingga esok, tak 'kan jengah rasanya kutatap arunika dan senja dengan damba.
Senja, sejak itu, menjadi bahasa yang kupelajari tanpa guru. Ia tak memberikan definisi padaku, hanya menggambarkan contoh-contoh kecil yang berulang di pikiranku. Bayang pepohonan memanjang sepanjang jalan kenangan, suara burung yang menawar waktu, dan langkahku sendiri yang melambat seolah takut tiba di mana pun, termasuk di hatimu. Di sela jeda itulah kenangan menemukan rumah sementara, di antara detik yang enggan bergerak dan napas yang tak ingin berakhir sendu.
Ada wajah-wajah yang datang tanpa diundang. Mereka muncul bukan sebagai gambar utuh, melainkan serpihan. Tawa yang pernah pecah di sudut kota, hujan yang jatuh tepat setelah janji, pesan singkat yang tak sempat terkirimkan. Senja mengajarkanku menerima fragmen itu meski berantakan. Ia tak memaksa rindu menjadi cerita besar, cukup jadi cahaya tipis yang menempel di tepi hari, melegakan.
Aku duduk di ambang jendela, menatap dunia yang berwarna jingga sejenak sebelum menyerah pada biru kemudian hitam. Pertanda malam akan segera menukar waktu menjadi sedikit kelam. Di situ aku belajar bahwa kehilangan tak selalu berteriak pilu pada aram temaram. Kadang ia berbisik, seperti debu yang jatuh perlahan di rak kenangan yang ditulis oleh batang kalam. Kita menyadarinya setelah lama, ketika jari menyapu dan menemukan lapisan sunyi yang terbenam. Senja menenangkan penemuan itu, seolah berkata “tak apa, beberapa hal memang diciptakan untuk bertahan tanpa suara, kemudian tenggelam dan akhirnya karam”.
Kenangan punya cara sendiri untuk menguji keberanian. Ia datang saat aku merasa cukup kuat, lalu bertanya apakah aku siap memeluknya lagi, aaargh sialan. Senja menjadi penengah, tak sepenuhnya terang, namun juga tak benar-benar menggelapkan. Di wilayah abu-abu itu, aku berlatih memaafkan waktu, mengapa ia membawa pergi, mengapa ia menyisakan. Jawaban tak pernah jelas, namun ketidakjelasan justru membuatku tetap bertahan.
Aku ingat satu sore ketika angin menyebut namamu kembali tanpa sengaja. Bukan namamu, sebenarnya, hanya intonasi yang mirip, jatuh dari bibir langit jingga. Dadaku bergetar, bukan karena sakit, melainkan karena pengakuan diam-diam, bahwa mencintai pernah terjadi, dan itu cukup sekali saja. Senja menutup sore itu dengan lembut, seperti telapak tangan yang menenangkan punggung sebelum saat tidur tiba.
Di hari-hari yang lain, ketika hidup terasa seperti buku yang halaman-halamannya terlewat, senja mengingatkanku untuk membaca ulang dengan sabar. Tak semua kalimat harus dipahami, beberapa cukup dirasakan, pahit, manis, dan mungkin juga tawar. Kenangan tak menuntut kesimpulan, hanya kehadiran yang mengakar. Ia ingin duduk bersamaku, memandang horizon, membiarkan waktu lewat tanpa dipertanyakan dengan tanda tanya yang sangat besar.
Lalu malam datang, membawa janji yang sederhana, istirahat. Senja tak pernah iri pada gelap, ia tahu tugasnya selesai ketika warna memudar pekat. Dari situ aku belajar melepaskan, bukan karena lupa, melainkan karena percaya bahwa apa yang pergi telah menemukan bentuk lain untuk tinggal lebih dari sekedar dekat. Mungkin di mimpi, mungkin di doa, mungkin di senyap yang tiba-tiba terasa hangat.
Di antara jeda itu, aku duduk bersama sisa-sisa cahaya yang enggan sepenuhnya padam. Waktu melambat, seolah memberi kesempatan pada pikiranku untuk berdamai dengan hal-hal yang belum selesai, hal-hal yang tak bisa membuatku diam. Ada nama-nama yang tak lagi kusebut, peristiwa yang tak lagi kurekam. Semuanya hadir samar, tidak untuk menyakiti, hanya mengingatkan bahwa aku pernah hidup sepenuh itu dalam sebuah azam. Seperti senja yang tak memaksa langit menahannya lebih lama, aku belajar menerima bahwa beberapa hal memang diciptakan untuk singgah, bukan menetap semakin dalam.
Di batas antara terang yang pergi dan gelap yang datang, aku menemukan diriku sendiri, lebih hening, lebih sunyi. Tak ada keharusan untuk segera melangkah atau menoleh kembali. Aku membiarkan hatiku bernapas, memberi ruang bagi rindu tanpa harus memiliki. Sebab di saat seperti itu, aku paham, kehilangan bukan selalu tentang kekosongan, kadang ia hanya perubahan jarak dengan makna yang perlahan tumbuh, tanpa suara, tanpa tuntutan, menunggu esok untuk dimengerti.
Esok hari, ketika matahari kembali berlatih terbit, aku akan menyimpan senja. Warnanya, rasanya, kenangan, dan semuanya. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai penanda, bahwa aku pernah berdiri di batas, menatap masa lalu tanpa tenggelam, menyapa masa depan tanpa tergesa. Kenangan akan terus ada, berubah rupa, namun senja mengajarkanku satu hal yang paling jujur, bahwa hidup tak harus terang untuk berarti ada. Kadang, cukup berwarna sesaat, lalu pergi dengan anggun dan bersahaja.
Surakarta, akhir Januari 2026

Komentar