Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 26


Chapter SEPTEMBER

Part 2

Masih berbicara tentang circle pertemanan. Alhamdulillah, saat ini aku berada di lingkungan yang baik dan mendukungku. Salah satu yang membuatku semangat menjalani hidup sebagai ibu tunggal adalah sebuah komunitas yang tidak sengaja aku temukan di Instagram, yaitu Komunitas Single Mom Indonesia atau disingkat SMI. Banyak kegiatan yang komunitas ini selenggarakan. Mulai dari curhat di group, kopi darat dan meet up wilayah, SMI book ClubSMI English Club, dan Kelas Menulis.

Ada juga program pendampingan untuk memotivasi para Ibu tunggal agar tidak terpuruk dan bisa bangkit kembali. Aku menjadi salah satu peserta program coaching tersebut. Dalam bahasan yang dilakukan one on one dengan coach di awal pertemuan aku mengatakan ingin didukung dan didampingi untuk menghilangkan rasa insecure dan ketidak pedean karena stigma negatif yang melekat pada janda sepertiku.

Stigma memang jahat ya, bisa membuat harga diri seseorang menjadi rendah. Bahkan tidak sedikit perempuan yang sengaja menyembunyikan rapat-rapat status janda mereka karena menghindari stigma. Dan, aku salah satunya.

Di akhir pendampingan, aku mendapat masukan yang sangat berarti bagiku. Aku harus mencintai diriku sendiri. Aku harus selalu memeluk diriku sendiri dan melakukan self love. Jika bukan kita sendiri yang menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain akan menghargai kita? Aku harus tetap bangkit dan tumbuh menjadi versi terbaik dari diriku. Sekarang yang ada dalam pikiranku adalah membuang semua stigma negatif itu dan bicara pada Jihan yang baru bahwa semua daftar kerugian akibat bercerai dan sekarang menjadi ibu tunggal, akan kalah oleh satu hal yaitu mendapatkan lagi hidup Jihan yang baru yang lebih bahagia.

Terima kasih pada komunitas SMI, Coach Mey, dan Coach Abdillah Sanad untuk pendampingan yang sungguh sangat berarti. Juga pada Alineaku Publisher yang sudah mewadahi hobi yang akan mulai aku seriusi. ^_^

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...