Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 12

Chapter APRIL

Part 1

Assalamu’alaikum, diriku. Selamat atas new number-nya, yaa. Kalau secara kalender Hijriah, kamu sudah 41 tahun loh. Sudah tua juga ya. 


Apa kabar progress ibadahmu? Tak perlu kau umbar di semua medsosmu yaa. Saruu. Ingat umur woyy!!
Ibadahmu, cukup kamu dan Rabb-mu yang tahu, oke? 

Apa kabar hubunganmu dengan orang-orang di sekelilingmu? Aku tahu sifatmu, yang tidak pernah kepo dan mengurus kehidupan orang lain. Lah ngurusin badan sendiri aja susyaah sekali, ye kan?
Lanjutkan untuk yang satu itu, sifat yang gak kepo itu, maksudnya. Karena itu bukti kau sudah semakin dewasa.
Dalam hal tingkah laku dan cara berpikirmu. Kamu tahu kan, dan harusnya cukup mengerti bahwa Life begins at forty. Seperti tema keseluruhan ceritamu di buku ini. 

Jadi, Aku harap kamu lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk orang-orang yang kamu sayang.

Bukankah Rasul-mu bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain)” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). 

Jika kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain, maka tidaklah manfaat itu melainkan akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

Ingin diingat sebagai apa kamu nanti ketika sudah meninggalkan dunia ini? Itu juga sudah harus mulai kau fikirkan sejak saat ini. Apa kabar impian dan rencanamu? Apakah sudah ada yang tercapai?

Seperti halnya progress ibadahmu, pencapaianmu tak perlu kau posting pula di semua medsosmu yaa.

Maluu.

Cukuplah kamu, diary-mu, dan Pencipta-mu yang tahu perjuanganmu dalam mewujudkan seluruh cita-citamu.

Ingat, tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusnya pada Allah. Biarkan Allah menghapus rencana yang salah. Dan, menggantinya dengan rencana yang lebih indah dan berkah.

Sekali lagi, Barakallahu fii umrik Istanti’ Bi’idi Miladik. Selamat merayakan hari lahirmu dengan bahagia.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...