Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 14


Chapter APRIL

Part 3

Aku tak pernah menyangka menjadi sosok seperti ini sekarang. Mengingat enam tahun yang lalu aku adalah seorang Ibu yang teronggok lemah dengan infus di tangan. Seorang Ibu yang baru saja kehilangan janinnya. Bukan tidak ingin move on, tapi hanya ingin mensyukuri perjalanan hidup beberapa waktu ke belakang. Nikmat sehat, nikmat bahagia, betapa banyak hikmah yang ku dapat setelah peristiwa itu terjadi. 

Yes, I’m doing great. Meskipun sedang banyak huru hara dalam hari-hariku. Beberapa pekan sedang bekerja keras menyeimbangkan pekerjaan, manajemen keuangan, dan urusan pribadi yang entah mengapa tiba-tiba datang secara bersamaan. Selalu bilang Alhamdulillah mampu melewati ini semua. Meskipun juga sering mengadu dan mengucap Astaghfirullah tanpa jeda. Aku ingat, ada yang harus ku jaga, ku rawat, ku syukuri, ku banggakan, dan harus ku peluk kencang karena sudah melewatkan segala macam beratnya keadaan, yaitu aku sendiri. 

Aku merasa seringnya luka banyak merubahku yang semula berisik dan asik menjadi diam dan pendendam. Yaa, sebelum menjadi perempuan setenang ini, aku pernah jadi perempuan gila yang menuntut keadilan dan kesembuhan atas luka dan trauma, sampai akhirnya aku memilih untuk berdamai dengan semuanya dan akhirnya semua membaik secara perlahan.

Keep fighting, Jihan. Mari sembuh bersama waktu. Dan, berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak jatuh ke jurang yang sama lagi. Apapun proses yang sedang kamu jalani saat ini, fokus saja ya,, set your intentions to focus on your own journey. Nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Bandingkan saja progressmu dengan dirimu yang dulu. Periksa ke dalam sudah seberapa jauh kamu berproses tanpa mengeluh.

Keep your spirits up, babe,,, Kata dia,, dia siapa ? nanti akan aku ceritakan ^_^


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...