Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 22


Chapter JULI

Part 2

Bulan Juli 2024, di kantorku menerima beberapa mahasiswa yang sedang melakukan kerja praktek atau magang. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang konsentrasi ke bidang keilmuan perencanaan wilayah dan kota. Aku jadi ingat dengan impianku ketika masih jadi mahasiswa dulu. Aku pernah punya keinginan mempunyai banyak sahabat dari universitas lain yang mempelajari ilmu yang sama denganku. Berbagi pengalaman dan saling bercerita mengenai suka duka menjadi mahasiswa yang mempelajari ilmu perencanaan. Namun, pada saat itu belum banyak universitas yang memiliki program studi Planologi atau ilmu perencanaan wilayah dan kota.

Saat adik-adik mahasiswa ini datang, aku jadi merasa terpanggil untuk mewujudkan mimpiku itu. Aku senang berbagi pengalaman dengan mereka. Aku juga belajar banyak dari mereka tentang aturan-aturan yang berlaku sekarang, yang tentunya tidak aku pelajari di 20 tahun yang lalu. Bulan Juli itu, aku mendapatkan kesempatan membersamai mereka untuk bertukar ilmu dan pengalaman. Hingga hubungan personal juga terjalin, aku ikut senang ketika mereka masih mengingatku, masih saling berkabar, dan menyapaku meski lewat pesan di sosial media. Bagiku, menjadi mentor mereka seperti momong keponakanku sendiri. 

Setiap hari selalu ada cerita bersama mereka, ke lapangan untuk cek lokasi, membuat dan merapikan dokumen kajian, makan, dan berbagai kebersamaan lainnya menjadi kenangan tersendiri di hati. Dan ketika saatnya perpisahan, aku hanya ingin bilang, 

“Untuk adik-adikku yang sudah lulus magang, selamat kembali ke kampus, semoga ilmu yang didapat bermanfaat. Aku tunggu cerita suksesmu di masa depan. Good luck, guys.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...