Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 19

Chapter JUNI

Part 1

Seperti yang kubilang di chapter sebelumnya, bahwa menjadi Ibu itu harus bisa apa saja alias multitalenta, memiliki banyak kemampuan, jabatan dan bisa menjadi banyak profesi. Namun, ibu juga seorang individu yang perlu sarana untuk mengembangkan diri. Dan, aku adalah seorang ibu pekerja, ibu rumah tangga, juga seorang ibu yang memiliki banyak hobi. Aku suka belajar hal-hal baru untuk meningkatkan kompetensi yang ku miliki. Pada bagian ini aku akan menceritakan tentang hobi menulis yang mulai ku seriusi.

Salah satu hobiku adalah membaca. Aku suka membaca novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulis. Salah satu novel favoritku adalah trilogi Negeri 5 Menara karya Uda Ahmad Fuadi. Di situ beliau menceritakan kisah Alif, si tokoh utama, sebagai seorang santri dengan segala kegiatannya. Alif suka menulis buku harian sejak usia belia. Dan tulisan-tulisan Alif itulah yang kemudian dijadikan sumber membuat novel yang fenomenal. Perjalanan tokoh Alif dari mulai remaja di pondok Madani, masa-masa kuliah, bekerja hingga menemukan tambatan hati untuk berumah tangga.

Sekitar tiga minggu yang lalu, di bulan Juni 2024, aku mengikuti kelas menulis fiksi yang diadakan sebuah komunitas. Menulis fiksi dari kisah nyata. Aku tertarik karena aku sudah sering menulis di beberapa platform namun belum pede untuk melanjutkan menjadi karya novel. Masih jauh sekali sepertinya, karena aku sadar diri bahwa aku masih dalam tahap belajar. Dulu sekali (mungkin seusia SD) aku sudah sering menulis diary. Bercerita apa saja di buku itu. Tentang masalah pertemanan yang tiba-tiba aku dijauhi entah apa sebabnya, tentang pelajaran hari itu, bahkan tentang menyukai seseorang di masa remaja.

Ingin sekali merangkai lagi kisah-kisah itu, namun kadang mood yang tidak bisa dikendalikan ini membuatku malas memulainya. Hingga hari ini ketika aku membaca kembali halaman ke 30 novel Rantau 1 Muara, buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara, memaksaku untuk mengawalinya kembali, setidaknya di sini, bercerita di antara kesibukan sebagai ibu pekerja yang tiap weekend juga harus quality time bersama keluarga. 

Semoga ungkapan hati ini tidak mengendap lagi. Seperti yang uda Fuadi katakan di kelas menulis tempo lalu, menulislah dari hati, (semua) akan sampai ke hati (pembaca). Bismillah,,, semangat menulis lagi,,, ^_^

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...