Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 18


 

Chapter MEI

Part 3

Menjadi Ibu itu harus bisa apa saja alias multitalenta, memiliki banyak kemampuan, jabatan dan bisa menjadi banyak profesi, apalagi ibu tunggal sepertiku. Tentu tidak mudah melakukan itu semua pada awalnya. Terpikir menjadi janda di usia muda pun tidak. Kalau bisa menghabiskan uang dari suami tanpa harus capek-capek bekerja tentu aku akan memilih opsi itu.

Aku yang dulu selalu berpikir bahwa Ibu yang meninggalkan anak untuk bekerja hingga ke luar kota itu adalah Ibu yang tega sekali. Apalagi menitipkan pengasuhan pada orang lain, seperti “mbak” atau “baby sitter” itu “kok bisa yaa.” Ternyata, tahun 2019 pernyataan yang hanya ku simpan tanpa kuucapkan itu menjadi kenyataan. Terjadi begitu saja padaku. Bahkan aku lebih parah, karena aku menitipkan anakku kepada neneknya, yaitu Ibuku. Ibu yang harusnya menikmati hari-hari tuanya pasca purna jadi berperan ganda menjadi Ibu sekaligus nenek bagi anak semata wayangku. Maafkan putrimu ini ya, Bu.

Hari-hari menjadi pejuang PJKA atau pulang Jum’at kembali Ahad tak terasa sudah ku jalani selama lima tahun. Tentu ketika weekend tiba, adalah saat yang paling bahagia. Karena aku kembali pada fitrahku sebagai seorang Ibu untuk anakku. Menemani kemanapun dia pergi, mengajarkan banyak hal padanya, dan memberi apa yang dia minta sesuai kebutuhannya.

Kesendirian yang dulu kukira akan membunuhku karena tak ada lagi yang berbagi beban pekerjaan rumah tangga, ternyata malah menjadi sumber kekuatanku. Kini, aku bisa tersenyum bahagia, bahkan siap menyapa jika tak sengaja bertemu dengannya (meskipun, jujur saja, aku tak berharap untuk berjumpa, haha). “Hai, mantan! Setelah kau pergi, lihatlah, aku semakin menawan, kan?”

Jadi ingat lagu “Stronger” -nya Britney Spears…


You might think that I won’t make it on my own

But, now I’m
Stronger than yesterday

Now its nothin’ but my way

My loneliness ain’t killing me no more

I am stronger

 

Ya, seperti kata Mbak Britney, aku harus jadi Ibu yang kuat, Ibu yang sehat, Ibu yang semangat, dan tentu jika ingin melihat anakku bahagia, aku harus jadi Ibu yang bahagia juga, bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...