Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 7


Chapter MARET 

Bulan Maret dan Oktober tiap tahun selalu membuka kenangan pahit yang terjadi dalam hidupku.

Tahun 2017 adalah tahun terakhir aku berpasangan,, Usia pernikahan yang seumur jagung karena belum ada 10 tahun, membuatku kadang insecure dengan pasangan-pasangan yang penuh cinta. Jujur, kadang pengen deh menikah lagi, tapi jodohnya belum tiba. Usia diri yang tak lagi muda juga mungkin jadi faktor lainnya. Selain itu juga tidak ingin jatuh lagi ke lubang yang sama.

Hari ini, aku akan bercerita mengenai sebuah nikmat yang singkat, nikmat yang pernah hadir meski sesaat. Bulan itu, tepatnya 31 Desember 2017, adalah HPHT bulananku. Yang berarti semenjak itu telah dititipkan makhluk kecil di rahimku. Tentu aku belum tahu karena beberapa bulan kemudian baru kusadari aku hamil anak kedua. Dan, waktu itu, agak lupa-lupa ingat, dia, Entah berada dimana. Sibuk dengan dunianya. Aku juga seperti biasa dengan keremponganku mengantar anak pertama. Mendampingi setiap perkembangannya.

Lalu, minggu-minggu berikutnya masih seperti biasa, layaknya keluarga kecil yang menginginkan hal yang lebih baik dan bahagia. Ah, tapi rencana dan hitungan manusia tentu berbeda dengan takdir-Nya. 11 Maret 2018 setelah hampir 2 minggu merasakan pusing yang tak biasa, ternyata anugerah Allah yang kedua tiba, hasil test pack menunjukkan dua garis. Senang, sedih, dan bingung campur jadi satu rasanya. Senang karena salah satu keinginan lama tiba, sedih karena rasanya belum mampu dengan sabar membimbing anak pertama, bingung karena dia semakin jauh dari rasa yang seharusnya. Duhh, Allah, entah apa yang terjadi sehingga hamba-Mu ini penuh keraguan. Tiga hari kemudian, kabar bahagia itu berubah menjadi duka, karena Allah telah mengambil malaikat keduaku ke hadapan-Nya, setelah sore itu darah mengalir dari jalan lahirku. Kabar bahagia yang ternyata hanya beberapa hari umurnya.

Entah, sudah berapa purnama sejak peristiwa itu, terkadang aku masih menangisi keadaanku. Sudah berapa banyak air mata yang aku keluarkan jika mengingat bilangan tahun keadaanku saat itu. Berapa tetes darah yang hilang dari tubuhku, akibat aku kehilangan buah hatiku yang kedua, yang ku nantikan sejak lama.

Mengapa harus aku Yaa Rabb, yang harus mengalami bertubi masalah itu? Selalu itu yang ku tanyakan sepanjang tahun 2018. Tahun yang menjadi titik balik kehidupanku sekarang. Tahun yang menjadi pertanda betapa hatiku yang sudah retak semakin hancur berkeping-keping. Berbagai peristiwa di tahun itu, banyak menguras kewarasanku, membuatku merasa kehilangan banyak cinta. Seandainya di sekelilingku waktu itu tidak ada keluarga serta sister brother lillah, entah,, mungkin aku sudah kehilangan imanku. Ighfir Li Ya Robbi. :’)

Peristiwa pahit yang ku harap hanya sekali ku alami dalam hidupku. Melupakan itu tidak mungkin karena semua itu memang nyata terjadi. Namun, untuk mengingatnya terus aku tidak akan bisa menemukan Jihan yang baru seperti yang teman-teman lihat seperti sekarang. Kini, aku semakin sadar.

Allah membuatku seperti ini agar aku semakin kuat menjalani hidup. Seseorang berkata padaku, Allah meletakkan sesuatu yang berat, pada tempat yang kuat, seperti bahumu Jihan. Ahh…sebenarnya aku tidak sekuat itu kawan,,,aku hanya berusaha kuat dan tetap semangat demi orang-orang yang mencintaiku

Maret 2024, aku harus bangkit dari trauma pasca bencana. Aku yang sebenarnya rapuh ini tidak boleh kelihatan semakin runtuh, karena ada beberapa cinta yang harus kurengkuh. Aku menyembuhkan diriku sendiri dari semua peristiwa yang menghancurkan mental dan fisik. Aku selalu percaya Allah selalu ada bersamaku. Terima kasih yaa aku, sudah hebat dan semangat sejauh yang aku mampu, mari bersama mengukir cerita indah dan bahagia di hari-hari berikutnya,, jangan nangis lagi yaa. ^_^

Foto ini ku keep lama karena sungguh membuat mentalku down jika mengingatnya. Insyaa Allah saat ini sudah membaik. Jadi, aku beranikan diri untuk upload dan bercerita.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...