Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 3


Tak mudah bagi seorang introvert sepertiku mengungkapkan apa yang dirasa pada semua orang. Hanya beberapa sahabat, tidak lebih dari tiga orang, yang mengerti secara detail siapa aku dan bagaimana aku menyikapi sesuatu. Aku lebih suka menuliskan perasaanku di diary yang sudah bertumpuk sejak aku masih SD. Karena itulah menulis bisa jadi skill ku yang lain selain menganalisa dan membuat kajian serta merapikan dokumen pekerjaan di kantor. Di kantor aku pun lebih sering bekerja di balik layar daripada menunjukkan siapa aku sebenarnya.

Layaknya sebuah buku, seorang perempuan sulit dimengerti keinginannya. Banyak orang yang bisa membaca buku, namun sedikit saja yang mampu memahami isinya. Begitu pula dengan perempuan bukan? Tak ada yang benar-benar bisa memahami isi hatinya. Yaa, dan aku sebagai seorang perempuan dan introvert pula, mengakui hal itu.

Inilah mengapa aku lebih suka menulis di diary dan mengolah kata menyesuaikan isi hatiku, saat ini.. Selain aku juga lebih suka mengekspresikan perasaanku lewat tulisan daripada lisan. Diary-diaryku yang dulu ada beberapa yang sudah lenyap karena seringnya aku merantau dan kembali dalam waktu yang lama. Entah, apakah mereka berakhir dibuang karena sudah dianggap usang atau ada yang mau membaca dan memahaminya. Biarlah, isinya juga nggak penting-penting amat. Hanya cerita masa kecilku, iri-irian sama teman sekolah, atau persaingan mendapatkan juara kelas.

Menulis bagiku sampai saat ini adalah self healing paling ampuh. Aku bisa marah, berteriak, tertawa, malu-malu, bahkan menangis, dan mengungkapkan semuanya melalui kata. Hobi menulisku ini sudah sejak lama ku tekuni. Pernah ikut kelas menulis dan punya keinginan untuk melahirkan sebuah antologi. Tapi selalu terhalang karena ada kewajiban lain yang tak bisa ku tinggalkan. Jadilah tulisan-tulisanku mentok jadi caption galau atau story di medsosku. Itupun ketik hapus – ketik hapus karena kadang merasa alay dan lebay di usia yang sudah tidak muda ini. Ada yang bilang reading is therapeutic. Tapi untukku, sebagai pelengkapnya adalah writing is one of my way to self healing. Kalau tidak segera dituliskan, ide-ide ini akan membuatku gila.

Nanti di chapter November aku akan bercerita mengenai antologi yang akhirnya bisa menjadi karya pertamaku dalam menulis. Juga gebrakan-gebrakan yang tidak kusangka bisa kulakukan di tahun ke 40 ku ini. Baik itu dalam pekerjaan, sikap, maupun percintaan. Ahaiiii…..


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...