Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 17


 Chapter MEI

Part 2

 

Mei adalah bulan kelahiran Bapak.

Bercerita tentang Bapak sungguh menjadi bagian mengharukan untukku, tapi aku akan tetap mencoba bercerita tentang beliau, laki-laki cinta pertamaku. Eh tapi bingung mulai dari mana, karena saking banyaknya cerita. Mungkin akan kucoba dari sini saja.

Bapak, laki-laki pertama dalam hidupku, cinta pertamaku. Sosok yang mengajarkanku mengenal hidup yang penuh liku. Sosok pertama yang membimbingku mengenal Allah, Rabb-ku. Ilmu agama aku dapatkan pertama dari beliau, karena memang Bapak adalah seorang guru agama di sekolah dan guru mengaji di kampung kami, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Laki-laki cinta pertamaku inilah yang tentu meng-adzan-i dan meng-iqamah-i saat aku dilahirkan. Bapak dengan perlahan membimbingku melangkah setapak demi setapak. Mengajariku Alif Ba Ta hingga idzhar dan ikhfa’. Tak pernah lelah membentukku menjadi wanita tegar dan kuat. Seperti yang saat ini kalian lihat.

Bapak adalah sosok yang menjadi garda terdepan di saat aku tersakiti, saat aku terdzolimi, namun juga orang pertama yang menangis ketika ada yang meminangku atau aku mendapatkan hasil atas kerja kerasku. Bapak yang selalu berusaha menempuh segala cara agar aku bahagia. Tak pernah rela putrinya ini sengsara. 

Bapak yang melepas putrinya pada laki-laki yang salah, laki-laki yang ternyata menghancurkan separuh hidupku. Tidak ada yang tahu, aku, Bapak, juga Ibu jika akhirnya hidupku berantakan karena laki-laki yang dulu ku pilih sendiri. Maafkan putrimu ini, Pak. Karenaku, keluarga kita tidak lagi utuh, dan Bapak hingga kini berperan ganda sebagai kakek juga ayah bagi Ghani, anakku.

Aku sayang banget sama Bapak,, mugi Bapak pinaring keberkahan umur panjang, kesehatan,, agar bisa mirsani putra, mantu, wayah, sukses sedaya

Aamiin,,,

Nyuwun pangapunten Bapak, kalau Ulfa masih sering merepotkan Bapak, beberapa harapan Bapak belum bisa Ulfa tunaikan, bahkan mungkin beberapa bagian hidup Bapak menyakitkan gara-gara Ulfa, yaitu ketika Ulfa gagal mempertahankan pernikahan. Tapi, Bapak pasti mengerti kenapa Ulfa memilih jalan perpisahan itu. Sekarang Ulfa buktikan bahwa perceraian bukan menjadi penghalang untuk Ulfa berkembang. Justru Ulfa lebih bahagia dan nyaman sekarang.

Nyuwun pangapunten ingkang kathah. Insya Allah Ulfa akan berusaha membahagiakan Bapak dan Ibu sejauh Ulfa mampu,, I love you,,,


Untuk text Bahasa Jawa bisa tanya orang Jawa, hehee…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...