Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 10


Chapter MARET

Part 4

Hai diriku, Empat ratus Sembilan puluh purnama yang lalu, kamu sungguh lucu, seseorang yang ada di hatiku sekarang pernah bilang padaku, mataku sejak dulu selalu menyiratkan sesuatu yang sendu. Aku tidak tahu apakah memang seperti itu, karena memang hingga sekarang, banyak sekali luka terpendam yang tak pernah kubagi dan seringnya kurasakan sendiri. 

Aku yang sekarang ingin menyapamu, hai diriku di masa lalu, apakah menjadi saat ini adalah keinginanmu dulu? Ku rasa iya, karena kita tahu, bagaimana Bapak Ibu mendidik dan mengarahkan diri ini menggapai semua cita dan keinginan.

Pernah kepikiran nggak, semua yang kita lalui hingga menjadi sosok seperti sekarang adalah hasil ikhtiar dan do’a bapak ibu yang selalu mengalir kepada kita? Kamu, bisa jadi adalah pribadi yang sangat berbeda denganku yang sedang menulis cerita ini. Aku adalah kamu beberapa tahun kemudian, dan kamu adalah aku di masa lalu yang sedang menulis mimpi-mimpi, yang sedang kuat dan semangat sejauh kita mampu untuk mewujudkannya

Aku bersyukur dengan apapun yang telah ku lewati hingga membentukku jadi sosok yang lebih baik di titik ini. Maafkan aku yang dulu sering membuatmu berjuang lebih keras untuk menggapai rencana-rencana kita. Ini aku lakukan agar aku bisa terus bangga kepadamu. Tersenyumlah, karena kita terlahir menjadi seorang pemenang sekarang. Berbahagialah dengan sederhana. Dan ingatlah bahwa jalan yang kita lalui tidak mudah, namun percayalah aku tetap bangga kepadamu. Wahai diriku di masa lalu,, Terima kasih atas perjuanganmu. Alhamdulillah, ternyata kita mampu, mewujudkan mimpi satu persatu. 

Setelah menyapa diriku di masa lalu,, aku ingin menyapa diriku di masa datang,,

Hai diriku di masa depan,,,bagaimana kabarmu? Berapa usiamu saat membaca surat ini sekarang?
Sebaik apapun rencana kita, nyatanya rencana Tuhan tetaplah yang terbaik. Kamu, bisa jadi , juga pribadi yang sangat berbeda denganku yang sedang menulis surat ini. Aku adalah kamu beberapa tahun yang lalu, dan kamu adalah aku di masa depan yang telah berhasil mencoret mimpi-mimpi yang telah kita capai
Aku juga sangat bersyukur dengan apapun yang telah kita lewati hingga membentukmu jadi sosok yang lebih baik, lebih kuat, dan hebat di titik ini. Maafkan aku yang sering membuatmu berjuang sangat keras untuk menggapai rencana-rencana kita. Ini aku lakukan agar aku bisa terus bangga kepadamu
Tersenyumlah, karena kamu terlahir juga seorang bintang sekarang. Berbahagialah dengan sederhana. Dan ingatlah bahwa jalan yang kita lalui bertahun-tahun ini tidak mudah, namun percayalah aku tetap bangga kepadamu. Wahai diriku di masa depan,, Trimakasih karena sudah menjadi manusia kuat versimu,

Untuk diriku sendiri di masa kini,, 

Kita tahu, bahkan sangat mengerti,,,Dunia kita monokrom, sejak 7 tahun yang lalu,, hanya kombinasi hitam dan putih dalam hidupku

Untuk mengembalikan aku yang dulu pernah memiliki banyak warna ceria, rasanya tidak mudah. Percaya pada diri sendiri bahwa aku mampu melewati semuanya, itu juga butuh waktu dan sangat susah. 

Untuk mengenal diriku seperti sebelum peristiwa “menyakitkan” itu. Lalu, membentukku menjadi seorang Jihan yang baru. 

Untuk mewarnai hari-hariku, menjadi tak hanya hitam atau putih, namun juga biru, abu, dan ungu. Hanya waktu yang bisa menjawab semua itu,, 

Entah, sampai kapan warna-warna tersebut kembali menjadi warna permanen yang tak lagi terhapus bahkan oleh waktu. Aku belum tahu. Namun, aku masih berharap, akan ada seseorang yang akan membawa semua warna yang ku inginkan kembali menghiasi hari-hariku ke depannya. Seseorang yang akan membimbingku, membersamaiku, hingga menuntunku ketika aku kembali pulang padaNya

Ah, tapi kadang aku ragu, sebab,,,Mungkin seseorang itu memiliki prinsip, tak ingin mengubahku, seperti kata baratasastra “jangan paksa putih menjadi biru atau jingga menjadi abu-abu. Mereka sudah cukup indah pada tupoksinya”


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...