Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 8


Me in My Forty (Bagian 8)_alineaku

Flashback pada Maret 2019 …

Penata Ruang adalah pekerjaanku di pagi hari sejak 6 tahun yang lalu, sedangkan penulis random adalah pekerjaan sambilanku. Pernah juga jadi staff administrasi dan keuangan, dan jadi guru les. Eh, berkecimpung di perbakulan gombal juga pernah. Jadi mau dibilang aku ini multitalenan juga bisa, heheee.

Usiaku tak lagi muda ketika aku mendapat kesempatan mengikuti seleksi penerimaan pegawai, sebut saja CPNS. Bahkan cenderung hampir expired saat itu. Ilmu yang didapat saat kuliah juga sudah menguap seiring berjalannya waktu. Lulus S1 di tahun 2009, keterima tahun 2019. Sepuluh tahun sudah ilmu planner-ku bercampur dengan ilmu pernikahan (yang sayangnya gagal ku pertahankan), parenting, perpopokan, pergombalan, harga bawang di pasaran, dan lain-lain. Tapi sepertinya sudah rezekiku. Dan do’a-do’a baik yang mengalir padaku yang akhirnya memberiku pengalaman baru sebagai ASN di kota tempatku bekerja saat ini.

Jika kalian, eh adik-adik, pernah mengikuti rangkaian tes CPNS, pasti tidak asing dengan istilah yang akan ku bahas sebentar lagi. Lulus tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) mengalahkan 42 saingan kemudian lulus SKB (Seleksi Kompetensi Bidang) dan menjadi 2 besar di formasi adalah kejutan yang sungguh tak pernah kusangka. Dan hingga saat ini masih banyak kejutan-kejutan lain yang aku dapatkan, diantaranya mendapat rekan kerja yang usianya jauuuuuh lebih muda. Lah gimana, mereka anak 90-an, sedangkan aku? Masuk kepala 4 tahun 2024, hiks sudah tua yaa :’)

Untunglah, para muda mudi ini tidak pernah mendiskreditkan aku yang kemampuannya jelas jauh di bawah mereka. Apa yang aku dapat dulu tentu tidak sama dengan yang mereka dapat sekarang. Semua sudah berubah seiring perkembangan zaman. Dan, aku yang harus selalu belajar, mencari pengalaman, dan menerima perubahan itu.

Lalu, apa hubungan ceritaku kali ini dengan gambar yang kubagikan?

Itu gambar rumahku. Rumah masa kecil yang sudah banyak mengalami renovasi. Di petak bidang tanah seluas kurang lebih 250 m2 itu aku dididik Bapak dalam hal agama dan Ibu dalam hal sosial dan kemampuan dasar lainnya. Bapak, cinta pertamaku, mengajarkan banyak hal padaku, dari alif ba ta hingga idzhar dan ikhfa’. Sedangkan Ibu, dengan sabar membimbingku berjalan, berlari, baca, tulis, hitung, dan tentu saja memasak dan berkebun (yang sayangnya keduanya bukan hobiku).

Aku bersama kakak perempuan dan adik laki-lakiku menghabiskan hari-hari sebelum dewasa di rumah penuh kehangatan itu. Rumah yang menjadi saksi betapa keras hidup kami dalam menggapai cita-cita yang sekarang berhasil kami wujudkan. Dulu, belum sehangat dalam arti sebenarnya seperti sekarang. Karena rumahku hanya berupa dinding kayu dan lantai ubin berukuran 20 cm x 20 cm, setengah tembok seperti keadaan rumah di tahun 90an. Sekeliling rumah masih berupa empang yang tiap kali hujan selalu meluap airnya hingga banjir memasuki ruang tamu dan kamar tidurku. 

Yaa,, lokasi tempat tinggalku memang langganan banjir sejak dulu.

Namun, bukan itu yang akan kuceritakan selanjutnya. Ini tentang ketegaran Bapak Ibu yang memiliki kami, tiga putra putrinya, yang menderita bronchitis. Tiap bulan dengan sabar bapak dan ibu bergantian mengantar kami control ke dokter anak di kota. Tapi tak pernah ku lihat Bapak maupun Ibu mengeluh dengan keadaan kami bertiga. Jika sekarang aku yang mengalami aku tidak akan sekuat mereka. Hingga di usia sebelum lulus sekolah dasar kami bertiga dinyatakan sembuh dari penyakit itu. Dan, kini kami tumbuh sehat dan besar, gendut maksudnya, serta bahagia bersama keluarga kecil kami masing-masing. 

Pasti tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku dan kedua saudaraku berhasil menekuni bidang yang menjadi mimpi kami. Karena bagi kami masa kecil berlalu dengan sehat dan ceria sungguh suatu anugerah luar biasa. Terima kasih Bapak Ibu atas segalanya,, Sehat-sehat nggih,,, Maaf jika Ulfa masih suka merepotkan Bapak dan Ibu di masa tua yang harusnya Bapak Ibu bahagia berdua malah Ulfa titipin cucu,, Semoga masih ada waktuku untuk membahagiakan mereka berdua. Panjangkan usia Bapak Ibuku. Yaa Allah,, I love you both,,,

Hmm,,, rasanya terlalu banyak aku bercerita,, jadi ku rasa cukup sekian aja ya,, Burung Irian Burung Cendrawasih. Cukup Sekian dan Terima gaji, eh terima kasih.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...