Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 5


Chapter FEBRUARI

 

Pasca banjir, anakku masih trauma setiap hujan deras,,, namun aku selalu meyakinkannya semua akan kembali pulih. 

“Tenang, Dek. Ada Ibu, yuk kita rangkai lagi satu-satu.”

Pemandangan di depan balkon rumahku ini dulu kusebut sudut kebahagiaan Bapak. Karena disitu selalu kutemukan senyum bahagia Bapak setiap kali selesai mengajar madrasah yang salah satu kelasnya berada di rumah. Bapak yang notabene seorang pensiunan guru agama masih belum bisa melepas rutinitasnya sebagai pendidik. Jadilah beliau mengisi siang hingga sore harinya dengan tetap mengajar anak-anak seusia SD sampai SMP yang mengikuti kegiatan sekolah sore berbasis agama, semacam TPA atau di daerah kami biasa disebut dengan madrasah atau sekolah Arab.

Usai memberikan materi, Bapak akan duduk di kursi tersebut sambil menatap pemandangan di depannya. Di balik pintu teras atas tersebut biasanya para siswa mendengarkan apa yang Bapak sampaikan. Pemandangan atap masjid yang terletak di depan rumah kami sering dipandang lekat-lekat oleh Bapak. Lalu, jika adzan Ashar berkumandang dari muadzin Masjid, Bapak akan bersiap menjadi imam untuk memimpin sholat.

Lupa, sejak kapan aku menjadikannya sudut kebahagiaan Bapak. Mungkin sejak aku sering melihat Bapak tersenyum usai mengajar siswanya. Sudut kebahagiaan Bapak ini tidak akan kami ubah sampai kapanpun. Semoga Bapak diberikan panjang umur dan kesehatan agar menjadi sumber kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Aamiin… Uh, nulis gini aja, aku kok jadi mewek sendiri, emang dasar aku cengeng orangnya.

Pasca banjir, kunamai sudut ini menjadi sudut kehangatan, karena setelah lelah membersihkan rumah yang penuh lumpur akibat bencana, kami akan berkumpul bersama di sana. Makan bersama, sholat bersama, hingga tidur bersama kami lakukan di ruangan yang sebelumnya adalah kelas tempat Bapak mengajar murid-muridnya. Ruangan yang tak begitu besar yang menjadi saksi betapa kita menghabiskan suka duka bersama, saling menguatkan agar semua kembali pulih seperti semula. 

Ada satu sudut lagi yang menjadi saksi hebatnya orang tuaku mendidikku menjadi wanita kuat seperti ini. Kalian mau tahu sudut apa yang kumaksud ? Aku akan menceritakannya,,

Sudut di rumah orang tua kami, yang tiap weekendnya aku kunjungi. Sudut ini kunamakan sudut pencapaian. Kenapa seperti itu? Karena di sudut yang berada di ruang tamu rumah orang tua kami, terlihat tiga foto wisuda kami. By the way, aku adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Kakak perempuanku adalah seorang nakes yang berkecimpung di per-gizian, Adik lelakiku adalah seorang tenaga ahli di bidang kelistrikan. Sedangkan aku adalah seorang penata ruang (bukan penata ruangan yaa hihi), lebih concern ke perwilayahan dan perkotaan.

Foto dan plakat wisuda kami adalah bukti pencapaian kami di bidang masing-masing. Menjadi bukti pula bahwa pasangan tenaga pendidik di sebuah kota kecil di Jawa Tengah telah berhasil mengantarkan putra putrinya hingga sekarang ini. Aku masih ingat momen-momen ketika setiap dari kami mendapatkan pencapaian selanjutnya yaitu diterima bekerja, Bapak menangis dengan penuh sedu sedan, sedangkan Ibu berusaha tegar, tapi aku tahu sebenarnya Ibu juga menyembunyikan perasaan haru birunya.

Kini setelah Bapak Ibu purna dari tugasnya, kami yang Insya Allah melanjutkan kiprah beliau berdua mengabdi untuk negeri ini. Suatu saat nanti, aku akan dengan bangga bercerita kepada anak dan cucuku. Aku bangga terlahir dari keluarga yang penuh kehangatan. Keluarga yang selalu mengapresiasi setiap momen pencapaian yang telah diraih. Sehat selalu, Bapak Ibu. Semoga masih ada waktuku untuk membahagiakan keduanya. 

Aamiin,,,


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...