Sabtu, 28 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

 


Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.


Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan.


Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan?


Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (seharusnya) tetap ada di hari-hari setelah Ramadhan antara lain:


1. Bangun di jam 03.00 pagi

Selain untuk sahur, juga untuk mendisiplinkan diriku sendiri dalam minum obat lambung. Jadi aku bangun rutin jam tiga setelah mendengar alarm dengan ringtone “Sudden Shower” nya Byeon Woo Seok, hehe,, kemudian aku minum air putih dan menelan obat lambung. Sambil menunggu reaksi obat bekerja yaitu dalam tiga puluh menit setelahnya, aku sholat tahajjud dan dirangkai dengan sholat witir serta dzikir pagi. Oiya, sambil update challenge ini juga, menulis sebelum sahur setidaknya sepuluh hingga lima belas menit.


2. Mengaji setelah Sholat Shubuh.

Meskipun dengan kantuk tertahan, aku selalu mencoba membaca Al-Qur’an paling sedikit dua lembar, selain untuk menutup target khataman di Bulan Ramadhan, tujuan ku mengaji adalah untuk membiasakan diri sebagai terapi kesehatan. Dan biar nggak malas saja, konon banyak yang bilang kalau tidur lagi setelah Shubuh itu tidak baik kaan? 


Nah, aku mencoba melawan rasa kantuk itu dengan mengaji, sering juga aku lanjutkan dengan membaca terjemahannya. Ini bisa jadi menambah kecintaan kita terhadap kitabNya lhoo,, bahkan aku pernah ketika sedang kalut, tiba-tiba menemukan sebuah ayat yang menjawab masalahku, tepat di saat aku menunggu pagi untuk bersiap ke kantor. 


Ya, mengaji juga bisa jadi memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya tentang target khatam, tapi tentang menghadirkan hati saat membaca. Aku ingin membangun kebiasaan menyisihkan waktu khusus, selepas Subuh ketika rumah masih sunyi, untuk membaca beberapa ayat dengan pelan. Merenungi maknanya. Menuliskan satu-dua kalimat refleksi di buku kecil. Karena sering kali yang membuat kita jauh bukan kurangnya waktu, melainkan kurangnya kesungguhan.


3. Kebiasaan baik lain yang ingin ku bangun tentu saja menjaga lisan. 

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan komentar yang tak perlu, keluhan yang berlebihan, dan gosip yang terasa ringan namun berdampak berat di hati dan pikiran. Ramadhan menjadi latihan terbaik untuk membangun jeda, berpikir sebelum berbicara, memilih diam ketika emosi memuncak di dada, dan mengganti keluhan dengan do’a. Jika selama sebulan kita berhasil melatihnya, bukankah itu bisa menjadi bekal berbulan-bulan setelahnya?


4. Kebiasaan baik berikutnya adalah mengatur waktu lebih terstruktur. 

Aku ingin membangun kebiasaan disiplin dalam waktu. Saat berpuasa, ritme harian berubah. Ada sahur, ada berbuka, ada tarawih. Semua itu sebenarnya melatih manajemen waktu yang lebih terstruktur. Bangun lebih awal, tidur lebih teratur, menyelesaikan pekerjaan sebelum energi menurun. Ramadhan mengajarkan bahwa tubuh yang sedang berpuasa pun tetap bisa produktif, asal kita pandai mengatur ritme dan tidak menunda-nunda.


5. Selain itu, ada kebiasaan berbagi yang ingin terus ditumbuhkan.

Memberi tak selalu tentang nominal besar. Bisa berupa makanan untuk berbuka, pesan penguat untuk teman yang sedang lelah, atau sekadar mendengarkan tanpa menghakimi. Ramadhan menghidupkan empati, mengingatkan bahwa di luar sana ada yang menahan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keadaan. Dari sana lahir rasa syukur dan dorongan untuk membantu.


6. Tak kalah penting adalah membangun kebiasaan menjaga kesehatan.

Memilih menu sahur yang bergizi, tidak berlebihan saat berbuka, cukup minum, dan tetap bergerak. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, juga bukan pembenaran untuk “balas dendam” makanan saat adzan Maghrib berkumandang. Justru di bulan ini kita belajar tentang kendali diri dan keseimbangan


7. Dan yang mungkin paling dalam adalah membangun kebiasaan berdialog dengan diri sendiri.

Mengevaluasi, memaafkan, memperbaiki niat. Ramadhan adalah ruang sunyi untuk menata ulang arah hidup. Di sela do’a-do’a panjang setelah sholat, ada percakapan yang jujur antara kita dan Tuhan, juga antara kita dan diri sendiri.


Pada akhirnya, kebiasaan baik yang dibangun saat Ramadhan bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih sadar. Sadar akan waktu yang terbatas, akan kesempatan yang tak selalu datang dua kali, dan akan hati yang perlu terus dirawat. Jika satu saja kebiasaan baik berhasil kita pertahankan setelah Ramadhan berlalu, mungkin di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya. Wallaahua’lambishowab.


Grobogan, 1 Maret 2026


“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day9


Jumat, 27 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan


 

Day 8 Amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan


Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.


Hai teman pembaca, kenalkan, namaku Jihan. Ini hari kedelapan ku mencoba konsisten menulis di blog. Bercerita mengenai amalan kecil yang biasa dilakukan saat Ramadhan, aku ingin mengaitkannya dengan antologi ke-17 ku yang bertema “kenangan bersama kakek dan nenek”. Aku sebenarnya tidak punya banyak hal yang harus dibagi. Karena keempat nya telah pergi menghadap Ilahi beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, ada beberapa kebiasaan baik yang beliau-beliau ajarkan kepada sepasang cintaku, yaitu bapak ibuku, dan itu diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai ilmu.



Bapak lahir dari keluarga dengan pondasi agama yang kuat. Kakek dari bapak adalah kyai masjid di kampung kami. Mbah kung adalah imam sekaligus guru mengaji bagi masyarakat sekitar. Sedangkan mbah yi adalah ibu rumah tangga yang sangat lembut tutur bahasanya. Tidak pernah kasar dalam menyikapi kelakuan “ajaib” putra putrinya. Ini adalah hal kecil yang masih belum bisa ku tiru hingga saat ini aku dewasa.


Semasa hidup, mbah kung selalu berpesan kepada kami, cucu dan cicitnya, untuk wajib berbakti kepada orang tua dan selalu mendoakannya meskipun masih ada di dunia. Ilmu sederhana yang Insyaa Allah akan jadi pahala yang tak akan putus untuk mbah kung, yaitu membaca Surah Al Fatihah sekali dan Surah Al Ikhlas tiga kali setiap ba’da sholat fardhu. Amalan ini yang juga ku ajarkan pada anak semata wayangku, Ghani, sejak kecil. Nyuwun pangestune mbah yut, mugi Ghani saged nglajengaken lampahipun simbah dados imam ten masjid, Aamiin.


Ibuku lahir dari mbah kung yang seorang pegawai pemerintahan dan mbah yi yang juga seorang ibu rumah tangga. Dari kakek nenek pihak ibu aku belajar bahwa harus jadi wanita yang kuat dan meskipun punya pasangan harus bisa mandiri secara finansial. Alhamdulillah aku dan dua saudaraku serta beberapa sepupu dari pihak keluarga besar ibu banyak yang menjadi pegawai pemerintahan seperti almarhum mbah kung dulu. 


Aku semakin tahu mengapa Allah menjadikan aku bagian kecil dari keluarga ini. Karena aku memang ditakdirkan untuk tidak bergantung pada laki-laki pengecut seperti mantan suamiku. Namun, banyak laki-laki yang akan membela saat ada yang menyakitiku. Sebagai informasi, keluarga ibu didominasi laki-laki. Ibu, satu-satunya putri dari mbah kung dan mbah yi. Sepupuku juga banyak cowoknya, bahkan sampai generasi keempat yaitu cicit juga kebanyakan laki-laki. 


Selain ilmu kehidupan bahwa hal-hal yang bisa menyelamatkan wanita adalah karir, finansial, dan pendidikan, ada beberapa kebiasaan baik yang kakek nenek pihak ibu ajarkan. Yaitu habit untuk membaca Al-Qur’an setelah Maghrib. Tidak boleh ada yang menyalakan TV antara waktu Maghrib dan Isya. Itu juga sudah terpatri di hati sampai aku setua ini. 


Selain itu, dari beliau berempat, ada amalan lain yang sampai detik ini aku lakukan, yaitu membaca Surah Al Waqiah dan berwudhu sebelum tidur. Konon salah satu fadhilah Surah Al Waqi’ah adalah mendatangkan rezeki dan dijauhkan dari kemiskinan. Alhamdulillah karena surah ini ku baca tiap hari aku jadi hafal setiap ayatnya. Biasanya aku membacanya setelah mengerjakan sholat Dhuha.


Aku jadi ingat ada sebuah hadits tentang amalan yang tidak terputus pahalanya meskipun sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim). InsyaaAllah kebiasaan-kebiasaan baik yang mbah kung dan mbah yi ajarkan kepada kami, para cucu dan cicit, menjadi pahala yang tak terputus bagi mbah. InsyaaAllah husnul khotimah. Aamiin.


Seperti yang aku bilang di awal, aku tidak punya banyak kenangan bersama kakek nenekku, selain banyak kebiasaan dan amalan baik yang beliau berempat ajarkan. Kebiasaan yang akan tetap ku lanjutkan dalam mendidik anak cucuku nanti. Yang aku tahu semua itu adalah wujud kasih sayang beliau-beliau kepada kami, para dzurriyyahnya. Wujud cinta para leluhur kami yang InsyaaAllah menunggu kami di Surga.


Jadi amalan kecil yang biasa ku lakukan saat Ramadhan ya tetap sama seperti hari-hari biasanya namun lebih intens frekuensinya. Yaitu membaca QS Al Waqi’ah setelah Sholat Dhuha, membaca QS Al Fatihah sekali dan QS Al Ikhlas 3x setiap sholat, dan melanjutkan rutinitas membaca Al Qur’an “one day one juz”. Kalau teman-teman bagaimana?


Grobogan, 28 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day8

Kamis, 26 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Menu berbuka terfavorit keluarga

 


Day 7 Menu berbuka terfavorit keluarga

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Ada satu momen yang selalu terasa sakral saat Ramadhan, beberapa menit menjelang adzan maghrib. Dapur yang sejak sore berdenyut pelan, aroma bawang putih yang ditumis, suara sendok beradu dengan panci, dan hati yang diam-diam sudah membayangkan suapan pertama. Bagiku, menu favorit berbuka bukanlah yang mewah atau rumit. Ia justru sederhana, hangat, dan lengkap, nasi putih mengepul, sayur berkuah yang menenangkan, lauk protein hewani dan nabati yang seimbang, sup buah yang segar, serta kolak ketela yang manisnya seperti pelukan.

Nasi selalu menjadi pusat meja makan. Butirannya yang putih dan hangat seperti memberi rasa “pulang” setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Sebagai penderita batu empedu, aku menggantinya dengan nasi merah yang sedikit “tawar” rasanya. Ada rasa syukur yang anehnya selalu muncul saat melihat uap tipis naik dari sepiring nasi. Seolah ia berkata, “Tenang, hari ini kamu sudah sampai.” Setelah seharian tubuh berpuasa, karbohidrat dari nasi membantu mengembalikan energi secara perlahan. Tidak berlebihan, tidak juga kurang. Cukup untuk membuat tubuh kembali kuat menjalani ibadah malam.

Di samping nasi, selalu ada sayur berkuah. Entah itu sayur bening bayam dengan jagung manis, atau sayur asem dengan kuah yang segar sedikit asam. Terkadang ibu juga memasak sop sayur atau tumisan namun tetap ada kuahnya. Kuah hangat yang menyentuh lidah setelah azan maghrib terdengar adalah sensasi yang sulit digantikan. Rasanya seperti menyiramkan ketenangan ke dalam tubuh. Sayur berkuah bukan sekadar pelengkap, ia adalah penyeimbang. Ada serat, vitamin, dan cairan yang membantu tubuh terhidrasi kembali setelah seharian berpuasa. Hangatnya kuah juga membuat perut yang kosong tidak “kaget” menerima makanan.

Lalu hadir protein hewani dan nabati sebagai pasangan yang saling melengkapi. Lauk sederhana seperti ayam bakar, ikan goreng, atau telur dadar selalu berhasil membangkitkan selera. Protein hewani membantu memperbaiki dan menjaga massa otot, apalagi setelah tubuh seharian beraktivitas. Namun di meja makan kami, protein nabati tak pernah absen. Tahu dan tempe, yang mungkin terlihat biasa, justru menjadi bintang dengan caranya sendiri. Tempe goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam, atau tahu yang dimasak dengan sedikit kecap dan bawang, menghadirkan rasa yang akrab. Ada keseimbangan di sana, antara hewani dan nabati, antara gurih dan sederhana.

Setelah makanan utama, semangkuk sup buah selalu menjadi penyegar. Potongan semangka, melon, pepaya, dan sedikit nata de coco berpadu dengan sirup dan air dingin serta susu. Warnanya cerah, rasanya ringan. Sup buah seperti jeda manis setelah makanan hangat. Ia membantu mengganti cairan tubuh dan memberikan tambahan vitamin dari buah-buahan segar. Ada sensasi bahagia yang sederhana saat sendok menyentuh potongan buah yang dingin di tenggorokan yang sejak subuh kering.

Dan tentu saja, kolak ketela. Hidangan klasik yang hampir selalu ada di bulan Ramadhan. Potongan ketela yang empuk, dimasak dalam kuah santan dan gula merah yang harum, menghadirkan rasa manis yang menenangkan. Manisnya bukan sekadar rasa di lidah, tetapi juga rasa di hati. Kolak ketela mengingatkanku pada masa kecil, pada momen berbuka bersama keluarga besar, pada tawa dan cerita yang bersahutan di meja makan. Ada nostalgia di setiap sendoknya.

Menu favorit berbuka ini bukan tentang kemewahan. Ia tentang keseimbangan dan kehangatan. Tentang tubuh yang kembali bertenaga, tentang hati yang merasa cukup, dan tentang kebersamaan yang mengisi ruang makan dengan doa-doa sederhana. Di antara nasi, sayur berkuah, lauk protein, sup buah, dan kolak ketela, terselip rasa syukur yang tak selalu terucap. Bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berpuasa, berbuka, dan merasakan nikmat yang mungkin sering kita anggap biasa.

Dan aku tahu, justru dalam kesederhanaan itulah letak keistimewaannya.

Gambar : menu makan sebelum Ramadhan, terlihat segar yaa….

Surakarta, 27 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day7

Rabu, 25 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan


Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut, ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan, tetap harus dikerjakan karena deadline tidak ikut berpuasa, tidak bisa menunggu nanti-nanti. Target tidak ikut melambat berhenti. Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur, dan dijalankan dengan niat yang suci. Meraih keridhoan Ilahi.

Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak dan isi otak yang dingin. Sejak sebelum Ramadhan aku belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin. Pikiran masih jernih, rumah masih hening, dan hati terasa lebih tenang bagaikan amfetamin. Di jam-jam itulah biasanya ide-ide lebih mudah mengalir bagai hembusan angin. Satu halaman mungkin terasa ringan, satu paragraf bisa selesai tanpa banyak distraksi yang memilin. Menulis di pagi hari memberi rasa lega sebelum hari benar-benar dimulai dengan bain.

Sebagai ibu, pagi juga berarti menyiapkan kebutuhan keluarga. Ada bekal sekolah, ada seragam yang perlu dirapikan, ada percakapan kecil yang tak boleh dilewatkan setiap hurufnya. Di sinilah manajemen waktu menjadi kunci nyata. Menulis tidak selalu harus dalam durasi panjang, kadang 20–30 menit fokus tanpa gangguan sudah cukup untuk membuat konsistensi terjaga. Yang penting bukan seberapa lama duduk di depan layar, tapi seberapa sungguh kita hadir dalam prosesnya.

Di tempat kerja, profesionalisme tetap nomor satu. Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan standar kualitas sesuatu. Justru bulan ini melatih disiplin dan integritas ku. Datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai tenggat, menjaga komunikasi yang baik dengan rekan kerja, semua itu adalah bentuk ibadahku. Ketika tubuh terasa lebih lelah karena berpuasa, aku belajar mengatur ritme itu. Menghindari pekerjaan berat di jam-jam menjelang siang jika memungkinkan, memanfaatkan waktu setelah istirahat untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi lebih ringan, dan mengambil jeda sejenak untuk mengatur napas tanpa ragu.

Sebagai ibu pekerja, rasa bersalah kadang datang diam-diam. Merasa kurang maksimal di rumah karena sibuk bekerja, atau merasa kurang fokus bekerja karena memikirkan rumah yang agak kelam tanpa temaram. Ramadhan justru mengajarkan keseimbangan, antara produktif bekerja saat siang, dan produktif menulis serta bercengkerama manis dengan keluarga saat malam. Menjadi profesional di kantor dan hadir sepenuh hati untuk keluarga bukan dua hal yang saling meniadakan, seperti sayur tanpa garam. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dijalani dengan niat yang lurus dan perencanaan yang matang dan tidak mengancam.

Menulis di bulan Ramadhan juga punya warna yang berbeda. Hati yang lebih peka membuat tulisan terasa lebih dalam bermakna. Refleksi tentang sabar, syukur, dan pengendalian diri sering muncul tanpa dipaksa. Aku sering menyelipkan catatan kecil tentang pengalaman berpuasa, tentang percakapan dengan anak, atau tentang pelajaran yang ku dapatkan dari ceramah singkat di masjid atau mushola. Semua itu menjadi bahan bakar kreativitasku setiap harinya. Ramadhan bukan penghalang produktivitas, justru sumber inspirasi yang tak pernah habis dan berharga.

Tentu ada hari-hari ketika tubuh terasa sangat lelah. Saat itu, penting untuk jujur pada diri sendiri, bahwa ya, aku memang sedang sangat-sangat lelah. Produktif bukan berarti memaksakan diri hingga tumbang dan rebah. Tidur cukup, sahur dengan asupan yang seimbang, minum air yang cukup saat berbuka hingga sahur, semua itu adalah investasi agar tetap bisa menjalankan peran dengan optimal tanpa rasa begah. Menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab dan amanah.

Pada akhirnya, tetap produktif menulis di bulan Ramadhan sebagai ibu pekerja adalah tentang menyelaraskan niat, energi, dan prioritas. Tentang memahami bahwa setiap peran yang kita jalani, sebagai penulis, karyawan, dan ibu adalah ladang amal jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Kita mungkin tidak selalu sempurna, kita sangat terbatas. Ada hari ketika tulisan terasa buntu, ada hari ketika pekerjaan terasa menumpuk dan melewati batas. Namun selama kita terus berusaha menjaga kualitas dan keikhlasan, Ramadhan justru akan menjadi bulan yang menguatkan, bukan melemahkan, dan itu membentuk kita menjadi pribadi yang sangat bertintegritas.

Karena produktivitas sejati bukan hanya tentang banyaknya karya atau selesainya tugas, tetapi tentang bagaimana kita tetap bertumbuh sebagai penulis yang mencoba profesional, sebagai ibu yang bahagia, dan sebagai pribadi di tengah keterbatasan yang sedang kita latih bersama dengan jujur, semangat, dan ikhlas.

Surakarta, 26 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day6

 

Antologi kedelapan belas -- Diary Seorang ISFP










Dear diary,

Hari ini aku memulai halaman baru dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pintu masuk ke diriku, apa MBTI-mu? Mungkin aku hanya ingin tahu apakah ada yang memandang dunia dari balik kabut yang sama.

Kau tahu, diary?

MBTI bagiku bukan sekadar tes kepribadian. Ia seperti cermin yang menjelaskan hal-hal yang tak pernah bisa kuucapkan. Mengapa aku cepat lelah ketika harus memperlihatkan senyuman? Mengapa suara orang lain kadang terdengar seperti gema yang terlalu keras dan memekakkan? Dan mengapa dunia terasa lebih aman ketika aku diam?

Aku seorang ISFP, entah kenapa, empat huruf itu selalu terasa seperti empat dinding kecil yang menyelimutiku. Tempat aku bersembunyi dari suara-suara yang tidak bisa kuhentikan dan terus menderu. Yes, introvert, kata yang sering orang anggap ringan, romantic, bahkan mungkin lucu.

 Padahal di baliknya ada ruang sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah duduk terlalu lama dalam sendu. Sejak kecil, aku belajar bahwa diam adalah rumah nyaman untuk hatiku. Bukan karena tak punya suara, tapi karena suaraku sering pulang lebih lambat dari pikiranku.

Dulu aku menuliskannya di catatan harian, yang mungkin sekarang dibuang, dilupakan, atau dibaca diam-diam oleh seseorang. Namun isinya masih tertinggal dan semua masih bisa dikenang. Tulisan tentang kecanggungan dan perasaan ingin dipahami yang bahkan saat itu aku pun tak tahu bagaimana harus menjelaskan.

Menulis selalu menjadi satu-satunya cara untuk merapikan kekacauan yang tak pernah selesai dalam kepala. Kadang aku menulis sambil menangis, kadang sambil berpura-pura tertawa. Kadang sambil menahan napas dan sesak di dada. Takut kalau-kalau kejujuran di halaman itu terlalu menyala dan membakar keberanianku yang rapuh kemudian hatiku tak lagi bahagia.

Aku tumbuh dewasa dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Tapi dada sering penuh dengan gemuruh yang tak terlihat oleh mata. Dalam berteman, aku jadi bayangan, ada, tapi tak pernah benar-benar hadir sosoknya. Suara orang lain terasa bising, sementara suara ku sendiri ingin bersembunyi di balik meja kerja.

 Public speaking? arrrgh, hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku gemetar sebelum berbicara. Malam sebelum presentasi rasanya seperti jurang tak berujung, yaa, aku insomnia. Pikiranku berjalan terlalu jauh, menarikku ke arah ketakutan yang bahkan tidak punya nama.

 Aku merasa kecil, sendirian, dan sesekali, aku merasa rusak. Tahun lalu aku bertemu dengan seseorang, aku memberanikan diri membuka sebagian luka yang selama ini kusimpan rapat di tempat tergelap, tentang kecemasan yang membuatku sesak. Tentang malam-malam tanpa tidur nyenyak. Juga tentang perasaan tidak cukup yang menempel di kulitku seperti bayangan yang enggan beranjak pergi memberi jarak.

Ia bilang aku pekerja keras. Bahkan terlalu keras. Aku punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain yaitu motivasi tak terbatas. Aku juga punya kesabaran yang luas. Aneh, kan? kalimat itu membuatku ingin menangis dan berteriak sangat-sangat keras. Bukan karena terharu, tapi karena selama ini aku merasa justru tidak punya apa-apa selain rasa takut yang membuat semua anggota tubuhku terasa kebas. Tak bisa bebas.

Diary..

2025 datang seperti angin yang sedikit lebih hangat. Untuk pertama kalinya, aku berani maju ke panggung, walau langkahku masih gemetar hebat. Aku dipaksa berbicara, dipaksa tumbuh, dipaksa menghadapi diriku yang selama ini hanya berani menulis dalam bait-bait perasaan yang melambat.

Dan perlahan, aku menang. Tidak hebat, tidak gemilang. Tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa aku tidak seburuk yang pikiranku katakan setiap malam menjelang.

Tapi diary, kau pasti tahu bahkan mengerti..

Gelap tidak hilang hanya karena ada sedikit cahaya. Ia tetap tinggal di sudut-sudut yang jauh, mengintip dari balik keheningan rasa. Aku ingin jujur di sini, seperti dulu dan selalu, menjadi introvert tidak sesederhana rangkaian kata. “Butuh waktu sendiri”, bukan itu saja.

 Ada kesepian yang tak bisa dijelaskan. Ada rasa tidak dihargai karena suaramu pelan. Ada kecanggungan yang membuatmu ingin lenyap sekejap dalam pertemanan. Ada energi yang habis hanya karena lima menit obrolan. Ada perfeksionisme yang menekan dan kadang menyesakkan. Ada rasa terasing bahkan saat duduk bersama orang yang menyenangkan. Dan itu melelahkan.

Sangat.

Teramat sangat.

Tapi malam ini, seperti sebelumnya, aku memilih menulis lagi. Karena hanya di sini aku bisa menjadi manusia seutuhnya, yang rapuh, yang gelap, namun jujur pada diri sendiri. Menulis adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak merasa harus secepat mungkin menyembuhkan diri.

Diary,

Malam ini aku kembali merilis perasaan. Mencoba menenangkan hati yang terasa berat tanpa alasan. Ada sepi yang menempel di badan. Ada hening yang menggantung di dada, semakin menyesakkan. Membuat berantakan. Pikiran. Perasaan. Aku ingin bicara, tapi kata-kata itu selalu tersangkut di tenggorokan. Jadi aku diam, dan membiarkan pena yang berbicara dan menceritakan.

Aku selalu merasa ada ruang kosong di dalam diriku, ruang yang tidak bisa ku isi dengan apa pun tahapan kehidupan. Bukan oleh teman, bukan oleh keluarga, bukan oleh pencapaian. Bahkan bukan oleh keberhasilan yang katanya membanggakan. Ruang itu bak kamar gelap yang pintu dan jendelanya tak pernah tertutup, membiarkan angin dingin keluar masuk membuat semua semakin berantakan.

Diary,

Terima kasih telah menjadi rumah untukku mencurahkan isi hati. Terima kasih telah mengerti. Bahwa aku cukup menjadi aku sendiri. Meski itu berarti menjadi seseorang yang patah, rapuh, dan berusaha bertahan satu hari lagi. Malam ini kututup dengan nyanyian sunyi. Namun aku berjanji. Esok pagi, kan ku sapa mentari dengan suasana hati yang tak sama lagi. Menjadi sosok yang lebih kuat dan semangat mewujudkan mimpi.

Surakarta, awal Desember 2025



Selasa, 24 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Cerita Ramadhan semasa kecil


Day 5 Cerita Ramadhan semasa kecil

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Ramadhan semasa kecilku selalu datang dengan cara yang sama: membangunkan kenangan, bahkan sebelum ibu membangunkanku untuk sahur, sarapan yang kepagian di Bulan Ramadhan. Aku masih ingat betul suara sendok beradu dengan piring di dapur, samar-samar bercampur lantunan ayat suci dari toa masjid di depan rumah yang diikuti oleh suara tarhiman. Udara dini hari terasa lebih dingin dari biasanya, membuatkan sedikit enggan. Dengan mata setengah terpejam dan langkah yang masih gontai, aku duduk di meja makan, mencoba menelan nasi hangat dengan kantuk yang tertahan. Bapak selalu berkata, “Sahur itu bukan soal kenyang, tapi soal niat yang tidak perlu diucapkan” Waktu itu aku belum benar-benar paham, tapi aku mengangguk saja, merasa sudah cukup dewasa karena ikut berpuasa seharian.

Setelah sahur, kami bersiap ke masjid untuk sholat Subuh berjama’ah, langit masih gelap kebiruan. Aku berjalan di samping ibu, menggenggam ujung mukenanya, takut ditinggalkan. Masjid kecil di depan rumah tampak hangat oleh cahaya lampu kuningnya, menenangkan. Anak-anak seusia denganku berbaris di saf belakang, kadang masih menguap, kadang saling berbisik pelan. Seusai sholat, biasanya ada kultum singkat yang disampaikan oleh ustadz kampung secara bergiliran. Aku duduk bersila, mencoba mendengarkan dengan serius, meski kadang pikiranku melayang pada rencana bermain setelah matahari terbit, namun semua harus ku rangkum menjadi ringkasan di buku kegiatan Bulan Ramadhan. Setelah itu kami berebut meminta tanda tangan dari imam dan ustadz yang saat itu memberikan tausiyahnya kepada para jama’ah yang masih bertahan.

Pulang dari masjid, kantuk seperti datang menyerbu. Tapi semangat masa kecil selalu lebih kuat dari rasa kantuk itu. Aku segera mengganti pakaian dan mengeluarkan sepeda kesayanganku. Bersama teman-teman, kami berkeliling kampung yang masih lengang dan sendu. Angin pagi menyentuh wajah, membawa aroma tanah dan dedaunan basah dari embun yang beradu. Kami tertawa tanpa alasan yang jelas, berlomba siapa yang paling cepat, atau sekadar berhenti di pinggir sawah untuk mengobrol tentang apapun itu. Puasa terasa ringan di pagi hari, seolah-olah lapar dan haus belum mengenal kami dalam sebuah pusaran waktu.

Menjelang jam sekolah, aku pulang dengan napas sedikit terengah. Ibu sudah menyiapkan seragam dan merapikan perlengkapan sekolah. Di sekolah, suasana Ramadhan terasa berbeda, sedikit jengah. Jam pelajaran dipersingkat, guru-guru lebih lembut, dan teman-teman saling mengingatkan untuk tidak usil berlebihan agar tidak membatalkan puasa, terutama mengingatkan tentang bahaya ghibah. Kadang ada pesantren kilat atau ceramah singkat di aula sekolah. Kami duduk berjejer di lantai, mendengarkan kisah para nabi dan keutamaan bersedekah. Di sela-sela itu, perut mulai berbunyi pelan, seperti menguji kesabaran, badan mulai terasa lelah.

Sepulang sekolah, aku biasanya tidur siang secukupnya. Tidak terlalu lama, karena ibu selalu mengingatkan agar tidak melewatkan waktu Ashar, saat tiba waktunya. Tidur siang di bulan Ramadhan terasa berbeda, lebih tenang, lebih dalam rasanya. Seolah tubuh dan jiwa sama-sama sedang belajar menahan diri dari apapun bentuk godaannya.

Sore hari adalah waktu yang paling kutunggu: ngabuburit. Bersama teman-teman, aku pergi ke lapangan atau ke tepi jalan utama, melihat orang-orang mulai berburu takjil, ingin menembus antrean namun sulit. Ada yang menjual es buah, kolak, gorengan, dan aneka kue warna-warni, seperti lapis legit. Kami hanya melihat-lihat, kadang membantu ibu membeli beberapa untuk berbuka, meski sedikit. Bau harum makanan yang baru digoreng menguji iman kecil kami, tapi di situlah letak serunya, menelan air liur yang tiba-tiba terasa pahit. Kami saling menyemangati, “Sedikit lagi! Sebentar lagi maghrib! bertahanlah, tinggal sedikit”

Saat adzan Maghrib berkumandang, rasanya seperti hadiah besar setelah perjuangan seharian. Di rumah, kami berbuka bersama keluarga, berkumpul di meja makan. Bapak memimpin doa, ibu tersenyum sambil membagikan kurma dan segelas teh manis yang menghangatkan. Suasana meja makan terasa semakin hangat, penuh cerita tentang kegiatan hari itu yang menyenangkan. Kadang-kadang, ada hari istimewa ketika aku berbuka bersama teman-teman. Kami membawa makanan dari rumah masing-masing, lalu duduk melingkar, tertawa dan saling berbagi cemilan. Makanannya sederhana, tapi kebersamaannya terasa mewah dan mengharukan.

Malam hari, setelah sholat Tarawih, aku kembali mengisi buku kegiatan Ramadhan yang dibagikan sekolah. Di dalamnya ada kolom untuk mencatat sholat lima waktu, Tarawih, tadarus, dan ceramah. Aku menuliskannya dengan huruf paling rapi yang bisa kubuat, agar terlihat indah. Kadang aku juga mencoba menuliskan ringkasan ceramah ustadz, tentang pentingnya jujur, tentang sabar, tentang berbagi pada yang membutuhkan, tentang sedekah. Meski sederhana, buku itu membuatku merasa bertanggung jawab atas pentingnya ibadah.

Kini, ketika Ramadhan datang lagi, aku sering merindukan masa kecil itu. Rasa lelahnya berbeda, rasa laparnya terasa lebih ringan, dan kebahagiaannya begitu murni, semua menjadi sebuah rasa haru yang semakin membiru. Ramadhan semasa kecil bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi tentang belajar bersama, belajar sabar, belajar berbagi, belajar memahami arti kebersamaan, dan semua kenangan yang ceria dan seru. Semua semenyenangkan itu.

Di antara dinginnya Subuh, riuhnya sepeda pagi, kantuk siang, hingga hangatnya berbuka bersama keluarga, ada potongan-potongan kenangan yang hari ini membentukku. Dan setiap kali adzan Maghrib terdengar, ada bagian kecil dalam diriku yang kembali menjadi anak kecil itu. Yang percaya bahwa Ramadhan selalu membawa cahaya, bahkan setelah hari-hari berlalu.

Surakarta, 25 Februari 2026

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day5

Senin, 23 Februari 2026

My Ramadhan Story -- Tantangan terberat saat puasa

 


Day 4 Tantangan terberat saat puasa

Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T.

Tantangan terberat saat puasa, ternyata bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, juga nafsu dunia yang lainnya. Setiap tahun, ketika Ramadhan datang, orang-orang sibuk membicarakan menu sahur, resep takjil, atau jadwal tarawih, bahkan rencana buka bersama yang kadang berakhir hanya sebagai wacana :D. Seolah-olah tantangan terbesar hanyalah perut kosong dan tenggorokan kering, padahal, yang lebih sulit sering kali justru tak terlihat oleh mata.

Bagiku, tantangan terberat saat puasa adalah menghadapi diri sendiri. Di siang hari yang panjang, ketika energi menurun dan ritme kerja tetap menuntut untuk stabil, jujur yang paling berat adalah menahan emosi. Kita jadi lebih mudah lelah, lebih mudah tersinggung, lebih mudah ingin menyerah, dan bisa jadi mudah terprovokasi. Puasa seperti membuka lapisan-lapisan tipis yang biasanya kita tutupi dengan kesibukan dan distraksi.

Saat lapar, kesabaran diuji. Saat haus, fokus diuji. Saat lelah, niat diuji. Dan di situlah pergulatannya, menghadapi diri sendiri.

Ada momen ketika jam dinding terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Waktu dzuhur seperti berhenti, dan asar terasa jauh sekali dari maghrib, rasanya sangat-sangat lama. Di sela-sela itu, muncul bisikan kecil: “Untuk apa sih seberat ini?” Bukan karena tidak ingin taat, tapi karena tubuh dan pikiran sama-sama sedang bernegosiasi, ditambah dengan rilis emosi yang tak kunjung reda, yang berakhir sesak di dada.

Tantangan berikutnya adalah konsistensi.

Hari pertama puasa biasanya penuh semangat. Hari kedua masih hangat. Tapi memasuki pekan kedua dan ketiga, rutinitas mulai terasa repetitif, monoton, membosankan dan malas mulai memikat. Bangun dini hari, bekerja dalam kondisi energi terbatas, lalu beribadah di malam hari mulai kehilangan minat. Di titik inilah komitmen diuji lebih keras daripada antusiasme awal, dan ritme juga mulai melambat.

Puasa mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang momen emosional yang tinggi, tetapi tentang keberlanjutan. Tentang tetap berdiri meski rasa ingin rebah jauh lebih menggoda dan menyenangkan.

Lalu ada tantangan sosial.

Tidak semua lingkungan mendukung ritme puasa kita, deadline pekerjaan tidak berkurang. Tanggung jawab rumah tangga tetap menunggu, dan semua menjadi chaos saat kita pulang. Anak-anak tetap perlu diperhatikan, dunia tidak melambat hanya karena kita sedang menahan diri, dan rasanya semua tidak menjadi lebih tenang.

Aaargh…..

Di sinilah manajemen energi menjadi seni. Kita belajar memilih perdebatan mana yang bisa dilepaskan dan mana yang perlu diladeni. Kita belajar mengatakan “tidak” pada hal-hal yang menguras tenaga batin, yang bersumber pada hati. Puasa secara perlahan membentuk batas yang lebih sehat untuk semua yang ada dalam diri.

Namun, tantangan yang paling sunyi adalah menjaga hati. Menahan lapar itu jelas. Menahan haus itu terasa. Tetapi menahan amarah, menahan prasangka, menahan keinginan untuk membalas kata-kata tajam, itu jauh lebih sulit rasanya. Sering kali, kita berhasil melewati satu hari tanpa makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan. Kita bisa disiplin soal jadwal sahur dan berbuka, namun lalai dalam menjaga pikiran. Padahal inti puasa bukan hanya fisik, melainkan jiwa yang sedang ditempa sebuah “peperangan”. Apakah bisa menahan atau berhenti dan terkalahkan.

Puasa seperti cermin besar yang memantulkan siapa diri kita sebenarnya saat kenyamanan sementara diambil. Ada hari-hari ketika kita merasa kuat, ringan dan kecil. Ada pula hari-hari ketika tubuh terasa berat dan hati terasa sensitif, nyali menjadi lebih mungil. Di antara dua kondisi itu, kita belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti tidak selalu stabil.

Dan mungkin, di situlah makna terdalamnya.

Puasa bukan tentang menjadi sempurna selama tiga puluh hari. Ia tentang kesediaan untuk terus memperbaiki diri, meski tergelincir berkali-kali. Tentang kembali pada niat, lagi dan lagi. Meski sempat goyah dan tak lagi bisa berdiri.

Tantangan terberat saat puasa bukanlah lapar yang menggerogoti atau haus yang mengeringkan tenggorokan. Tantangan terberat adalah tetap menjaga kualitas diri ketika kondisi tidak ideal dan menyenangkan. Tetap lembut ketika lelah, tetap jujur ketika tergoda, tetap sabar ketika menghadapi ujian. Dan setiap kali adzan maghrib berkumandang, bukan hanya rasa syukur karena boleh berbuka yang muncul, ada juga sebuah rasa yang melegakan. Karena hari itu berhasil dilewati, dengan segala naik turunnya keadaan.

Puasa mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam bentuk fisik menenangkan. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil sepanjang hari: untuk menahan, untuk memaafkan, untuk bertahan. Mungkin itulah tantangan terberat sekaligus hadiah terindah dari puasa, yaitu kesempatan untuk mengenal diri lebih dalam, lalu pulang dengan versi yang sedikit lebih baik dari sebelumnya dalam meraih kemenangan.

Selamat berpuasa hari ke enam teman-teman,, semoga full dan bertahan melawan “setan” bernama tantangan.

Surakarta, 24 Februari 2026

 

“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadhanChallenge #Day4