M : Mengungkapkan rasa sakit tanpa berisik
Tidak semua rasa sakit perlu suara, sebagian hanya memilih tinggal, diam, dan tetap hidup di dalam kata-kata. Ada juga luka yang tidak pernah benar-benar diceritakan, hanya dituliskan pelan-pelan, agar tidak terdengar seperti tangisan. Lalu bagaimana caramu mengungkapkan rasa sakit tanpa berisik?
Ada seorang perempuan introvert yang berteman dekat dengan diary. Buku bersampul biru muda itu menjadi saksi, bagaimana malam-malam nya diisi dengan curahan isi hati. Semua dilakukannya agar dia tidak merasa sendiri.
She as a woman who keeps showing up.
Meski lelah. Meski ragu dan tak mudah. Meski hidup tak selalu ramah.
Ada hari-hari ketika ia tersenyum seperti biasa, menjawab sapaan, menyelesaikan tugas, seolah hidupnya baik-baik saja. Padahal di dalamnya, ada sesuatu yang terus ia rapikan bukan karena sudah selesai, tapi karena tak ingin terlihat berantakan.
Ia belajar bahwa menjadi kuat tidak selalu tentang bertahan dengan gagah, melainkan tentang tetap berjalan meski langkahnya pelan dan nyaris goyah.
Ada hal-hal yang tetap tinggal, bukan untuk menyakitinya, tapi untuk mengingatkan bahwa ia pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, dan pernah bertahan jauh. Kini ia tidak lagi terburu-buru untuk sembuh.
Ia memilih berdamai dengan prosesnya sendiri kemudian mulai merapikan. Karena ia tahu, luka yang dipahami perlahan akan berubah menjadi kekuatan yang menenangkan.
Di setiap kata yang ia tulis, ia sedang membangun rumah kecil untuk dirinya sendiri, rumah yang tenang dan lapang. Tempat di mana ia boleh rapuh tanpa dihakimi, tempat di mana ia bisa pulang. Meski dunia di luar sana tak selalu memberi ruang.
Ia percaya, memberi waktu, perhatian, dan sebuah tulisan adalah bentuk paling sunyi dari cinta. Dan kalau kalian melihatnya menunduk serius di meja kerjanya, jangan kira ia hanya sedang bekerja. Bisa jadi ia sedang menyelamatkan satu cerita. Atau mungkin, sedang menyelamatkan dirinya yang sudah banyak terluka.
#Gerimis_Jun26_18 #Gerimis30hari @gerimis30hari

Komentar