Langsung ke konten utama

Gerimis 30 Hari_Juni 2026


 M : Mengungkapkan rasa sakit tanpa berisik


Tidak semua rasa sakit perlu suara, sebagian hanya memilih tinggal, diam, dan tetap hidup di dalam kata-kata. Ada juga luka yang tidak pernah benar-benar diceritakan, hanya dituliskan pelan-pelan, agar tidak terdengar seperti tangisan. Lalu bagaimana caramu mengungkapkan rasa sakit tanpa berisik?


Ada seorang perempuan introvert yang berteman dekat dengan diary. Buku bersampul biru muda itu menjadi saksi, bagaimana malam-malam nya diisi dengan curahan isi hati. Semua dilakukannya agar dia tidak merasa sendiri.


She as a woman who keeps showing up.


Meski lelah. Meski ragu dan tak mudah. Meski hidup tak selalu ramah.


Ada hari-hari ketika ia tersenyum seperti biasa, menjawab sapaan, menyelesaikan tugas, seolah hidupnya baik-baik saja. Padahal di dalamnya, ada sesuatu yang terus ia rapikan bukan karena sudah selesai, tapi karena tak ingin terlihat berantakan.


Ia belajar bahwa menjadi kuat tidak selalu tentang bertahan dengan gagah, melainkan tentang tetap berjalan meski langkahnya pelan dan nyaris goyah.


Ada hal-hal yang tetap tinggal, bukan untuk menyakitinya, tapi untuk mengingatkan bahwa ia pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, dan pernah bertahan jauh. Kini ia tidak lagi terburu-buru untuk sembuh.


Ia memilih berdamai dengan prosesnya sendiri kemudian mulai merapikan. Karena ia tahu, luka yang dipahami perlahan akan berubah menjadi kekuatan yang menenangkan.


Di setiap kata yang ia tulis, ia sedang membangun rumah kecil untuk dirinya sendiri, rumah yang tenang dan lapang. Tempat di mana ia boleh rapuh tanpa dihakimi, tempat di mana ia bisa pulang. Meski dunia di luar sana tak selalu memberi ruang.


Ia percaya, memberi waktu, perhatian, dan sebuah tulisan adalah bentuk paling sunyi dari cinta. Dan kalau kalian melihatnya menunduk serius di meja kerjanya, jangan kira ia hanya sedang bekerja. Bisa jadi ia sedang menyelamatkan satu cerita. Atau mungkin, sedang menyelamatkan dirinya yang sudah banyak terluka.


#Gerimis_Jun26_18 #Gerimis30hari @gerimis30hari


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...