Z : Zona
Tak mudah bagi seorang introvert sepertiku mengungkapkan apa yang dirasa pada semua orang. Hanya beberapa sahabat yang tahu secara detail siapa sebenarnya manusia ini dan bagaimana aku memberi ruang untukku sendiri agar tetap tenang. Selebihnya, aku memilih diam. Bukan karena tak punya cerita, tapi karena tak semua cerita ingin keluar sebagai suara. Ada yang lebih nyaman tinggal sebagai kata. Karena itulah aku lebih suka menyampaikan perasaanku di diary yang sudah menumpuk dan menuliskannya berulang. Ya, menulis menjadi zona nyamanku di antara merapikan dokumen pekerjaan di gudang.
Aku lebih suka menulis di diary dan mengolah kata menyesuaikan isi hati. Selain aku juga lebih suka mengekspresikan perasaan lewat tulisan daripada lisan. Menulis bagiku sampai saat ini adalah self healing paling ampuh. Aku bisa marah, berteriak, tertawa, malu-malu, bahkan menangis, dan mengungkapkan semuanya melalui kata. Ada bagian dari diriku yang bahkan aku sendiri butuh waktu lama untuk memahaminya.
Ada yang pernah bilang padaku, seseorang dengan kepribadian ISFP adalah seorang yang kalem, artsy, dan super peka. Nggak banyak omong tapi ekspresinya sering muncul lewat gaya atau karya. Dan bagiku, manusia ISFP ini, menulis selalu menjadi satu-satunya cara untuk merapikan kekacauan yang tak pernah selesai dalam kepala. Seperti yang kubilang tadi, kadang aku menulis sambil menangis, kadang sambil berpura-pura tertawa. Kadang sambil menahan napas dan sesak di dada. Takut kalau-kalau kejujuran di halaman itu terlalu menyala dan membakar keberanianku yang rapuh kemudian hatiku tak lagi bahagia. Aku tumbuh dewasa dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Tapi dada sering penuh dengan gemuruh yang tak terlihat oleh mata. Dalam berteman, aku jadi bayangan, ada, tapi tak pernah benar-benar hadir sosoknya. Suara orang lain terasa bising, sementara suara ku sendiri ingin bersembunyi di balik meja kerja.
Manusia ISFP ini terlalu banyak rahasia rupanya.

Komentar