Langsung ke konten utama

Gerimis 30 Hari_Juni 2026


 AC : Aku dan Cerita


Melanjutkan cerita sebelumnya, aku introvert, tapi aku bukan tipe pendiam, aku cerewet dan banyak bicara. Apalagi jika bertemu dengan seseorang yang punya kepribadian serupa. Setelah antologi tentang diary depresi terbit, aku mengikuti event lainnya, yang kali ini bertema senja. Saat ini buku antologi tentang senja berjudul “Kota Merah Jingga”, karyaku sedang dalam proses versi cetaknya.


Dan ini ceritaku tentang senja.


Senja, menjadi bahasa yang ku pelajari tanpa guru. Ia tak memberikan definisi hanya menggambarkan contoh kecil yang berulang di pikiranku. Bayang pepohonan memanjang, suara burung yang menawar waktu, dan langkah yang melambat di hatimu. Di sela jeda, kenangan menemukan rumah sementara yang berakhir sendu.


Aku duduk bersama sisa cahaya yang enggan sepenuhnya padam. Waktu melambat, seolah memberi kesempatan pada pikiranku untuk berdamai dengan hal yang tak bisa membuatku diam. Ada nama yang tak lagi ku tulis dengan batang kalam, ada peristiwa yang tak lagi kurekam. Semuanya hadir samar, tidak untuk menyakiti, hanya mengingatkan bahwa aku pernah hidup sepenuh itu dalam sebuah azam. Seperti senja yang tak memaksa langit menahannya lebih lama, aku belajar menerima bahwa beberapa hal memang diciptakan untuk singgah, bukan menetap semakin dalam.


Di batas antara terang yang pergi dan gelap yang datang, aku menemukan diriku sendiri. Tak ada keharusan untuk segera melangkah  kembali. Aku memberi ruang bagi rindu tanpa harus memiliki. Sebab di saat seperti itu, aku paham, kehilangan bukan selalu tentang kekosongan, kadang ia hanya perubahan jarak dengan makna yang perlahan tumbuh, tanpa suara, tanpa tuntutan, menunggu esok untuk dimengerti.


Esok, ketika matahari kembali berlatih terbit, aku akan menyimpan senja. Warnanya, rasanya, kenangan, dan semuanya. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai penanda, bahwa aku pernah berdiri di batas, menatap masa lalu tanpa tenggelam, menyapa masa depan tanpa tergesa. Kenangan akan terus ada, berubah rupa, namun senja mengajarkanku satu hal, bahwa hidup tak harus terang untuk berarti ada. Kadang, cukup berwarna sesaat, lalu pergi dengan anggun dan bersahaja.


#Gerimis_Jun26_02 #Gerimis30hari @gerimis30hari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...