AC : Aku dan Cerita
Melanjutkan cerita sebelumnya, aku introvert, tapi aku bukan tipe pendiam, aku cerewet dan banyak bicara. Apalagi jika bertemu dengan seseorang yang punya kepribadian serupa. Setelah antologi tentang diary depresi terbit, aku mengikuti event lainnya, yang kali ini bertema senja. Saat ini buku antologi tentang senja berjudul “Kota Merah Jingga”, karyaku sedang dalam proses versi cetaknya.
Dan ini ceritaku tentang senja.
Senja, menjadi bahasa yang ku pelajari tanpa guru. Ia tak memberikan definisi hanya menggambarkan contoh kecil yang berulang di pikiranku. Bayang pepohonan memanjang, suara burung yang menawar waktu, dan langkah yang melambat di hatimu. Di sela jeda, kenangan menemukan rumah sementara yang berakhir sendu.
Aku duduk bersama sisa cahaya yang enggan sepenuhnya padam. Waktu melambat, seolah memberi kesempatan pada pikiranku untuk berdamai dengan hal yang tak bisa membuatku diam. Ada nama yang tak lagi ku tulis dengan batang kalam, ada peristiwa yang tak lagi kurekam. Semuanya hadir samar, tidak untuk menyakiti, hanya mengingatkan bahwa aku pernah hidup sepenuh itu dalam sebuah azam. Seperti senja yang tak memaksa langit menahannya lebih lama, aku belajar menerima bahwa beberapa hal memang diciptakan untuk singgah, bukan menetap semakin dalam.
Di batas antara terang yang pergi dan gelap yang datang, aku menemukan diriku sendiri. Tak ada keharusan untuk segera melangkah kembali. Aku memberi ruang bagi rindu tanpa harus memiliki. Sebab di saat seperti itu, aku paham, kehilangan bukan selalu tentang kekosongan, kadang ia hanya perubahan jarak dengan makna yang perlahan tumbuh, tanpa suara, tanpa tuntutan, menunggu esok untuk dimengerti.
Esok, ketika matahari kembali berlatih terbit, aku akan menyimpan senja. Warnanya, rasanya, kenangan, dan semuanya. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai penanda, bahwa aku pernah berdiri di batas, menatap masa lalu tanpa tenggelam, menyapa masa depan tanpa tergesa. Kenangan akan terus ada, berubah rupa, namun senja mengajarkanku satu hal, bahwa hidup tak harus terang untuk berarti ada. Kadang, cukup berwarna sesaat, lalu pergi dengan anggun dan bersahaja.

Komentar