Langsung ke konten utama

Gerimis 30 Hari_Juni 2026

 


AD : Aku dan Diary


Aku biasa menulis diary sejak masih duduk di bangku sekolah dasar di kota kelahiran. Semua yang terjadi di hari itu kutulis dengan bahasa sederhana ala anak usia belasan. Semakin menginjak dewasa tentu isi diaryku menjadi lebih berwarna. Bercerita mengenai takdir cinta saat bertemu dengannya. Hingga akhirnya menikah yang sayangnya tidak begitu bahagia. Semua kuceritakan di diary yang kebanyakan berwarna biru muda. Entah apa korelasinya, yang jelas aku suka warna biru dengan segala grade nya.


Tahun lalu aku ikut event menulis dengan tema diary depresi. Alhamdulillah, tulisanku lolos seleksi yang kemudian terangkum dalam sebuah buku antologi. Di situ aku mengaitkan MBTI dengan caraku menghadapi tekanan mental yang hampir membuatku meninggalkan dunia ini. Aku akan coba menuliskannya kembali.


Dear diary, hari ini ku mulai halaman baru dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pintu masuk ke diriku, apa MBTI-mu? Aku hanya ingin tahu apakah ada yang memandang dunia dari balik kabut yang sama 


Aku seorang ISFP, entah kenapa, empat huruf itu selalu terasa seperti empat dinding kecil yang menyelimutiku. Tempat aku bersembunyi dari suara-suara yang tidak bisa kuhentikan dan terus menderu. Introvert, kata yang sering orang anggap ringan, romantic, bahkan mungkin lucu.


Di balik empat huruf yang membentuk nama kepribadian itu, aku menemukan sunyi dan keberanian yang tumbuh perlahan bersama kedewasaanku. Melalui halaman-halaman diary juga, kurawat cemas yang menua, membisikkan rahasia, dan belajar mencintai diri yang rapuh dan pura-pura bahagia. Ini adalah kisahku, kisah tentang seorang introvert yang mencoba berdamai dengan gelap, merapikan hati dengan tinta. Dan menemukan cahaya dalam keheningan yang paling pribadi, tersembunyi dalam sosok yang penuh luka dan air mata.


#Gerimis_Jun26_01 #Gerimis30hari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...