AD : Aku dan Diary
Aku biasa menulis diary sejak masih duduk di bangku sekolah dasar di kota kelahiran. Semua yang terjadi di hari itu kutulis dengan bahasa sederhana ala anak usia belasan. Semakin menginjak dewasa tentu isi diaryku menjadi lebih berwarna. Bercerita mengenai takdir cinta saat bertemu dengannya. Hingga akhirnya menikah yang sayangnya tidak begitu bahagia. Semua kuceritakan di diary yang kebanyakan berwarna biru muda. Entah apa korelasinya, yang jelas aku suka warna biru dengan segala grade nya.
Tahun lalu aku ikut event menulis dengan tema diary depresi. Alhamdulillah, tulisanku lolos seleksi yang kemudian terangkum dalam sebuah buku antologi. Di situ aku mengaitkan MBTI dengan caraku menghadapi tekanan mental yang hampir membuatku meninggalkan dunia ini. Aku akan coba menuliskannya kembali.
Dear diary, hari ini ku mulai halaman baru dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pintu masuk ke diriku, apa MBTI-mu? Aku hanya ingin tahu apakah ada yang memandang dunia dari balik kabut yang sama
Aku seorang ISFP, entah kenapa, empat huruf itu selalu terasa seperti empat dinding kecil yang menyelimutiku. Tempat aku bersembunyi dari suara-suara yang tidak bisa kuhentikan dan terus menderu. Introvert, kata yang sering orang anggap ringan, romantic, bahkan mungkin lucu.
Di balik empat huruf yang membentuk nama kepribadian itu, aku menemukan sunyi dan keberanian yang tumbuh perlahan bersama kedewasaanku. Melalui halaman-halaman diary juga, kurawat cemas yang menua, membisikkan rahasia, dan belajar mencintai diri yang rapuh dan pura-pura bahagia. Ini adalah kisahku, kisah tentang seorang introvert yang mencoba berdamai dengan gelap, merapikan hati dengan tinta. Dan menemukan cahaya dalam keheningan yang paling pribadi, tersembunyi dalam sosok yang penuh luka dan air mata.
#Gerimis_Jun26_01 #Gerimis30hari

Komentar