Langsung ke konten utama

Gerimis 30 Hari_Juni 2026


 

W : Writer’s Block


Di hari ke-empat saat bercerita mengenai antologi-antologi ku, aku sempat bilang bahwa terkadang setelah karaokean lagu dari penyanyi favourite aku mendapatkan inspirasi untuk kembali berkarya. Biasanya aku baca lirik dan memahami makna lagu yang ku nyanyikan kemudian mulai menulis sesuai tema yang diminta. Dan terkadang pula secara kebetulan antara draft yang ku ketik dengan lagu yang baru ku nyanyikan dengan suara sumbang ku ini memiliki alur cerita yang hampir sama.


Selain karaokean, adaptasi lingkungan agar tidak mengalami writer’s block ala-ala ku adalah dengan drakoran :-D. Drama korea yang membuatku kembali semangat adalah hospital playlist, dimana aku bisa melihat kisah persahabatan dan percintaan dewasa di tengah sibuknya pekerjaan. Aku bisa mengulang series medis itu hingga puluhan kali, sampai beberapa scene dialognya ku hafalkan :-D


Sebagai penulis, ketika nonton drakor aku tidak hanya menjadikannya sebagai hiburan. Namun, aku selalu melihat quote manis yang kadang diselipkan. Semua itu bisa ku jadikan bahan tulisan. 


Ya, aku adalah seorang perempuan (yang mengaku) manis, suka kebelet pipis, punya kesabaran tipis, hobby menulis, menangis, dan makan gratis. Sedang mengusahakan mempunyai karya (buku) solois. Alhamdulillah hingga tulisan ini dibuat, sudah berhasil menerbitkan 25 buku antologi berbagai tema yang semuanya bisa dibaca di blog (silahkan mampir, kakaaak) secara gratis. Sudah tiga tahun ini bertransformasi dari penulis diary jadi penulis antologi dengan genre romantis dan sadis. Suka rewatch drakor Hospital Playlist untuk mengembalikan mood menulis.


Kalau teman-teman apa yang dilakukan saat writer’s block melanda? Apakah karaokean dan drakoran juga?


#Gerimis_Jun26_08 #Gerimis30hari @gerimis30hari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...